Legenda Raja Abadi

Legenda Raja Abadi
Hobiku Berenang


__ADS_3

Wei Lan sangat antusias dengan kedatangan kapal ini. Sebagai bagian dari Benteng Tua Leluhur dia sangat bangga. Dia pagi ini telah melihat berbagai tokoh Benteng Tua Leluhur di mana tidak semua murid benteng bisa mendapatkan kesempatan ini dalam sehari-hari.


Tokoh-tokoh dari atas kapal mulai turun dan berjalan mendekat kepada kerumunan. Mereka dengan langkah mantap menuju kursi Mao Yu.


“Salam Hormat, Salam kami kepada Tuan Mulia. Tuan Muda penguasa dunia, Perobek dunia dan Pencakar Surga !!!”


Pasukan Benteng Tua Leluhur membungkuk dengan hormat.


“Ah, Ha? Kalian, siapa yang mengajari salam yang begitu lebay?” Mao Yu mengerutkan keningnya.


Pria paruh baya berdiri paling depan yang sangat kharismatik mengambil langkah maju dengan berani hingga tiba di depan Mao Yu.


Mao Yu memandang matanya dengan tajam. Sementara pria kharismatik menundukkan kepalanya sesaat setelah terjadi kontak mata.


Dia langsung roboh dan bersujud di depan Mao Yu.


IIIIIINNNNNN IIIINNNNNNNIIIIIIIIIIIII................


“Sang Utama dari Benteng Tua Leluhur, Tuan Besar Li Hua.” Wei Lan berseru.


“Jadi mereka adalah eselon Benteng Tua Leluhur dari dunia pertama.”


“Astaga, ternyata Benteng Tua Leluhur berada di bawah binaan pakarnya.” Pengikut Lei Teng segera menyimpulkan.


“Bangkit, lama tak jumpa Li Hua.”Mao Yu menyapa.


Li Hua segera bangkit dengan senyum bahagia.  Satu satunya hal yang dia inginkan dan rindukan adalah bersama Mao Yu dan melayaninya sepanjang hidupnya.


Dia tak banyak berkata kata. Rasa haru menjumpai tuannya sudah cukup menjawab segalanya.


“Jing jun dan An Ming, bagaimana kabar kalian?”


“Seperti yang anda lihat, kami sangat jauh lebih baik.” Keduanya menjawab bersamaan.


“Kalian tumbuh terlalu pesat rupanya.” Mao Yu pun turut senang atas pencapaian keduanya.


“An Ming, Regumu sudah siap kan?” Mao Yu bertanya kembali.


“Kami tidak mengambil sedikitpun cuti selama anda pergi. Latihan dan kerja keras adalah pekerjaan kami. Sebagai andalan benteng nomor satu, anda tak akan kecewa.” An Ming membanggakan diri.


“Hahaha... Begitulah seharusnya.” Mao Yu puas.

__ADS_1


“Sarapan telah disiapkan. Mari ngobrol sambil kita makan.” Mao Yu mengajak untuk bersantap.


Tanpa menunda semua pihak mengambil tempat duduk di meja jamuan. Mereka mulai mengobrol ringan sebelum acara dimulai.


NGGGGOOOOOORRRRRRRR....


NGGGGOOOOOORRRRRRRR....


NGGGGOOOOOORRRRRRRR....


Kepakan besar berwarna putih terbang berputar di angkasa. Binatang iblis lain seperti burung mengepakkan sayap hingga mendarat di samping perjamuan.


Seorang pemuda berpakaian putih dengan topi bambu lebar meloncat turun dari punggung binatang iblis.


“Chen Dewei, Kamu sedikit terlambat.” Li Hua menyapa dengan senyum.


“Salam Tuan Yang mulia.” Chen Dewei terlebih dahulu menyapa Mao Yu.


