
Mao Yu berbaring di punggung kura-kura raksasa yang berjalan safari di area suci. Mao Yu memeriksa token komunikasinya. Dia mendapat pesan dari Li Hua.
Sekte Api Phoenix mengibarkan bendera Benteng Tua Leluhur di halaman utama sekte mereka…
Chen Dewei dan Jing Jun menantang murid elit Sekte Pedang Bumi, keduanya memenangkan duel hingga tak ada lagi murid yang mau melawan mereka. Sekte Pedang Bumi memasangkan matanya pada Danau Perak sekarang…
Klan Wang kembali dalam isolasi mereka…
Klan Cheng kehilangan putera patriark dan paman ketiga, klan menyelidiki ke mana tujuan terakhir mereka, tentu mereka mengunci Danau Perak. Beberapa mata-mata terbunuh oleh squad eli An Ming. Kurasa bentrok fisik akan terjadi di sini…
Terkait bibi atau nenek kapas, belum ada informasi sama sekali…
Mao Yu menutup array mini pada token komunikasi dan menuimpan kembali ke dalam cincinnya.
Dia mengambil nafas panjang dan tetap menikmati santainya rebahan di punggung Little Tan yang sedang berjalan pelan.
“Little Tan, kamu tidak ingin berkelana keluar?” Mao Yu mencoba bertanya. Namun Little Tan merespon dangan menggelengkan kepalanya.
Aku sangat suka di sini, dia mungkin menambahkan kalimat ini pada ekspresi di wajah kakunya.
“Hahahaha… Aku hanya takut nanti kamu jadi anak yang kurang pergaulan.” Mao Yu berkelakar.
Mao Yu menikmati damainya beberapa hari di area suci dengan Bibi Bu yang melayaninya dengan sangat baik.
“Cukup lama terlalu tenang di sini, aku merindukan masalah. Sekte Pedang Bumi dan Klan Cheng aku bosan dengan mereka. Biarkan Li Hua yang menangani di sana.”
“Ah ya, Zhao Ren… Bagaimana ya kabar anak itu sekarang. Dunia keenam? Mungkin aku harus berkunjung ke sana.”
__ADS_1
“Bibi Bu bagaimana dengan Lei Yi? Apakah dia membuat kemajuan besar?” Mao Yu bertanya pada udara kosong dan plop Bibi Bu berpakaian alkemis mendarat di punggung Little Tan persis sebelah Mao Yu.
“Mohohohoho… Mata anda sangat jeli tuanku tercinta. Alkemis terbaik sepanjang sejarah… Sangat tekun, sangat jeli, sangat teliti, sangat berhati-hati, sangat rapi dan sangat perfeksionis…” Bibi Bu menjawab dengan riang gembira.
“Baiklah, aku akan mengajaknya jalan-jalan di dunia keenam mungkin beberapa bulan lagi.” Mao Yu memutuskan.
“Aku ikut denganmu tuanku tersayang…” Bibi Bu merajuk.
“Bah apa aku anak kecil yang kesana kemari harus bersama dan diawasi ibunya?” Mao Yu memelototi Bibi Bu.
“Muohohohoho….”
Seorang pemuda duduk dengan perasaan frustasi di area terluar benteng. Wan Hanma si anak petani, rekrutan terakhir Benteng Tua Leluhur dengan urutan nomor satu dari bawah.
Sebenarnya dia tidak diterima, namun keberuntungan mengantarkannya ke dalam benteng. Peserta satu nomor di atasnya tewas oleh perampok sehingga namanya maju untuk menggantikan.
Sesuai prestasinya, yang terbawah dan terakhir memang berkemampuan rendah. Evaluasi murid baru akan diadakan tiga bulan lagi. Menentukan dia akan terus belajar di akademi atau dia akan dipindahkan ke divisi operasional. Menjadi buttler atau pelayan benteng.
Dia selalu berkonsultasi dengan pembimbingnya, senior dan teman-temannya. Namun saran-saran mereka tak membuahkan hasil.
Dia kali ini memaksakan dirinya berolahraga berat dengan menggendong tas besar berisi bebatuan dan berlarian di sepanjang tembok benteng bagian dalam.
Nafasnya tersengal-sengal, keringatnya membasahi seluruh pakaiannya. Dia merasa sangat lelah namun akalnya melarang untuk berhenti.
“Persaingan sangat ketat di sini, aku tak boleh kehilangan semangat…” Dia bertekad.
“Yooo… Kamu tampak kehausan. Kemarilah aku ada air dingin yang cukup menyegarkan.” Pemuda di bawah pohon menyapa Wan Hanma.
__ADS_1
Wan Hanma menoleh kea rah lokasi suara yang memanggilnya. Dia mengambil langkah cepat menuju pemuda di bawah pohon.
Dia melempar tasnya dan segera menyambar botol kaca berisi air, menghabiskannya.
“Fwahhh…. Segar sekali.” Wan Hanma merebahkan dirinya di atas rerumputan.
“Terima kasih banyak ya, Oh, bagaimana kamu bisa santai di sini sementara benteng sangat ketat akhir-akhir ini. Apa kamu tidak mempertimbangkan posisi dan pencapaianmu? Semua orang sangat disiplin dan berjuang dengan sangat keras.” Wan Hanma bertanya.
“Jika kamu tidak berusaha dengan keras, kamu tidak akan mendapatkan posisi terbaik untuk mendapatkan sumberdaya gila-gilaan yang disiapkan benteng untuk kita.”
“Dan bisa bisanya kamu di sini tak mengenakan seragam murid luar. Kamu tidak takut aula disiplin menghukummu. Hahaha tampaknya kamu cukup nyali untuk berbuat nakal. Huh?” Wan Hanma tertawa.
“Aku Wan Hanma, siapa namamu… mari berkenalan…”
“Aku Mao Yu.” Mao Yu tersenyum menjabat tangan Wan Hanma yang diulurkan kepadanya.
KELUARRRR…..
KELUARRRR…..
Suara nyaring bergema persis di balik tembok benteng menggelegar dengan gema yang kuat.
“Astaga apa it….” Wan Hanma kaget namun seketika rasa berat dan kantuk membungkus kelopak matanya. Mao Yu menidurkannya.
“Mundurlah… Ini bukan tempatmu untuk bermain-main…” Para penjaga luar tembok meraung kepada pria dewasa yang berteriak di depan gerbang.
“Buka gerbangnya, aku harus mengamuk di dalam…” Dia bersuara keras dengan kemarahan yang memuncak.
__ADS_1
“Dilarang, anda tidak dapat memasuki benteng.” Seorang penjaga membantah.
“Maka kalian mati….” Dia mengembunkan origin dengan afinitas angin di telapak tangannya.