
Sepandai-pandainya menyembunyikan bangkai, bakal tercium juga bau busuknya.
Ini pepatah yang sekarang berlaku bagi Klan Xin.
Pagi sebelum matahari meledak di ufuk timur, seorang pria tua kurus berlari dengan menahan napas di dadanya sampai dia memasuki sebuah kedai di jalan utama ibukota pusat.
Meskipun pagi masih sedikit gelap, beberapa pelanggan sudah mengambil tempat duduknya masing-masing. Mereka menyaksikan pak tua masuk terburu-buru dengan menggos-menggos nafasnya.
"Pak Tua, kamu sedang berolahraga marathon atau sedang dikejar hantu. Pagi-pagi sudah bermandi peluh." Salah seorang pengunjung menyambut kedatangan pak tua dengan ledekan.
Disambut tawa oleh beberapa pengunjung yang lain.
"Demi surga, apa yang kusampaikan akan membuat kalian semua pingsan." Pak tua berkata dengan serius, tapi masih dengan nafasnya yang tersengal-sengal.
"Cepat katakan Pak Tua sebelum kamu mati kehabisan napas !" Pengunjung lain tertarik dan mulai tidak sabar.
Pak Tua segera menenangkan diri. Dia memperbaiki penampilan dengan menata rambut dan merapikan pakaiannya. Dia mengambil kipas lipat dari sakunya.
"Wraakkkk.... Dia membuka kipas dengan gaya yang unik dan mulai mengipasi dirinya dengan anggun.
Transformasi besar dari rakyat jelata menjadi pendeta tao sejati.
"Pak Tua, jangan memainkan sandiwara, cepat beritahu kami apa berita yang kamu bawa !" Pria gemuk dengan gelas minuman besar sudah berada di ambang batas penasaran.
Pak Tua menyipitkan mata, dia memulai menceritakan kabar yang dibawanya.
"Kalian tahu Night Lily menutup pintu sejak kemarin pagi hingga hari ini? Apakah kalian juga tahu cabang Night Lily di seluruh benua juga melakukan hal yang sama. Mereka semua juga menutup pintu dengan erat-erat." Pak Tua memulai kalimatnya.
Pengunjung mulai berkasak-kusuk hal apa kiranya yang menyebabkan semua cabang menutup operasi dagangnya.
Mereka mulai menduga dengan asumsi-asumsi liar sesuai kemampuan berpikir mereka.
"Di hari yang sama pula Keluarga Xin yang menjadi penguasa Night Lily di benua kita juga mengunci gerbang utama mereka."
"Beberapa melihat mereka menggembok menggunakan rantai besar yang konon bisa untuk menjerat naga." Pak Tua melanjutkan.
"Pak Tua jangan membumbui dengan micin. Kami nanti menjadi bodoh karena banyak makan micin dari ceritamu !"
Pria gemuk yang memegang gelas besar menyarakan suaranya kembali. Cukup lantang disambut dengan gemuruh pengunjung lain yang berunjuk rasa.
"Ehm... !" Pak Tua berdeham. Pengunjung segera diam dan kembali fokus menatap pak tua melanjutkan menyampaikan berita.
__ADS_1
Salah satu pengunjung bahkan secara khusus fokus memperhatikan bibir pak tua. Menantikan apa kata yang akan disampaikan pak tua.
Ketika pak tua mulai membuka mulutnya jantungnya mulai berdegup tak karuan. Mulutnya ikut membuka seolah olah siap menelan kata yang dikeluarkan pak tua ini.
"Seluruh barang dagangan plus perbendaharaan Night Lily di seluruh cabang dan Perbendaharaan Keluarga Xin hilang dicuri dalam satu malam." Pak Tua menutup kipas tepat di dagunya.
Sontak kegemparan melanda seluruh ruangan kedai. Beberapa pengunjung segera berdiri memelototkan mata mereka.
Beberapa diantaranya menggebrak meja karena apa yang disampaikan pak tua jauh di luar dugaan mereka.
Mereka semua langsung berdiskusi hingga menimbulkan suara seperti kawanan lebah berdengung.
"Siapa pelakunya? Dan bagaimana dengan para penjaga ?" salah satu pengunjung bertanya.
"Benar, bagaimana mereka bisa kecolongan? apakah para penjaga semua telah dikalahkan ?" Pengunjung lain segera menimpali.
Pak Tua menyapu kedua lengannya seperti pendeta tao hendak bersembahyang. Kipas diarahkan tinggi-tinggi di langit.
Wrakkk.... Dengan gerakan anggun kipas di buka di depan wajah hingga tertutup sepenuhnya. Kipas diturunkan pelan hingga membuat mata tajam pak tua terlihat oleh seluruh pengunjung.
