Legenda Raja Abadi

Legenda Raja Abadi
Daun


__ADS_3

Para tamu sangat bersyukur mereka dapat menikmati air suci yang sangat langka.


Namun kini mereka semua merasa sakit hati saat ada kura-kura muncul dari kedalaman danau. Kura-kura itu merangkak ke bebatuan dan dengan asik mandi di bawah kucuran air suci.


"Hahaha, dia Tan Kecil. Dulu aku membelinya sebesar jari jempol. Tak kusangka tidak ada sebulan sudah selebar punggungku." Mao Yu memperkenalkan peliharaannya.


Jelas bos, dia berkubang di air suci. Tetua menggumam dalam hati.


Penatua memperagakan lambaian kode kode dan isyarat untuj memaksa kepala sekte untuk meminta air suci dari Mao Yu.


Pada mulanya Lo Hua enggan. Namun setelah banyak suara makin ramai di pikirannya dari telepati semua tetua. Dia sangat pusing.


"Ehm, tuan muda... Bolehkah kami membawa satu botol air untuk dibawa pulang? Siapa tahu nanti kami kehausan di tengah jalan. Hahaha..." Lo Hua memberanikan diri.


Sejujurnya dia sangat malu dan enggan mengatakan ini.


"Walahh, Sudah kubilang. Itu kan hanya air. Ambillah sesuka kalian, mata air toh tidak akan habis." Mao Yu tertawa.


Semua tetua terkejut. Mereka mengeluarkan berbagai macam benda yang dapat menampung air dari penyimpanan. Cawan, vas, botol, timba, ember, helm besi bahkan tong.


Para tetua berlarian berebut tempat pertama untuk mengambil air suci. Mereka royokan seperti anak kecil berebut permen. Mereka lupa kalau umur mereka sudah ratusan tahun.


Lo Hua " ... "


***


Setelah rombongan Lo Hua berpamitan. Kini kakak beradik Zhao yang tiba.


Mereka berdua sangat ceria dan senang sekali melihat bangunan tuan muda di sekitar pohon willow yang rindang berjajar sebelahan dengan danau besar.


Mereka berdua tak henti-hentinya memuji pemandangan sederhana namun indah di mata.


Tak lama kemudian Zhao Ren memamerkan kepada tuannya kini dia sanggup menghunus pedang besarnya.


Walau agak kesulitan mengontrol, itu sudah kemajuan besar. Mao Yu memuji prestasi Zhao kecil ini.


Kakaknya Zhao Ya juga tak mau kalah. Dia memainkan gerakan dengan tombaknya. Sangat anggun, indah namun mematikan. Mao Yu melihat langkah Zhao Yan sebagaimana burung bangau sejati.


Ketiganya berada di kisaran umur yang tidak jauh. Mereka terlihat sangat akrab sebagaimana terlihat sebagai hubungan pertemanan.


Saling bercerita, saling bercanda dan tertawa terbahak bersama-sama.


***


Di dunia keenam seorang pria tua terbangun dari meditasinya. Rambut dan jenggotnya panjang memutih. Bahkan alisnya pun ikut memanjang dengan warna serupa.

__ADS_1


Di dunia kesembilan seorang wanita paruh baya melesat terbang keluar dari gugusan bangunan yang indah. Bangunan tersebut berada di sebuah pulau mengapung di atas langit.


Keduanya merasakan hal yang sama. Denyut lemah sebuah energi yang sangat aneh. Mereka segera menuju sumber energi di dunia pertama.


Keduanya tiba bersamaan dan bertemu di sebuah savana luas. Mereka memandang sebuah pohon besar dari kejauhan.


"Tuan Ji, tampaknya keberuntungan 4.000 tahun yang lalu mengantarkan kita berdua di sini saat ini." Wanita paruh baya berkata pada tua di sampingnya.


"Itu adalah reruntuhan yang berbahaya. Kita dapat melaluinya bersama dan memenangkannya dari ribuan ahli lainnya." Tua Ji mengingat.


Kala itu dia bersama Nyonya Han bekerjasama untuk menjelajah sebuah makam seorang leluhur.


Mereka saat itu harus menghadapi berbagai macam bahaya alam dan jebakan. Ditambah mereka juga harus bersaing melawan sekte kuat lainnya yang turut berkompetisi.


Untungnya kerjasama mereka mengantarkan keduanya menuju perbendaharaan leluhur yang meninggal.


Selain mereka membagi kekayaan mereka juga membagi sebuah harta istimewa dari makam leluhur. Selembar daun seukuran kuku kelingking.


Mereka membagi dua daun, hingga kini berkat daun tersebut keduanya mengangkat nama mereka berikut sekte menuju kemuliaan.


