
"Li Hua, Sajikan... " Mao Yu memerintahkan Li Hua
Di atas meja ditata beberapa cangkir giok. Li Hua mengeluarkan sebuah botol dari cincin penyimpanannya. Dia memegangnya dengan sangat hati-hati seolah itu adalah harta satu-satunya.
Setelah dibuka aroma wangi sake menyeruak ke seluruh penjuru ruangan. Sekali lagi para pelanggan menghentikan makan siang dan semuanya menatap ke arah meja Mao Yu.
Aroma apa ini? Para pelanggan bertanya-tanya. Sungguh menempel kuat pada pikiran. Seterusnya dan tak pernah memudar.
Demikian juga berlaku bagi grup Night Lily. Rasa penasaran menyelimuti pikiran mereka. Ada sesuatu yang mungkin unik dari sake ini.
"Mari bersulang atas keberhasilan transaksi ini. Silahkan dicicipi..." Mao Yu mempersilahkan kepada para tamu dari Night Lily untuk segera mengambil cangkir.
Li Hua dan Shen Mubai tersenyum dan segera menyambar bagian mereka. Begitu juga dengan Hong Shi, Xin Feng dan empat pengawal mereka.
"Tak perlu sungkan-sungkan. Mari bersulang..." Mao Yu segera menghisap cangkirnya.
Kemudian matanya dipejamkan sekuat tenaga untuk berusaha menelan sake yang rasanya seperti kencing kuda. Dia pun juga sudah merencanakan setelah acara ini akan segera mencari toilet untuk memuntahkannya.
"INN INNIIII....."
Xin Feng, Hong Shi dan keempat pengawal berteriak kencang dengan mata melotot. Bahkan Hong Shi sampai berdiri dari kursinya dengan tangan menghentakkan keras pada meja.
Hong Shi terkenal dengan wibawa seorang manager cabang guild perdagangan terbesar di penjuru benua selatan. Dengan sikap dingin dan tak banyak bicara.
Para pelanggan melihat dengan kepala mereka sendiri siang ini dia histeris karena telah meminum sesuatu.
Bahkan ada pengunjung yang sampai tersedak. Ada pula yang menjatuhkan sendoknya ke lantai melihat pertunjukan ini. Pelanggan benar-benar berhenti makan total kali ini.
Semua mata tertuju pada meja di mana kelompok Mao Yu sedang bersulang.
Tenggakan sake telah membakar dada mereka hingga terasa membara. Rasa hangat sake disebarkan ke seluruh tubuh hingga mereka merasa melayang di udara.
Dantian berdenyut seperti jantung mau lepas, merespon energi potensial yang terkandung di dalam sake ini.
Para penikmat sake lantas berdiam diri dengan posisi merenung cukup lama mengedarkan energi yang tumpah ruah ke seluruh penjuru meridian mereka sesuai jalur kultivasi yang mereka anut.
Setelah mereka semua membuka mata, mereka merasakan kemajuan yang sangat berarti pada kultivasi.
__ADS_1
Lantas Mao Yu menyambut kehadiran mereka kembali di meja perjamuan dengan mengenalkan apa yang mereka nikmati barusan.
"Sake Pembakar Naga." Mao Yu mengatakan dengan lantang dan penuh kebanggan. Padahal dalam hati dia sangat membenci minuman ini.
Seluruh pelanggan menangkap nama sake ini dan berjanji tidak akan pernah melupakannya dalam hidup mereka. Mereka berjanji pada diri mereka sendiri di masa depan harus mendapatkan sake apa pun keadaannya.
Tak ada toleransi. Ini berlaku juga bagi kelompok Night Lily.
"Sangat terhormat kami dapat mencicipi sake mahakarya terbaik di dunia. Hong Shi mewakili Night Lily sangat berterima kasih." Hong Shi menangkupkan tinju mengatakan pujian dengan benar-benar tulus.
"Secara khusus akan disajikan hanya di Kedai Hwa. Dalam tempo beberapa hari ke depan." Mao Yu menambahkan sebuah pengumuman.
Kalimat ini merupakan kabar gembira yang mereka nantikan. Informasi segera ditangkap oleh seluruh hadirin.
Seolah mereka menggenggam erat sebuah permata dan tak mau sedikit pun melonggarkan jari untuk melepaskannya.
