
Lei Teng menatap dengan tatapan kosong saat berhadapan dengan dua ratus kultivator di hadapannya.
Lei Teng makin grogi bahwa tak satupun di depannya ini lebih lemah darinya. Semuanya kuat, bahkan sangat kuat. Jika duel dengan salah satu yang terlemah di antara mereka, Lei Teng mungkin harus mengerahkan semua yang dimilikinya.
Para kultivator membungkuk dengan penuh hormat kepada Lei Teng.
Semuanya dengan antusias dan penuh semangat. Mereka merasa sangat terberkati bisa berdiri dengan sangat dekat di hadapan pakar.
“Tuan, kami semua telah sepakat untuk mengikuti bimbinganmu, mohon terimalah kami...!”
“Anda adalah guru dari segala guru, panutan dari semua panutan...”
“Tolong terimalah kami tuan...”
“Kami semua kultivator tanpa rumah, tanpa sekte maupun klan, kami menyatakan rela berdiri di belakang tuan mulai sekarang...”
Wajah Lei Teng sangat flat. Shock berat tak henti henti menimpanya. Dia bahkan merasa hampir menjadi gila.
Cukup lama Lei Teng diam berdiri menatap kerumunan yang sangat optimis di depannya.
“Hmmm, Ah, ya... Izinkan aku berjalan sendirian sebentar, aku perlu waktu sedikit untuk berfikir.” Lei Teng berkata dengan nada datar.
Sementara para kultivator berkasak kusuk.
“Sangat berwibawa....”
__ADS_1
“Ini adalah aura dari pakar...”
“Benar-benar ahlinya...”
Lei Teng “ ... ? ...”
Lei Teng segera melarikan diri dari kerumunan. Dia ingin menangis atas kesialan yang menimpa dirinya.
Melangkahkan kakinya dengan cepat ke arah acak dan tak sadar langkahnya membawa menuju pemondokan Mao Yu.
Seperti mengingatkan dirinya akan sesuatu. Lei Teng memiliki ide untuk segera berkonsultasi dengan Mao Yu atas apa yang terjadi menimpanya. Bagaimana pun yang berkuasa di sini adalah Mao Yu. Maka mau tidak mau semua hal yang terjadi harus melalui prosedur persetujuannya.
Demi sebuah solusi jitu Lei Teng mengacungkan jempol pada dirinya sendiri. Bagaimana mungkin aku bisa menghadapi mereka semua. Ini beda cerita jika tuan muda yang mengatasinya.
Lei Teng masih sedikit error dan kacau pemikirannya. Dia tengah rasa blank dalam pemikirannya. Dia sangat antusias segera mendapatkan solusi yang sangat darurat hingga melupakan etiket saat sedang bertamu.
“TUAN....” Lei Teng langsung menumpahkan segala isi hatinya.
Di dalam ruangan, empat pasang mata melihatnya. Dua pasang mata dengan pandangan melotot menyorot tajam jelas itu milik Mao Yu. Dan sepasang lagi mata sayu milik seseorang yang tampaknya sedang bertamu.
“Mengagetkan!!! Apa kamu tua telah pikun bagaimana cara yang baik untuk bertamu !!!” Mao Yu menghardik Lei Teng.
Secara tak sengaja karena kaget dan rasa sebal energi jiwa Mao Yu bocor mengisi dan memenuhi seluruh ruangan. Kong Kecil dan Kucing Oranye pun lantas segera terbangun, mereka mengambil posisi siaga karena dikagetkan dengan energi tuannya.
Kong Kecil mengeluarkan taringnya sementara Kucing Oranye memiliki ekor dengan bulu mengembang menjulang ke atas.
__ADS_1
Hembusan dengan mengalir melewati Wang Du. Keringat dingin segera keluar dari pori-pori punggungnya, sarafnya meremat bagian leher hingga membuat bulu kuduknya berdiri.
Jelas ini adalah sebuah ancaman mematikan bahkan untuk seseorang di levelnya. Dia pun bergidik ngeri.
Saat hembusan tiba dan mulai menyapu Lei Teng. Dia lunglai, merasa jiwanya terlepas dari tubuhnya. Dia merasa sedang memegang seuntai tali sebesar sehelai rambut yang menyatukan jiwa dengan tubuhnya.
Begitu tali seukuran rambut itu putus, maka Lei Teng memastikan dirinya akan menjadi jenazah.
Lei Teng sangat beruntung karena Wang Du memiliki inisiatif untuk segera mengambil tindakan membungkus Lei Teng dengan perisai pertahanan energi.
Ketika energi jiwa Mao Yu bubar. Lei Teng merasakan lututnya lemas dia hendak pingsan. Beruntung Wang Du segera mendukungnya untuk menempatkan pada kursi di sebelahnya.
“INNN IIINNNNNIIIIIIIIII..........”
Para rombongan kultivator kacau balau, sebagian besar di antara mereka jatuh tak sadarkan diri. Sisanya merintih dengan kondisi yang sangat memprihatinkan. Mereka terus menerus memuntahkan darah.
Ini terjadi setelah beberapa saat pakar meninggalkan mereka. Sebuah hembusan dingin menyapu kerumunan.
Hanya segelintir di antara mereka yang dapat mempertahankan posisinya. Ya, mereka adalah yang terkuat di antara semuanya.
Itupun mereka masih merasakan seluruh organ mereka seperti sedang diaduk. Hanya beberapa darah tipis keluar dari bibir, hidung dan telinga.
“Pakar sedang menguji keteguhan kita.” Seorang kultivator tertua berkata dengan parau.
“Kita harus membuktikan bahwa diri kita layak...” Yang lebih muda di samping si tua menambahkan. Tatapannya menerawang entah ke mana. Hatinya semakin kuat dengan kemantapan yang berlipat ganda.
__ADS_1
“Kita tak akan kecewa dan menyesal jika bersama ahlinya.” Kultivator ketiga sekaligus yang masih mampu berdiri dengan stabil setelah hembusan uji coba memberikan kesimpulan.