"Pak Tua hentikan main ludruk. Kami hampir mati penasaran saat ini." Pria Gemuk kali ini benar-benar marah. Dia membanting gelas kayu dengan kuat di meja.
"Sungguh indah dan sungguh rapi. Pencuri masuk tanpa bisa dideteksi oleh sistem keamanan dan penjaga sama sekali."
"Kalian tahu, mereka kehilangan perbendaharaan secara serempak saat rasi bintang kera muncul bercahaya di langit selatan. Itu biasanya terjadi pukul 2.00 dini hari." Pak Tua makin bersemangat.
"Korban jiwa? Hohohoho... Tak satupun darah menetes di lantai. Tidak ada korban jiwa sama sekali." Pak Tua menyelesaikan pembacaan kabar.
Sontak seluruh pengunjung terbelalak.
Mereka hampir tidak mempercayai kabar yang disampaikan Pak Tua.
Pak Tua bohong?
Pak Tua mengada-ngada?
Suasana lebih ramai dengan dengung bertambah hebat akibat kedatangan lusinan lebah lain. Orang-orang yang datang terlambat segera berebut tempat duduk.
Mereka segera memanjangkan leher dan membuka telinga lebar-lebar saat berita ini diceritakan kembali.
Semua pengunjung saling mendiskusikan apa yang sebenarnya terjadi, bagaimana nasib keluarga Xin yang angkuh, siapa ahli yang mencuri perbendaharaan mereka, dan bagaimana tentara ahli guild akan mengambi langkah.
__ADS_1
Diskusi yang benar-benar hidup dengan rasa antusiasme peserta yang tinggi. Ini kabar terbesar yang pernah mereka dengar seumur hidup.
Beberapa pengunjung lari tunggang langgang dengan menahan napas seperti yang pak tua lakukan. Mereka berlari menuju kedai yang lain.
Demikian seterusnya terjadi hingga berita ini menyebar seperti wabah yang bermula di ibukota pusat hingga menyebar di seluruh benua.
***
Li Hua dan Fang Yi mengerutkan alis menatap tuan muda mereka.
Biasanya tuan muda selalu mengenakan pakaian hitam. Kali ini tuan muda mengenakan pakaian serba putih dengan ikat kepala putih yang membentuk segitiga di dahi. Bahkan Kong Kecil juga memakai ikat kepala yang serupa.
Tuan muda akan membuat ulah apalagi kali ini. Mereka berdua saling pandang dengan bertanya-tanya.
"Apa yang kalian lihat, cepat berganti pakaian jadi putih !" Mao Yu mendengus.
Mereka berdua bingung apa yang ingin tuan muda lakukan. Mereka tak berani membantah, dalam waktu beberapa menit duo kembali dengan busana putih yang serupa dengan tuannya.
Mao Yu memberikan dupa sebesar lengan kepada Fang Yi. Memberikan mangkuk logam beserta pemukulnya kepada Li Hua. sedangkan Kong Kecil diberikan lonceng kecil oleh Mao Yu.
Mao Yu memegang kipas lipat besar, panjangnya satu lengan orang dewasa. Kipas dibuka oleh Mao Yu di sana ada tulisan kaligrafi yang memiliki arti "Kedamaian".
"Kita akan ngapain tuan?" Fang Yi bertanya dengan penasaran.
"Kita akan mengusir hantu" Mao Yu menjawab.
Duo sontak langsung menggigil dan bergidik ngeri. Hantu selalu menjadi hal yang mekutkan bagi setiap orang, termasuk bagi mereka berdua.
Dari kecil mereka kenyang dengan cerita horor tentang arwah yang merasuki orang-orang. Bahkan hantu yang menjebak dan memangsa manusia.
Hantu belum muncul di depan mereka. Namun rasa takut sudah mengangkat bulu kuduk mereka berdua.
"Tuan Muda aku ada urusan mendadak, aku lupa ada tugas dari anda yang belum kuselesaikan." Li Hua mencoba mangkir.
"Tuan sepertinya aku mendengar ada suara dari stable kuda. Ibu kuda sepertinya mengeluarkan tangis mau melahirkan anak." Fang Yi segera mengikuti langkah mangkir seperti Li Hua.
Mao Yu merengut melihat duo yang terkekeh-kekeh aneh di depannya ini.
"Kenapa kalian jadi penakut seperti ini. Aku hanya meminta kalian berdua sebagai umpan hantu." Mao Yu menyatukan alisnya.
"Umpan hantu ? Hiiii...." Duo melompat ke arah yang sama. Mereka berpelukan karena merasa ngeri.
__ADS_1