
Seorang pria paruh baya dengan rambut memutih di sebagian sisi kepalanya berjalan dengan anggun dan sangat pelan.
Wajahnya sejuk dengan senyum ramah mendamaikan. Dia berhenti tepat di depan sel seorang tahanan di Sekte Danau Perak.
Gadis Api melihatnya langsung luluh melupakan rasa amarahnya.
“Gadis baik, jadilah baik untuk seterusnya.”
Suara Li Hua bergema dan meluluhkan dada si Gadis Api. Dia merasakan suara Li Hua seperti suara kakeknya yang amat sayang dan cinta padanya.
Tak terasa bulir air mata menitik.
“Kakek... “ Gadis apu menggumam kata yang tidak jelas didengar.
Li Hua membuka sel Gadis Api. Kemudian dia duduk di sebelahnya.
“Apakah kamu ingi pulang ?” Li Hua bertanya.
Gadis Api mengangguk seperti anak kecil.
“Jika kamu pulang, namun kamu tidak mendapati rumahmu sudah tidak ada di sana baimana?”
Gadis Api seketika jatuh ke pangkuan Li Hua, dia menangis sejadi-jadinya. Dia tidak tahu kenapa dan mengapa.
Dia merasakan Li Hua sepertin kakeknya sendiri yang telah meninggal. Dia kini meluapkan segala emosi dan semua hal yang dia tahan seorang diri.
Li Hua mengelus kepala Gadis Api. Sangal lembut rambutnya, hanyalah gadis kecil. Li Hua membatin.
Di tepi Danau Perak.
Mao Yu meregangkan tubuhnya dengan malas.
“Wei Lan, Bawa Chen Li dan Kepala Sekte Tang Shang ke Benteng. Biarkan mereka dirawat dengan baik di sana. Ajaklah beberapa pengikut Lei Teng menemanimu.”
“Oya, juga pastikan setelah sembuh dengan baik mereka mendapat fasilitas sebagai murid utama.”
“Dimengerti Tuan.” Wei Lan segera mengerjakan perintah tuannya.
Tak lama kemudian, Sosok migat migut menghampiri Mao Yu dengan tiga Gao yang menumpang plesir dengan santai di punggungnya.
“Menyerahkan diri untuk jadi opor angsa, huh ?” Mao Yu mencibir
“Wekkk.... Tidak Tuanku.”
__ADS_1
“Hamba ingin melaporkan sesuatu. Saat hamba berenang kesana kemari hamba merasakan ada sosok jahat di dasar danau. Hamba khawatir akan menimbulkan bahaya di masa depan.” Iblis Angsa sedikit khawatir.
“Oh itu, memang benar pengamatanmu. Aku akan melihatnya.” Mao Yu menguap dengan malah.
“AHA....” Mao Yu berteriak dengan senyum melebar.
Chen Dewei yang barusaja lewat di sekitar Mao Yu merasakan firasat buruk terlintas di pikirannya.
Belum sempat bereaksi rantai logam berwarna hitam menjerat pinggangnya.
“Tuan Muda, Apa ini ?” Chen Dewei bermaksud komplain.
“Aduhh... Aduhh...” Mao Yu menarik rantai yang menjerat Chen Dewei hingga dia makin mendekat dengan Mao Yu.
Mao Yu melepas semua bajunya hingga menyisakan celana pendeknya saja.
“Lakukan hal sama denganku.”
“Tuan apakan anda memiliki kecenderungan yang lain... Tapi kenapa aku???”
“DIAM !!!”
Chen Dewei mengikuti Mao Yu dengan berjalan lesu. Dia turut berpakaian seperti tuannya. Hanya mengenakan celana pendek.
“Yosh, mulai sekarang kita tak bisa dipisahkan.”
Chen Dewei “ ... “
Pengikut Lei Teng bertanya-tanya atas keanehan apa lagi yang tuan muda ini ingin lakukan. Tapi mereka pura pura tidak tahu. Berani beraninya cari tahu atau mereka berbagi dan bergabung dengan kesialan. Hii...
“Yuhuuu... jangan bilang kamu tak bisa berenang.” Mao Yu mendengus.
“Ah ya.. tapi danau ini.” Chen Dewei komplain.
BYURRR**...**
Tarikan kuat dari rantai yang terjadin dengan Mao Yu yang menceburkan diri ke danau turut menarik Chen Dewei yang tidak siap.
AGH...
BYURRR**...**
Chen Dewei merasakan dia kesulitan menggerakkan seluruh tubuhnya. Dia melihat cahaya bergelayut di permukaan danau dari kedalaman.
__ADS_1
Chen Dewei terus menuju ke dasar hingga dia menemukan dasar danau sangat gelap dan dingin.
Pikiran Chen Dewei mulai kabur.
Satu satunya yang dia ingat adalah dia memegang dengan kuat rantai yang menjerat tubuhnya. Dia meyakini dengan sepenuh jiwa tuannya akan membimbing menuju keselamatannya.
Chen Dewei tak sadarkan diri.
“AGGHHHH....”
“Diam !!! Selalu saja orang di sekitar mengagetkanku !!!” Mao Yu meraung.
“Tuan, di mana ini?”
Chen Dewei merasakan selimut kulit tebal membungkus dirinya di samping api unggun yang keluar dari kuali harta.
Dia memeriksa celananya telah kering, artinya dia cukup lama tak sadarkan di sini. Di goa ini, yah ini adalah goa.
Mao Yu juga sedang menghangatkan dirinya dengan berada di posisi dekat dengan kuali api. Suhu di sini ekstra dingin, Chen Dewei sedang berusaha mengidentifikasi keadaan.
Tuan sedang bersama kucing di pangkuannya. Kucing orenye dengan kalung manis di lehernya? Hah, Kucing???
Chen Dewei berusaha mendapatkan kembali akal sehatnya. Dia mengenakan baju ganti.
“Oranye, Siapa dia sebenarnya ?” Mao Yu bertanya.
“Sosok gelap yang sangat jahat.” Oranye berbisik lirih.
“Tuan, Apa yang harus saya lakukan ?” Chen Dewei telah kembali ke keadaan terbaiknya.
“Keluarkan kuali besar, masakkan untuk kita sup. Isi dengan sayuran saja.”
“Dimengerti...” Chen Dewei dengan sigap menjalankan permintaan tuannya.
Sebagai kultivatior dengan gaya hidup seorang petani. Membuat hidangan sup adalah rutinitas mudah. Dia dengan cekatan menyiapkan masakannya.
Dalam waktu singkat sup telah mendidih.
“Tuan, bahan utama sup belum dimasukkan. Anda menginginkan apa?” Chen Dewei bertanya.
“Sebentar lagi bahan utama akan datang.” Mao Yu menjawab singkat.
“BHAWHAWHAWHAW....”
__ADS_1
Suara tawa menggelegar dengan gaung memekakkan telinga dari kedalaman gua.