
Mao Yu tiba di bilik utama.
Seluruh ruang diisi dengan perabotan super mewah. Mao Yu juga merasakan udara di dalamnya sangat segar dan kaya akan energi spiritual. Hmmm, pengaturan yang layak.
Kong Kecil segera meloncat ke meja di mana puluhan keranjang buah spiritual berjajar rapi di atasnya. Kerakusannya muncul, dia langsung mengunyahnya satu persatu.
Suasana sangat sunyi di dalam tenda. Mao Yu melihat dua orang tua di depannya.
Salah satunya yang nampak tak terlalu tua pastinya penatua kedua dan yang nampak lebih tua pasti leluhur Klan Wang.
"Perkenalkan, Saya Penatua Kedua Wang Ji dan belau di samping saya adalah leluhur kami, Wang Kun." Wang Ji memperkenalkan.
"Mohon maaf kami tidak menyambut Tuan Muda dengan kepantasan yang seharusnya. Maafkan kami semua dan para penjaga." Leluhur Wang Kun meminta maaf.
Keduanya menangkupkan tangan memberi salam hangat kepada Mao Yu.
Kemudian keduanya segera merapikan pakaian dan bersujud.
Jika para pengawal dan seluruh murid Klan Wang melihat leluhur dan penatua mereka bersujud pada seorang pemuda biasa.
Pasti semuanya akan mencabuti seluruh rambut yang tumbuh di kepala mereka dan mengubah mereka seketika menjadi orang gila.
Leluhur adalah kartu as klan. Kekuatannya berada di puncak.
Kekuatan leluhur menjadi tolok ukur utama sejauh mana sekte atau klan itu berpengaruh dan ditakuti.
Kini maskot utama mereka merendah dengan sangat di hadapan seorang pemuda yang nampak biasa saja.
"Salam hormat kami kepada Tuan Muda, Anda adalah pemberi rahmat bagi klan kami." Leluhur Wang Kun berkata dengan tulus.
"Baik, Bangkitlah." Mao Yu menerima salam mereka.
Mao Yu dipersilahkan untuk duduk di sebuah kursi.
Kursi yang diduduki Mao Yu berbeda dengan yang diduduki oleh leluhur dan penatua. Milik Mao Yu lebih indah dan mewah.
"Sekali lagi, mohon dimaafkan atas sambutan kami yang sangat jauh dari kata layak." Leluhur Wang Kun mengulang permohonan maafnya.
"Sangat lebih dari cukup." Mao Yu tersenyum.
Keduanya merasa lega setelah mendengar jawaban dari Mao Yu.
__ADS_1
Penatua kedua meyiapkan seperangkat peralatan untuk menyeduh teh. Dia memulai menjamu tamu agung klannya dengan menyajikan teh spesial.
"Ceritakan kondisi reruntuhan..." Mao Yu ingin menggali informasi.
Situs reruntuhan ditemukan dua bulan yang lalu oleh seorang kultivator lepas. Dia menemukan secara tidak sengaja saat mengejar binatang buruannya.
Lokasinya adalah sebuah gua kecil tersembunyi dengan lorong tunggal yang panjang.
Di ujung lorong terdapat ruangan besar dengar sebuah altar. Ketika dilakukan pengamatan lebih lanjut, susunan prasasti pada altar berisi gugusan array portal.
Para pemburu harta meyakini bahwa portal ini akan membawa kepada suatu makam atau perbendaharaan yang ditinggalkan sang ahli.
Namun sayangnya, klan dengan tingkat kekuatan menengah termasuk Klan Wang sejauh ini hanya bisa mengamati dari kejauhan.
Di ring pertama tiga kekuatan besar memonopoli area gua.
Klan menengah hanya mendapat hak kunjungan ke dalam portal array sesuai dengan waktu yang dijadwalkan oleh tiga kekuatan besar. Mereka benar-benar mengatur untuk diri mereka sendiri.
Mereka adalah Klan Wu dari dunia ketiga, Sekte Pedang Besi dari dunia keempat dan Sekte Api Phoenix dari dunia kelima.
Tiga ini merupakan kekuatan besar di masing-masing dunia mereka.
Teh telah disajikan, aromanya sangat harum memikat. Mao Yu menyesapnya, rasa sepat di lidah cukup menggelitik dan meninggalkan kesan.
"Teh hanyalah daun. Tidak perlu diributkan darimana asalnya. Selalu ada rasa yang berbeda, itu letak kenikmatannya." Mao Yu menyesap kembali tehnya.
Tuan rumah mengangguk paham dan turut menyesap cangkirnya masing-masing.