Nama mereka akan membuat langit bergetar jika disebutkan.


"Sekilas pohon di sana memancarkan denyut yang sama." Nyonya Han mengisyaratkan.


Penghinaan terhadap kesucian benteng akan dibayar dengan darah dan pemusnahan total.


"Sangat arogan. Bangunan masih bau getah kayu, ini baru saja dibangun." Tua Ji berdeham dengan sedikit keberatan.


"Pemainan anak-anak. Jangan dipusingkan, jika tiap hal remeh seperti ini kau masukkan hati. Lihatlah kamu sekarang jadi sangat tua."


"Lihatlah aku, pikiranku positif dan aku masih sangat jelita. Ohohoho..." Nyonya Han menohok teman lamanya.


Tua Ji " ... "


Bodimu kendur semua Bu. Dasar nenek tua bangka yang sok pede. Tua Ji membatin.


Mereka menggunakan langkah biasa hingga tiba di dekat pohon willow. Di sana trio yang sedang bersenda gurau terpaksa menghentikan aksi bermainnya dan menyambut dua tamu yang datang.


Setelah bertukar salam, mereka saling mengenalkan diri.


Zhao bersaudara sungguh keget dengan asal muasal dua tua di depan mereka. Di depan mereka ini ahlinya ahli dari sekte terkemuka. Mereka tak henti-hentinya kagum.


Melihat tiga muda dengan kultivasi sangat rendah Tua Ji segera menghela nafas. Ah benar kata Nyonya Han. Mereka sedang menggunakan waktu luang di kala muda untuk bermain mendirikan sekte.


Namun intuisi mereka berdua sangat yakin. Aura samar-samar dari pohon willow serupa dengan daun kecil yang mereka temukan di makam ahli.

__ADS_1


"Kami ke sini karena sebuah alarm yang penting. Kami kira kami akan datang ke sebuah makam atau dimensi berbahaya. Ternyata sumbernya dari sini." Tua Ji berusaha bersikap ramah.


"Kompas kalian rusak. Kalian nyasar." Mao Yu berkata acuh.


Tua Ji muntab amarahnya mendengar perkataan Mao Yu. Meledakkan menjadi debu hanya dengan kehendaknya sudah cukup mampu. Kedua tua merasa tersinggung dikatai kompas rusak.


Ini berarti sama saja dengan menyinggung kemampuan persepsi mereka. Bagaimana ahlinya ahli bisa slewah dalam menilai sebuah getaran medan energi. Ini bagi mereka adalah mainan anak-anak.


"Kalian mencari daun begitu jauh hingga bertaruh hidup dan mati. Bukankah itu jauh lebih konyol lagi." Mao Yu lebih tajam perkataannya.


Bah, sekarang Tua Ji sudah murka. Akal sehatnya sudah ndak jalan.


Semenjak panen harta di makam ahli. Tak satupun berani menghina dia. Sekarang bagaimana pemuda fana ini sangat berani berulah di hadapannya.


Ketika dia hendak mengucapkan kehendak pemusnahan pada pikirannya. Dua daun segar dari pohon willow jatuh di depan mereka berdua.


Seketika mereka berdua menangkapnya secara refleks begitu saja.


"INN IIINNNNNIIIII...... "


Keduanya meloncat satu meter ke belakang.


Keduanya bergetar dengan saling pandang. Mereka tidak asing dengan bentuk dan rupa daun di tangan mereka berdua.


Sontak keduanya melihat ratusan ribu dedaunan yang sama di atas pohon. Kaki mereka langsung lemas.


Mereka tertunduk tak berdaya dengan seluruh badan bergetar lebih hebat.


Mereka melihat ranting pohon willow bergoyang-goyang diterpa angin. Mereka melihat dalam bayangan pemikiran. Sekte mereka hancur lebur dalam satu goyangan sebuah ranting paling kecil.


Sedangkan pada goyangan kedua, mereka menyaksikan sekte dicabut dari akarnya.


Angin berhembus lebih kuat. Menyadarkan dua tua dari bayang-bayang pemikirannya.


Zhou bersaudara segera berlari menghampiri dua tua. Mereka membantunya bangun dan mengantarkan duduk di kursi.


Kini mereka berjalan dibantu persis seperti orang tua beneran. Mereka melangkah dengan kesulitan seolah-olah bisa jatuh kapan saja.


Kini mereka berdua duduk persis di bawah pohon. Mereka melihat ranting melambai-lambai. Mereka merasakan kesemutan dari kepala hingga menjalar ke seluruh badan.


***


Ilustrasi pohon willow :


__ADS_1


__ADS_2