Legenda Raja Abadi

Legenda Raja Abadi
Bebas


__ADS_3

"Paman Mubai aku akan meninggalkan paviliun beberapa hari ke depan, tolong urus segala permintaanku ya selama aku pergi." Mao Yu menyerahkan sebuah kertas berisi to-do-list kepada Shen Mubai.


"Tentu." Shen Mubai setuju.


Setelah keluar dari gerbang kota kekaisaran. Mao Yu menghilang ke udara, berkelabat menyatu dengan angin secara cepat menuju arah timur. Tepatnya hutan timur lokasi pertambangan Klan Mo berada.


Seperti biasa dengan Soul Cloak dia melintasi hutan hingga sampai pada mulut gua. Seluruh camp tetap dalam keadaan damai, tak ada satu pun gerakan mencurigakan terdeteksi.


Mao Yu melangkah ke dalam gua pertambangan cukup dalam hingga dia menampakkan dirinya di depan orang yang sedang beristirahat dari kerasnya pekerjaan menambang.


"Apakah benar-benar melelahkan? Atau pura-pura lelah?" Mao Yu membangunkan pria itu


Pria itu membuka matanya, menatap seorang pemuda berpakaian hitam di depannya.


"Siapa kamu ?" Dia bertanya dengan waspada. Dia meluaskan wawasannya pada pemuda di depannya. Namun tak menemukan jejak kultivasi sama sekali. Dia heran, bagaimana bisa seorang fana berada di sini kecuali dia pekerja tambang atau mungkin dia seorang ahli.


"Sebaiknya kamu pulang, Bibi Hwa sekarang sedang sibuk-sibuknya mengurus kedai." Mao Yu memberi saran.


"Oh, apakah kamu Tuan Muda yang disebutkan oleh Shen Yangxuan?" Paman Hwa bertanya.


"Ya, Itu aku." Mao Yu menjawab.


Paman Hwa lantas menunduk dengan tulus menyampaikan terima kasih telah menjaga istrinya. Bahkan membantu meningkatkan nilai kedainya.


"Aku adalah menantu keluarga Hwa, Sebenarnya aku berasal dari Wilayah Gurun Dewa. Aku sejak remaja diutus oleh Kepala Sekte untuk memantau wilayah ini. Di kala itu beliau menemukan gulungan kuno dari reruntuhan yang menunjukkan tepat di wilayah kota kekaisaran ada misteri besar yang terpendam." Paman Hwa bercerita.


"Hingga akhirnya aku menjadi dewasa dan berkeluarga segalanya tampak normal dan tidak ada tanda tanda yang disebutkan dalam gulungan. Namun beberapa bulan yang lalu aku seperti diingatkan pada tujuan kenapa aku berada di kota kekaisaran." Paman Hwa melanjutkan.


"Sebuah tambang jade kristal telah ditemukan. Aku rasa ini adalah saatnya aku menjalankan tugas utamaku. Aku berniat bekerja sebagai buruh lepas, namun tragedi Tuan Muda Ketiga Klan Mo mengirimkanku lebih cepat ke sini." Paman Hwa tidak berniat menyembunyikan apa pun di depan seorang ahli.


"Apakah Bibi Hwa mengkhawatirkanku? jujur hingga sampai hari ini aku merahasiakan statusku." Paman Hwa berkata dengan nada menyesal.


"Tentu, Bibi sangat mengkhawatirkanmu. Namun aku melihat dari relung mata terdalamnya dia sangat percaya dan sangat yakin padamu." Mao Yu menjawab dengan tersenyum.


"Oh sungguh gadis bodoh. Dia dari dulu selalu seperti itu kepada aku pria tak berguna ini," Tak sengaja Paman Hwa meneteskan air mata. Dia sangat melankolis.

__ADS_1


"Paman segeralah keluar dari sini. Paman tidak akan menemukan apa-apa di sini." Mao Yu memberikan saran.


"Baiklah." Paman Hwa menyeka wajahnya. Kemudian merunduk memberi ucapan salam berikut terima kasih yang mendalam pada Mao Yu.


Saat kepalanya tegak kembali. Mao Yu sudah tak lagi berada di depannya, dia telah menghilang.


***


Di depan telaga yang tenang Mao Yu melempar batu secara acak ke permukaannya. Kemudian dia menyelam.


Di dalam goa tersembunyi, Dia melihat Shen Mubai sedang dalam keadaan tenggelam dalam wawasan kultivasinya. Mao Yu melihat Shen Mubai akan menerobos ke ranah kasaya emas tahap tiga. Suatu pertumbuhan yang sangat cepat di dunia Mao Yu ini.