“Kebajikan mewarnai kehidupanku. Aku melihat paman ini selamat dari tenggelam di danau. Aku menolongnya. Hidup penuh kebaikan dan karma akan menjawab keadilan.” Chen Dewei berkhotbah.


Seluruh pasang mata di meja perjamuan melihat sosok yang tergeletak dengan tatapan enggan di atas punggung binatang iblis angsa.


Paman Ketiga Cheng An !!!


“Paman...” Cheng An memandangi pamannya dengan mata berkaca kaca.


“Ah, ada yang sakit. Kalian tak bersama Lin Fan. Dia sangat bagus untuk merawat orang.” Mao Yu bertanya.


“Ahahahaha.... Tidak, hanya kita saja yang datang menuju lokasi ini. Beberapa orang menuju lokasi lain.” Li Hua terkekeh-kekeh.


Menggunakan Lin Fan untuk merawat orang sakit? Hiii.... Chen Dewei kembali teringat masa lalunya dulu. Dia sedikit bergidik ngeri.


“Biarkan aku yang merawatnya.” Wei Lan segera bangkit dengan senyum misterius dan mengurus paman ketiga Cheng An.


NGGGGOOOOOORRRRRRRR....


Melihat danau yang luas dan indah, iblis angsa segera berlari migat migut menuju danau tanpa basa basi. Yah, sudah naluri sebagai binatang air dia tak sanggup menahan untuk tidak menceburkan dirinya. Mandi dan berenang.


“Whoa... Iblis Angsa, Tungguu....” Pengikut Lei Teng memperingatkan. Mereka khawatir Iblis Angsa akan tenggelam.


NGGGGOOOOOORRRRRRRR....

__ADS_1


NGGGGOOOOOORRRRRRRR....


NGGGGOOOOOORRRRRRRR....


Iblis Angsa mengabaikan, mungkin juga dia tidak mendengarkan.


IIIIIINNNNNN IIIINNNNNNNIIIIIIIIIIIII................


“TIDAK TENGGELAM !!!”


Pengikut Lei Teng shock. Mereka melihat Iblis Angsa berlenggang berenang di atas permukaan danau dengan sesekali mencelupkan kepalanya.


Pengikut Lei Teng saling pandang “ ... “


Benar-benar aneh, Iblis Angsa satu satunya yang bisa seperti ini dalam sejarah. Mendapat pengecualian untuk stay aman di danau.


Entahlah, dia adalah bagian dari Benteng Tua Leluhur yang tak dapat diremehkan. Anomali seperti ini bisa saja terjadi. Mereka segera berdamai dengan pemikirannya masing-masing.


“Chen Dewei, kemari dan duduklah. Kita makan dulu semuanya. Mari...” Mao Yu memulai acara santap pagi bersama.


Riuh di meja makan dengan aktifitas yang sangat hidup dan terpancar rasa kebahagiaan dilihat Gadis Api dari balik ventilasi ruang tahanan.


“Benteng Tua Leluhur?” Dia menggumam.


Pengikut Lei Teng tak kuasa menahan haru. Mereka kini bersantap dengan ikan langka danau perak dengan bumbu garam kristal utama.


Mereka makan sambil sesenggukan. Rasa nikmat luar biasa sepanjang hidup mereka rasakan pada pagi hari ini.


Mao Yu meletakkan garpunya.


“Pertahankan tempat ini karena tempat ini akan menjadi sangat ramai dalam beberapa hari ke depan.” Mao Yu berkata.


Semua peserta jamuan memandang Mao Yu dengan fokus mata maksimal. Semuanya mengangguk.


Jauh di dasar danau perak yang gelap. Di dalam sebuah bilik tersembunyi. Sepasang mata terbuka dengan berwarna merah menyala. Sosok itu bersuara dengan parau.


“Begitu banyak jiwa yang tenggelam...”


“Begitu banyak jasad yang datang..."


“Satu orang lolos dariku...”

__ADS_1


“Sial apa itu ??? Ah, ada bebek berenang !!!”


__ADS_2