Legenda Raja Abadi

Legenda Raja Abadi
Mandat Agung


__ADS_3

Di sebuah teras pagoda di lantai tertinggi. Yang menonjol di antara hutan yang sangat lebat. Dua gadis jelita saling bergosip dengan riang dan sangat ceria.


Dari obrolannya mereka tampak seperti saudara yang sangat dekat.


“Tidakkah kakak ingin sekali keluar dan melihat dunia? Sangat lama... Aku taku kakak akan terkejut dengan perubahan di dunia luar.”


“Hahaha... Apanya yang berubah? Dunia tetaplah sama bentuknya. Berhentilah menggodaku untuk kabur. Aku akan tetap di sini.”


Kemudian mereka berdua tertawa...


Dua kecantikan menggulingkan istana atau menggulingkan entah apapun istilahnya. Pokonya mereka adalah bintang dari segala kecantikan.


Bintang Kejora yang membuat bintang lain malu bersinar. Bahkan rembulan harus pamit mengundurkan diri dalam ketiadaan saat kejora mulai nampak.


Ini bukan satu bintang kejora. Tapi dua bintang kejora.


Mata kiri melihat satu kejora, mata kanan melihat satu lagi kejora.


Maka bukan lagi kaisar akan melupakan urusan istana sehingga rusak negara, runtuh kekaisaran. Tapi kecantikan ini merobohkan jiwa.


Gadis manis dengan pakaian biru cyan. Perilakunya sangat feminim rambut panjangnya dengan jepit burung berekor lima menjuntai terlihat sangat adil. Lesung pipi mungil saat senyumnya merekah. Menambah kesempurnaan dirinya.


Dia adalah Gadis Pendeta Pegar Suci.


Sementara satunya adalah gadis dengan tubuh menantang, berpakaian coklat tua kemerahan. Seperti mawar dengan kelopak yang padat disertai duri tajam yang dapat menembus daging hingga tulang.


Pembawaanya tegas namun selera humornya juga tinggi. Satu kedipan mata akan membuat orang satu negara melupakan istri istri mereka.


Dia adalah Putri Mawar Bersinar.


Saat keduanya tengah tenggelam dalam percakapan yang sangat menarik, muncul pemuda dengan membawa sebuah baki berisi poci dan cangkir teh.

__ADS_1


“Salam, Lady Xia He dan Lady Wang Jiao...”


“Chen Li, kenapa kamu begitu formal...” Xia He menggeleng gelengkan kepalanya.


“Karena aku di hadapan putri utama Klan Wang, aku harus menempatkan diriku di tempat yang seharusnya.”


“Duduklah...” Wang Jiao menyambar baki yang dibawa Chen Li. Xia He segera menarik lelaki ini dan memaksa duduk bersama dengan mereka.


“Bergosip dengan tiga orang jauh lebih baik daripada hanya dua orang saja, hahaha...” Wang Jiao berkelakar.


Kemudian percakapan makin hebat diantara majelis itu. Hanya saja Chen Li sedikit canggung pada awalnya. Lama kelamaan pun dia terbawa juga dengan situasinya.


Mereka bertiga tertawa terbahak-bahak bersamaan.


Xia He adalah primadona dunia keempat. Pria yang mendekatinya seperti laron yang berkumpul pada sebuah lampu saat malam hari.


Bahkan kekuatan besar pun sangat iri atas kedekatannya pada Klan Wang. Seluruh kekuatan membenci keberuntungan Klan Wang.


Sungguh para ahli mencibir Klan Wang. Betapa beruntungnya mereka saat ini berada dalam bawah pengaruh kekuatan Xia He.


Klan Wang sampai hari ini mengisolasi diri. Wang Jiao belum muncul di publik sama sekali. Orang luar hanya mendengar desas desusnya bahwa kekuatannya tak kalah dengan elit muda yang lain.


Hanya saja mereka belum melihat dan memverivikasinya dengan mata kepala sendiri.


Sedangkan Chen Li yang dulunya adalah calo tiket lelang. Dia menjadi tangan kanan Xia He serta berbagi kemuliaan pula. Meskipun kekuatannya tidak sebanding dengan para elite, posisinya sebagai asisten Xia He masih diperhitungkan oleh publik.


Di teras salah satu kediaman Klan Wang.


Wang Juemin menjatuhkan cangkir tehnya saat dia merasakan sesuatu dari jauh mendekat menuju mansion Klan wang.


Seluruh rambut tubuhnya berdiri, sekaligus seluruh badannya gemetar.

__ADS_1


Wang Juemin meningkat pesat, persepsinya sekarang pada level seperti seorang immortal. Kelebihan yang hanya dimiliki dirinya.


Dia dengan cepat mengindra ulang dan memastikan kembali siapa yang akan datang kemari.


“Mandat Agung !!!” Suara Wang Juemin menggema di seluruh area Hutan Klan Wang. Membuat semua binatang di dalam hutan diam seketika, burung pun berkibar terbang ke udara.


Menjadikan hutan sangat sunyi dan lengang seketika.


Dari meja bundar di atas pagoda. Gurauan tiba tiba berhenti begitu saja. Mereka bertiga berdiri. Mereka saling pandang dengan tatapan mata terlihat sangat serius.


Wang Du, Leluhur Kuno membuka matanya dari pengasingan di dunia abu-abu.


Tak berapa lama ribuan murid klan wang dengan baju zirah lengkap berwarna coklat kemerahan melesat dengan cepat menuju sebuah arah.


Para assasin juga menyebar menuju segala penjuru.


Patriark dan semua penatua berkumpul dengan pakaian terbaik di aula utama dengan pandangan tegang menuju Wang Ji dan Wang Kun.


Saat Wang Jiemin datang sebagai peserta yang terlambat, semua orang memandangnya dengan tidak berkedip.


Hingga akhirnya Wang Juemin memberikan anggukan kecil sebagai tanda konfirmasi atas dugaan semua hadirin.


Hadirin mendapati jantung mereka berdegup lebih kencang dari biasanya. Beberapa sedikit gemetar. Beberapa menyembunyikan getaran dengan tangan yang mengepal erat.


Wang Jiao, Xia He dan Chen Li memasuki aula utama dan segera bergabung dengan lainnya.


Mereka semua merasakan perasaan yang sama. Takutkah? Khawatirkah? Gelisahkah?


Seluruh murid di area mansion dalam keadaan bersiaga. Semua dengan zirah tempur dengan membawa senjata lengkap. Mereka berbaris dengan rapi di sebuah alun-alun raksasa.


Kereta-kereta perang telah muncul dengan berbaris rapi di suatu area.

__ADS_1


Hari ini Klan Wang memiliki cuaca yang sangat tegang. Para murid memiliki butiran keringat pada masing-masing dahi mereka.


__ADS_2