Dia memperhatikan sulur pada meridiannya tumbuh subur dan menebal. Denyut energinya memberikan arus seperti ombak besar yang datang bertubi tubi membasuh seluruh jalur meridian. Mau tak mau Mao Yu harus kagum dengan konstitusi yang dimiliki Shen Mubai.


Di tanah suci ini adalah berkah yang sangat nyata. Mereka menyebut konstitusi ini sebagai Fisik Sulur Banteng Surgawi.


Mao Yu tidak mau mengganggu, dia meletakkan sebuah cincin penyimpanan berukuran sedang di samping Shen Yangxuan. Berisi segala macam perbekalan yang dia minta kepada Li Hua untuk belanja kemarin pagi.


Mao Yu melanjutkan langkah hingga ke celah sempit.


***


Kera yang hampir tak memiliki rambut di tubuhnya menyambut kedatangan Mao Yu dengan histeris. Mao Yu acuh dan tanpa basa basi langsung mendekatinya.


"Kamu kembali lagi, apakah kamu berubah pikiran?" Kera bersuara dengan nada serak dan berat.


"Kamu termasuk golongan yang banyak bicara." Mao Yu menyeringai.


Kera melompat lompat ke sana kemari di dalam sel kurungannya. Menunjukkan bahwa dia sangat tidak setuju dengan ucapan Mao Yu.


"Aku akan mengosongkan tempat ini, ini adalah kesempatan terakhirmu. Setelah ini tak akan ada lagi yang berkunjung." Mao Yu berkata dengan dingin.


"Kamu sanggup menghancurkan dinding ini ?" Kera memiringkan kepala, penasaran dengan ucapan Mao Yu.


Kera membuat aksi memukul mukul dinding tak terlihat di depan Mao Yu, Tiap pukulannya tak membuatnya bergeming sama sekali, hanya menyebabkan riak seperti gelombang air.

__ADS_1


"Kebebasan, itu mudah." Mao Yu menjawab dengan singkat.


Soul Blend...


Mao Yu mengarahkan telapak tangannya pada dinding sel yang lain tepat di depan sel kurungan milik kera. Dinding kaca meringsut dengan cepat hingga akhirnya pecah menjadi serpihan berkeping-keping.


CHAAAA......


Melihat dinding kaca hancur tercerai berai. Kera membelalakkan mata jantungnya memompa darah lebih kuat, nafasnya tersengal sengal. Dia memiliki harapan bebas, kera semakin antusias.


"Bai Kong." Kera memperkenalkan dirinya.


"Pembesar Bai, Rasmu hanya menjadi umpan meriam saat itu." Mao Yu berkata dengan dingin.


Mendengarkan kalimat Mao Yu seperti dihantam palu godam tepat di kepalanya. Bai Kong menundukkan kepala merasa bersalah, kesedihan yang mendalam sekaligus amarah meluap bercampur aduk menjadi satu.


"Apa syaratmu? Pecundang yang kalah mengikuti kehendak sang pemenang." Bai Kong berkata dengan nada yang pasrah.


"Berikan inti binatang dewa mu !" Mao Yu membuat permintaan.


Bai Kong termenung, dengan memberikan inti binatang dewa sama saja dengan dia membunuh dirinya sendiri. Bai Kong cukup merenung dengan memejamkan mata.


"Cukup !" Mao Yu berteriak lantang.


Pisau energi tipis telah menempel pada arteri utama kehidupannya. Hanya sekali gores nasib Bai Kong akan melayang. Suara Mao Yu menyadarkan dia tepat pada waktunya.


"Jadilah budak pengikutku. Tebus kesalahanmu dan jadilah cakarku untuk mencabik surga." Mao Yu berkata langsung kepada jiwa Bai Kong.


Menerima mandat langsung ke dalam jiwanya membuat Bai Kong bergetar ketakutan dan berkeringat deras bagai peluru. Bai Kong langsung ambruk bersujud di hadapan Mao Yu.


Mao Yu membuat mudra rumit dengan kedua tangannya. Sebuah rantai jiwa membentuk rune berwarna keperakan melesat menembus dinding kaca dan terus melaju menuju jiwa Bai Kong dan meninggalkan tanda di sana.


Mantra Segel Dewa Surgawi, Bai Kong tergagap dengan matanya terpejam semakin dalam. Mantra perbudakan kelas wahid telah dicap padanya. Bai Kong sadar setelah ini tak ada yang bisa dilakukan lagi selain mengikuti seluruh kehendak pemuda di depannya.


"Hamba adalah garda depan Yang Mulia, Sebutkan nama musuhmu, cakar ini akan mencabik-cabikkan untukmu !" Bai Kong berkata dengan penuh loyalitas.

__ADS_1


__ADS_2