
“Lapor komandan utama, penyusup tak ada yang kembali menuju camp kita.” Petugas melaporkan.
“Jangan kirim penyusup lagi. Selalu tak ada kabar bagus tenrkait penyusup, pengintai dan assasin.” Dia menjawab.
“Bagaimana kita mengetahui pergerakan lawan tanpa petugas pionir dan pathfinder?” Tetua ke-21 keberatan.
“Musuh kita tidak pergi ke mana mana.” Komandan utama menjawab ketus.
Memang benar, jika Klan Wang takut dan hilang nyali. Mereka akan segera cabut dan hengkang jauh jauh. Faktanya Klan Wang tetap dalam posisi semula berada di camp nya.
Ini membuktikan Klan Wang siap bertempur dengan segala apa pun konsekuensinya.
“Lapor komandan utama, setiap berita yang kami kirimkan ke Sekte Api Phoenix tak kunjung mendapat balasan dari sana. Komunikasi kita terputus.” Petugas lain mengabarkan.
Komandan utama duduk dengan santainya. Gelas anggurnya bergoyang dengan irama monoton.
“Kita tidak membutuhkan komunikasi, ini adalah pertempuran sepihak. Ini adalah pembasmian yang jelas kepastiannya.” Komandan utama menuangkan anggur pada gelas kristal.
“Kapan kita bergerak?” Tetua ke-21 bertanya.
“Santai. Untuk apa terburu-buru saat kemenangan sudah pasti di tangan kita.” Tetua ke-30 meremehkan.
Sementara di pihak Klan Wang.
Meskipun kondisi para prajurit sangat tegang. Mereka sangatlah memiliki keyakinan mutlak akan adanya dukungan dari Benteng Tua Leluhur.
Bagaimana pun juga secara perimbangan kekuatan. Menghadapi sepertiga kekuatan Sekte Api Phoenix yang dipimpin tetua ke-30 bagi Klan Wang merupakan tindakan bunuh diri.
Boleh jadi korban jatuh dari kedua pihak. Namun pada akhirnya kekuatan penuh Klan Wang melawan sepertiga kekuatan Sekte Api Phoenix.
Untuk jangka panjang sangat tidak menguntungkan.
“Bergerak hanya jika ada perintah...”
“Bergerak jika ada angin berhembus...” Patriark Wang Ji menutup pidatonya di depan seluruh pasukan.
__ADS_1
Tidak ada kata URRAAAA....
Semuanya berfikir sangat logis, karena tidak ada peluang menang Klan Wang pada pertempuran ini.
Apakah mereka kecil nyali? Apakah mereka pesimis?
Tidak, mereka hanya berfikir rasional.
Para pengamat datang dari segala penjuru tak mau melewatkan perhelatan langka seperti ini. Bahkan beberapa sarjana siap dengan perkamen dan kuas tinta.
Menulis sejarah dunia keempat untuk diceritakan kelak pada generasi masa depan.
Mereka datang seperti semut yang mengerubungi madu. Mereka terbang bergerombol seperti capung.
Mereka menyaksikan dari jarak yang sangat cukup. Dengan sebuah etika utama, yaitu tanpa memperlihatkan senjata. Jika ada pengamat dengan senjata terhunus atau senjata di pinggang.
Niscaya pasukan pengintai Klan Wang maupun Sekte Api Phoenix akan menghampiri untuk mengantarkan pada Dewa Yama.
Ini adalah etika umum sebagai pengamat.
Dia datang secara pribadi bersama dengan lima kompi pasukannya.
“Turunkan busur kalian dalam hitungan lima detik. Atau menanggung konsekuensinya.” Dia menghardik.
“Paman tidak perlu berlebihan.” Gadis Api menyahut.
“Kamu tuan puteri, maaf saya terbakar emosi sehingga terlambat mengenali anda. Apakah mereka adalah bawahan anda?” . Tetua ke-29 bertanya. Dia menurunkan nadanya untuk menaruh sikap hormat pada putri patriark.
“Bukan, kami baru saja bertemu.” Gadis Api menjawab.
“Baiklah, puteri. Beri jalan untuk diri anda sendiri. Aku harus membasmi kerumunan ini.” . Tetua ke-29 sangat tegas.
Gadis Api hendak mengatakan sebuah kalimat, namun Li Hua menahannya.
“Sebagai seorang pendatang yang baik kepada kami. Turunlah dari penerbangan, sapalah kami dengan baik dengan rasa hormat di atas tanah.” Li Hua berkata.
__ADS_1
Tidak ada hujan maupun badai baik Tetua ke-29 beserta seluruh pasukannya turun dengan perlahan hingga menjejakkan kakinya di tanah.
Mereka berjalan dan memberi salam kepada Li Hua dengan hormat.
“Tidak baik mengancam orang tua sepertiku dengan kematian. Aku pun terlihat sangat tua bukan, tak perlu kalian menghukumku dengan mati. Waktu sendiri yang akan mengambilku.”
Tetua ke-29 dan pasukannya menundukkan kepala. Mereka seperti dimarahi oleh leluhur utama.
“Kami akan menebusnya leluhur, tolong ampuni kami.” Tetua ke-29 tertunduk lesu.
“Akhiri...” Li Hua berkata singkat.
IIIINNNNN IIIIIINNNNNNNNNNNIIIIIIIIIIIIIIIII.............
Lei Yi menutup mulutnya yang bengong dengan kedua tangannya. Demikian juga dengan Nian dan Gadis Api.
Mata mereka tak mau berkedip menyaksikan apa yang baru saja mereka lihat.
Tetua ke-29 beserta pasukannya memotong sendiri urat kehidupannya. Mereka longsor ke tanah secara bersamaan dalam keadaan tak bernyawa.
Hanya dengan satu kata dari orang paruh baya yang mereka ikuti.
Para pengamat di sekitar yang merekam pemandangan ini terhenyak dengan rasa terkejut luar biasa.
Mereka diam seribu bahasa, tak ada yang berkomentar dan berani bersuara. Mereka juga dihinggapi oleh rasa takut dan teror.
Pria paruh baya yang memerintah dengan satu kata kematian itu sangat berbahaya.
Ya, sangat berbahaya.
“Paman, reguku dalam gerilya telah membasmi seluruh pasukan pengintai Sekte Api Phoenix. Tiga Gou juga demikian mereka bersamaku menghabisi semuanya.” Fang Yi berkata.
“Satu lagi tugas untuk kalian...” Li Hua bergumam.
“Iya, Kami tak akan berkedip saat waktunya.” Fang Yi berkata dengan serius.
__ADS_1