"Kenapa hanya ada tiga kekuatan besar yang datang kemari?" Mao Yu melanjutkan pertanyaan.
"Array portal sangat sulit ditembus dan juga dilihat dari berbagai tanda tidak menunjukkan hal-hal besar berada di dalamnya. Model situs seperti ini sangat banyak dijumpai, membuat kekuatan besar tidak tertarik oleh isinya."
"Namun bagi yang masih menaruh gambling dan berharap pada peluang besar itu lain lagi ceritanya. Tiga kekuatan besar tetap tinggal di sini untuk memantau reruntuhan." Penatua kedua menjelaskan.
Mao Yu menceritakan kembali pandangan Wang Xuemin tentang kaitan situs reruntuhan yang terkait dengan seorang yang memiliki kemampuan jiwa.
Apakah ada ahli yang dimakamkan di sana atau apakah ahli sengaja meninggalkan petunjuk untuk menemukan penerusnya.
Leluhur Wang Kun menjelaskan dan mengklaim bahwa sampai saat ini tidak ada kekuatan mana pun di sini yang menemukan situs reruntuhan berkaitan dengan kemampuan jiwa.
Ini hanya karena kemampuan unik yang dimiliki Wang Xuemin, sehingga dia dapat menangkan beberapa isyarat dari situs.
__ADS_1
"Termasuk tiga sekte besar yang turut hadir di sini? Mereka juga tak mampu mendeteksinya ?" Mao Yu penasaran.
Leluhur Wang Kun menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Kapan waktunya Klan Wang mendapat jadwal kunjung ke dalam reruntuhan? Aku sedikit tertarik." Mao Yu penasaran.
"Nanti petang, selepas matahari terbenam adalah hak kita untuk memasuki dan memantau lokasi. Managemen membatasi hanya untuk empat pengunjung saja." Penatua Kedua memberikan informasi.
"Wang Jiao dan Wang Shan..." Mao Yu menyebutkan dua nama.
"Mereka bersaudara adalah cicitku. Kuharap Tuan Muda dapat membimbing keduanya hingga masa depan." Leluhur Wang Kun menangkupkan kedua tangannya.
"Mereka tidak buruk, Tidak lama lagi klanmu menjadi immortal." Mao Yu meletakkan cangkirnya di atas meja.
Penilaian Tuan Muda memang tak terbantahkan. Semenjak cicitnya bermeditasi dengan anting kayu pohon suci. Garis keturunan Red Glow Mahogany yang mengalir pada tubuh mereka menguat dengan kelipatan tak terduga.
Dua Tua sangat gembira mendapatkan informasi, gambaran dan jaminan dari Mao Yu.
"Biarkan aku, Lin Fan pelayanku dan kedua cicitmu ikut bersamaku nanti dalam kunjungan menuju reruntuhan." Mao Yu mengajukan usul.
Dua Tua segera mengangguk setuju tanpa ada keinginan membantah sama sekali. Mereka berdua sekaligus mendapatkan perasaan yang sangat gembira.
Dengan dua bersaudara turut bersamanya, keberuntungan besar pasti akan didapatkan. Ini akan sangat bagus untuk masa depan mereka dan klan.
Lin Fan dan Wang Shan terengah-engah setelah cukup lama berlarian di halaman. Sekaligus dengan dada berdebar-debar menantikan bagaimana keadaan Mao Yu setelah memasuki tenda milik tetua.
Wang Jiao menghampiri mereka berdua.
"Kalian hanya berdua. Di mana Mao Yu?" Wang Jiao memelototi adiknya.
"Tuanku masuk ke sana." Lin Fan menunjuk ke tenda indah di depan mereka.
"Gila kamu Shan-er. Apa sekrup di kepalamu tidak pernah terpasang dengan benar. Jika sampai menyinggung tetua, dia pasti berakhir buruk. Apa yang kamu lakukan? kamu tidak mencegahnya?" Wang Jiao memarahi adiknya.
"Aaa... Aku.."
"Dia sibuk mengejarku, aku berlarian hingga bajuku basah oleh keringat." Lin Fan menunjuk tepat di hidung Wang Shan.
Wang Shan "... ??? ..."
Wang Jiao memelototi adiknya dengan tangan bertolak pinggang. Adiknya ini tak pernah masuk akal sama sekali. Wang Shan hanya menunduk saja tak berani menatap mata kakaknya.
__ADS_1
Rasa cemas dan khawatir kini dirasakan mereka bertiga. Terutama bagi Wang Shan, dia merasa sedikit ketakutan jika penatua kedua keluar dan mengamuk padanya. Hukuman sudah jelas datang tepat di depan mukanya.
"Tamat sudah aku." Wang Shan mengeluh.