
“Mohohoho.... Mohohohoho....”
Wanita tua bomberwomen menghampiri mereka semua. Senyumnya yang lebar mengembangkan pipi bapao ukuran XL nya hingga membuat matanya yang sipit tak terlihat.
Wanita bola raksasa, jika masih ingat dia serupa dengan Bibi Zhao. Jika keduanya berdiri berjajar kita akan melihat angka nol-nol.
“Kamu kenapa baru muncul sekarang?” Mao Yu berucap dengan acuh tak acuh.
“Tuanku tercinta, aku pun harus merias diriku sendiri untuk tampil cantik di hadapanmu. Keanggunan ini harus ditampilkan secara maksimal untuk tuanku tersayang.”
“60 Tahun merias?” Mao Yu mengernyit.
“Mohohohohoho...” Wanita bola terkekeh kekeh.
“Baiklah, panggil aku Nona Bu. Aku pengelola istana milik tuanku ini, aku kan menjamu tuanku dan tamu-tamunya dengan sepenuh hati. Ini adalah keramahan yang diberikan tuanku untuk para tamu-tamunya. Kumohon kalian menerimanya dengan tulus.”
Keempat tamu membalas dengan mengangguk-angguk seperti anak ayam yang sangat patuh.
Keempatnya mengindera bahwa Nona Bu ini sangat berbahaya. Sangat jauh dalam jangkauan kekuatan yang mereka miliki. Mereka merasa sebagai siswa taman kanak kanak di depannya.
“Ah Okey, Oh... Tamuku yang terhormat ini memiliki keunikan, apakah ini api violet velvet?” Nona Bu berbinar binar menatap Lei Teng
“Ah ya... benar.” Lei Teng mengeluarkan api violet dari ujung telunjuknya.
“Oh, Api Violet yang bermutasi. Oh, Langka... Ini langka... Lihat di tengah api ada warna lembayung yang lebih gelap dari bagian luarnya.”
“Hm... Jika tuanku tak keberatan boleh kami meminta apimu. Istana kami belum memiliki varian api ini.” Nona Bu sangat mengharapkan.
Lei Teng melihat Mao Yu yang memberikan anggukan ringan kepadanya.
__ADS_1
“Baiklah...” Lei Teng tersenyum. Dia menarik bibirnya dengan paksa membuat senyum seramah dan senatural mungkin.
Nona Bu tersenyum dengan sangat riang. Dia pamit sebentar untuk mengambil sesuatu, dia berjalan dengan seluruh tubuhnya memantul mantul seperti bola dan berjalan layaknya bola menggelinding.
“Tuan, dia....” Lei Teng penasaran.
“Dia bawel.” Mao Yu menjawab singkat.
“Ah, bukan. Maksudku dia adalah....”
“Oh, dia roh istana ini.” Mao Yu menjawab.
Oriole terdengar kembali. Nona Bu datang dengan membawa mendorong kereta yang mengangkut sajian.
Tiba di hadapan mereka dia mengeluarkan lampu terbuat dari emas dengan hiasan berbagai macam permata.
“Tamuku yang terhormat silahkan nyalakan lampu ini, kami akan menyimpannya dengan baik di perbendaharaan kami.” Nona Bu menyodorkan kepada Lei Teng.
“Brilian, jenius... Api yang langka. Tuanku, tenang... Istana akan memberikan kompensasi yang sangat memadai untuk anda. Benarkah demikian tuanku yang tercinta?” Nona Bu meminta persetujuan pada Mao Yu.
“Lakukan...” Mao Yu menjawab.
“Mohohohoho... Tentu saja.” Nona Bu bersemangat. Dia memegang lampu dengan lemah lembut penuh kasih sayang.
Nona Bu meletakkan lima piring dengan alat makan lengkap di atas meja. Dia menyajikan kue pai panas dengan asap yang masih mengepul.
“Pai apel sederhana, baru diangkat dari oven. Sangat nikmat selagi masih panas.”
Nona Bu dengan cekatan menyajikan lima cangkir di samping piring motif bunga yang cantik.
__ADS_1
Nona Bu memanaskan lima teko keramik dengan sekejap. Dengan cekatan dia melemparkan berbagai daun kering ke salah satu teko. Kemudian segera menyajikan kepada tuan mudanya, Mao Yu.
Untuk Lei Teng, Nona Bu memasukkan bunga bunga segar berwarna ungu ke dalam teko sehingga ketika disajikan dalam cangkir Lei Teng melihat teh berwarna ungu dengan sangat indah.
Untuk Wang Du, Nona Bu memasukkan beberapa sendok bubuk berwarna gelap.
“Untuk kalian peliharaan tuanku tercinta, Nona yang sangat jelita ini akan menyajikan susu agar kalian sehat. Kalian nampak kekurangan nutrisi, huh..”
Nona Bu menuangkan teko terakhir berisi susu kepada Kong Kecil dan Oranye.
“Jelita? Jelita goendulmu.” Wang Du, Lei Teng ingin mengumpat bersamaan.
Mao Yu segera menyesap tehnya.
“Ah, Ini yang terbaik.” Dia memuji. Nona Bu membuat gerakan dengan merendahkan tubuhnya di depan tuannya.
INNNN INNNNNIIIIIIIIIII.............
Lei Teng merasa dimurnikan saat menyesap tehnya. Tubuhnya seperti dibasuh oleh energi yang sangat luhur. Semua sumsum, urat, otot dan pembuluh darahnya diagungkan dengan sangat mulia.
Ledakan demi ledakan energi membabtis dantiannya. Api ungu dengan warna yang mencolok berkobar dengan gila gilaan dengan dantian berwarna ungu gelap sebagai pusatnya.
Kultivasinya melonjak, melompat dari tahapan satu ke tahapan berikutnya. Kekuatan seperti air bah mengisi seluruh jaringan meridiannya.
“Mohohohoho.... Para tamu silahkan menikmati.”
“Bleerrgghhh... Maaf Nona Bu, punyaku sangat pahit. Apa ini?” Wang Du seperti tampak sedang memeragakan komplain kecil.
“Mohohohoho... Bukankah kamu adalah tanaman? Aku memberikanmu pupuk.” Nona Bu sangat bangga dia memberikan apa yang terbaik bagi tamunya.
__ADS_1
Wang Du “... ? ? ? ...”