Beberapa saat kemudian rombongan Night Lily bangkit dan meninggalkan meja perjamuan. Meninggalkan trio yag masih santai duduk di kursinya masing-masing.
Shen Mubai tak tahu harus mengatakan bagaimana. Dia sangat kagum dengan visi Mao Yu. Dia menyadari bahwa pengembangan Kedai Hwa, kesepakatan jual beli dengan Night Lily serta memperkenalkan sake pembakar naga di sini.
Mao Yu menghampiri sebuah jendela, Dia menopang dagu di atasnya. Matanya melihat langit biru dengan awan awan yang menggumpal seperti kapas.
"Mulai hari ini dan seterusnya Paviliun Shen akan bekerja keras." Dia mengatakan dengan nada yang mantap.
Li Hua dan Shen Mubai mengangguk dengan mata penuh semangat.
***
Paviliun Shen kini memiliki banyak pelayan. Selain menggantikan tugas Keluarga Zhao juga membantu proses pembuatan sake di dalam workshop.
Crew caravan juga sudah datang dari ibukota pusat di benua tengah. Shen Mubai menugaskan mereka sebagai keamanan paviliun dan mengirimkan beberapa sebagai penjaga di Kedai Hwa.
Gerobak kuda berbaris seperti semut, memasok berbagai herbal dan bahan untuk kepentingan produksi Lin Fan. Paviliun Shen menjadi sangat hidup dengan penuh kesibukan
***
Pada malam harinya suasana cukup sunyi.
__ADS_1
Bibi Zhou tampak berkeringat cukup deras. Dia berlatih seorang diri di halaman belakang.
Sebagai sarana latihan kali ini dia menggunakan tongkat kayu besi yang dibuat sama beratnya dengan sabit kematian miliknya.
Mao Yu mendekati Bibi Zhou dengan terkekeh. Bibi Zhou langsung menyambutnya dengan salam
“Inti dari penggunaan sabit kematian adalah pemanfaatan momentum. Bibi harus membuat gerakan yang dapat memicu terciptanya momentum tersebut. Ehm... Bibi semasa kecil pernah menari tarian bangau berjinjit?” Mao Yu bertanya.
“Tentu. Di masa kecil akulah yang terbaik dalam tarian itu. Itu pun kulakukan dengan tubuhku yang langsing. Namun sekarang?” Bibi Zhou dengan cemberut memamerkan tubuh gembrotnya.
“Hahaha... Justru dengan keadaan Bibi yang sekarang akan mampu menciptakan momentum dengan mudah dan kuat.” Mao Yu menjelaskan sambil tertawa.
Bibi Zhou lantas mempraktikkan langkah demi langkah tarian bangau berjinjit. Cukup lucu melihat bibi ini berjikrak-jingkrak dengan ukuran tubuhnya.
Bibi Zhou melenggang ke kiri dan ke kanan. Sambil mengayunkan tongkat besinya sesuai arah pergerakan kaki dan beban tubuh.
Dia berusaha mengharmonisasikan antara tongkat dan gerakan tarian.
Dalam sebuah kondisi yang datangnya tiba-tiba Bibi Zhou menemukan suatu kondisi dia harus memukulkan tongkatnya pada sasaran.
Pandangan Bibi terkunci batang kayu besar di atas batu.
"HYAAA...."
Sebuah pukulan keras tongkat besi menghantam bongkah kayu dan mengubahnya menjadi serpihan-serpihan yang bertebaran segala arah.
Bibi Zhou takjub dengan kemampuan dirinya. Dia telah mencapai kasaya perak pertama sejak rutin mengkonsumsi daging yang dibawa Li Hua.
Tak disangka kekuatannya setara dengan kultivator kasaya perak tahap keempat.
"Jika Bibi mengganti tongkat besi dengan sabit kematian, Bibi mampu memenggal kepala sepuluh orang sekaligus dalam sekali tebas." Mao Yu membuat kesimpulan.
Bibi Zhou cukup terkejut mendengar penilaian Mao Yu. Ini membuat dirinya semakin bersemangat lagi.
"Oya, besok akan kubelikan selendang, sepertinya Bibi cocok jika menjadi penari lagi. Barangkali nanti bisa menghibur beberapa tamu penting yang datang." Mao Yu mengatakan dengan ringan setelah cukup berfikir keras.
Bibi Zhou " ... "
__ADS_1