
Dari balai tetua pertama.
Nian dan ayahnya saling memandang dengan tegas. Sementara kedua Tetua Ni bersikap antisipasi, terlihat dada mereka kembang kempis dengan hembusan suara nafas mereka yang berat.
Dalam kondisi ini posisi mereka adalah yang tersulit. Di sisi pihak mereka bisa dicap sebagai pengkhianat sekte.
Di sisi lain mereka tidak mungkin meninggalkan sekte begitu saja.
“Kita tersudut…” Ni Lokong salah satu paman Nian mengumpat.
“Kalian berdua adalah Klan Ni, apa kalian masih bisa kupercaya mulai saat ini hingga ke masa depan? Rela mati demi kemuliaan Klan Ni. Mengikutiku, Patriark Klan Ni hingga menjadi abu dan hilang dalam ketiadaan?” Ni Guanlong menatap Ni Lokong dang NI Feng.
Pandangan serius dan menusuk seperti pedang, sangat tajam hingga terasa seperti menebas jiwa.
Ni Lokong dan Ni Feng tertegun.
“Tak perlu diragukan kembali, aku terus ada sisi kananmu patriark.” Ni Lokong mengatakan kemantapan hatinya.
“Aku akan berada di sisi kirimu sebagai perisaimu.” Ni Feng juga menyuarakan tekad yang sama.
Ni Guanlong mengangguk dengan hati penuh kebanggaan atas sikap keduanya.
“Benar, Inilah harta terbaik yang dimiliki oleh Klan Ni sebuah tekad dan kemauan yang sangat kuat. Kita tidak akan mengecewakan leluhur kita.” Ni Guanlong menepuk dengan keras dadanya.
“Ayah… Paman… Aku harus menjalankan rencana yang menjadi bagian dari kita.” Nian menginterupsi.
Ketiga Ni memandang Nian dengan rasa terpaku dan membeku dalam beberapa saat, hingga suara yang terdengar lirih, lemah dan penuh kasih sayang terdengar dari arah Ni Guanlong.
__ADS_1
“Lakukan anakku…”
Di aula utama Sekte Pedang Bumi
Patriark duduk di kursi utama dengan para tetua yang mendukungnya.
“Benteng Tua Leluhur memulai provokasi, para murid dalam fase kegilaan ingin menelan utusan mereka. Hanya dua orang dan tak terlihat ada back up di belakang mereka.” Salah satu tetua melaporkan keadaan.
“Yang tua tidak bergerak hingga tua tua mereka muncul.” Patriark Sekte Pedang Bumi memberikan intruksi.
“Dimengerti…” Para tetua kompak menjawab.
“Kita amati bagaimana mereka akan bermain denganku. Hahahahaha….” Tawa Patriark menggaung dalam aula utama.
Patriark Sekte Pedang Bumi sangat amat santai. Sebagai salah seorang veteran dunia keempat reputasi dan kekuatannya sangat diperhitungkan oleh para ahli.
Selain itu barisan leluhur menjadi barikade terkuat sekte. Leluhur leluhur yang tersembunyi siap membombardir musuh tanpa ampun. Inilah uniknya Sekte Pedang Bumi hingga saat ini para ahli tidak dapat mengetahui dengan pasti berapa jumlah leluhur yang masih hidup dimiliki sekte ini.
Beberapa spekulasi mengatakan tujuh atau sembilan. Namun para pakar yang lebih tua mengatakan Sekte Pedang Bumi memiliki setidaknya selusin leluhur yang masih hidup.
Selain itu utusan dari saudara sekte juga telah tiba beberapa saat yang lalu. Menjadikan patriark makin percaya diri dalam semangat kemenangan yang menggebu-gebu.
Utusan dari Sekte Pedang Nirwana.
Di menara paling tinggi Sekte Pedang Bumi
Pemandangan dapat dilihat dengan jelas segala arah yang melingkupinya. Seorang pemuda tampan duduk menghadap kerumunan dengan keributan hebat di alun alun utama.
__ADS_1
Dia menyaksikan dengan jelas dua orang pemuda berpakaian putih dari Benteng Tua Leluhur menantang ratusan ribu murid. Membuat kerumunan hooligan mengamuk dengan liar.
Dia meletakkan minumannya di meja. Bahunya kemudian disandarkan pada kursi, dia mengeliat meregangkan bahu dan ruas tualang lengannya.
Jubahnya menyingkap sebuah senjata besar yang juga bersanding di kursinya.
“Menarik….” Dia menggumam.
“Paman, bolehkah kita melibatkan diri?” Dia bertanya pada seorang tua yang berdiri di dekat jendela di sisi yang lain.
“Kita hanya mengambil beberapa murid yang berbakat.” Dia menjawab.
“Benteng Tua Leluhur dari dunia pertama, Apakah paman pernah mendengarnya?” Pemuda tampan itu kembali bertanya.
Paman Tua “ … “
Pemuda tampan terus manatap paman tua yang berdiri dengan sedikit menahan sesuatu. Dalam siraman cahaya purnama yang menerobos jendela. Dengan desir angin lembut yang sedikit menerbangkan helai rambut putih di pelipisnya.
Akhirnya paman tua menghela nafas panjang.
“Sebaiknya hindari mereka… Kurasa bukan hal bagus berurusan dengan mereka. Mereka penuh dengan misteri dan memiliki kedalaman yang tidak bisa diduga.” Paman Tua menggumam.
“AHA, Kalau begitu saatnya mencoba.” Pemuda tampan meloncat dari kursinya menyambar senjata besar dan hinggap di di sisi jendela lain dalam waktu singkat.”
“Ren-er….” Paman tua membentak dan memelototi pemuda tampan.
“Aku selalu bertanya pada diriku sendiri, setiap paman melarang aku semakin bersemangat dan selalu ingin mencoba.” Pemuda tampan mengedipkan mata dan menjulurkan lidah pada pamannya.
__ADS_1
Paman Tua “ … “