Legenda Raja Abadi

Legenda Raja Abadi
Pedang Sementara Disarungkan


__ADS_3

Kondisi di depan gerbang Castle Black semakin memanas.


Li Hua memerintahkan pasukan mengambil langkah mundur. Hanya dia seorang yang berdiri di depan gerbang. Tangannya menggenggam di belakang punggung, tatapannya teduh dengan aura wajah yang teduh.


Meskipun begitu penampilannya semua pengamat sepakat bahwa Li Hua adalah sosok paling berbahaya yang berada di kubu Benteng Tua Leluhur, sang penantang.


Sementara Pemuda Cheng terpaksa dipapah mundur oleh beberapa tetua. Tatapannya menjadi kosong, jelas dia menderita luka mental yang akan sangat berpengaruh terhadap kultivasinya di masa mendatang.


Beberapa pengamat mengatakan berbagai kemungkinan tentang siapa Pemuda Cheng tersebut. Karena Klan Cheng sangat menutup diri, mereka sulit mengidentifikasi identitasnya.


Beberapa mengatakan putra mahkota klan, beberapa mengatakan putra tetua. Namun semuanya sepakat bahwa Pemuda Cheng tersebut merupakan aset utama klan di masa mendatang.


“Li Hua….” Seorang paruh baya dengan penampilan sombong muncul dalam sekejap beberapa langkah di depan Li Hua.


“Apa tujuanmu mengganggu Klan Cheng kami? Tempat ini bukan ladang di mana kalian bisa bermain-main.” Tetua Kelima Klan Cheng, Cheng Duanmu mengintimidasi.


Li Hua menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia terlihat acuh atas sikap arogansi lawan bicaranya.


“Otoritas? Harta? Wilayah? Kekuasaan? Kukira semua orang menginvasi hanya itu-itu saja alasannya. Kamu cukup memilih salah satu.” Li Hua berkata dengan acuh.


Cheng Duanmu menahan nafas, wajahnya memerah karena sangat marah. Baginya ucapan Li Hua sangat menginjak-injak martabat Castle Black.


“Sebaiknya enyah dari sini sebelum kalian bernasib buruk. Latar belakang kami bukanlah sesuatu yang bisa kalian jangkau.” Cheng Duanmu kembali menegaskan kalimat intimidasinya.

__ADS_1


“Jika ada sesuatu yang menjadi andalan klanmu, kenapa tidak keluar sekarang dan menyelesaikan semuanya. Bahkan alamat Benteng Tua Leluhur jelas, kalian bebas datang kapan saja untuk mengakhiri kami.” Li Hua menatap tajam mata Cheng Duanmu.


Cheng Duanmu sesaat terhanyak dengan sekilas menatap kosong pada dunia.


“Ugh…” Dia mengepalkan kedua tangannya dengan kuat, bahkan dia terpaksa harus menggigit lidahnya.


Dalam sepersekian detik tertegun sesaat, Li Hua memiliki kesempatan untuk memisahkan kepala dari lehernya. Cheng Duanmu membayangkan dengan rasa ngeri. Saat ini dia semakin waspada pada Li Hua.


“Sebaiknya kalian tidak banyak bergerak, kami akan mengawasi kalian dari Danau Perak.” Li Hua kemudian menghilang dengan efek fatamorgana. Meninggalkan Cheng Duanmu yang termenung di depan Gerbang Castle Black.


Pengamat berpendapat, Klan Cheng kali ini benar benar mendapatkan tekanan sedemikian rupa oleh Benteng Tua Leluhur.


Seorang leluhur pengamat menyatakan bahwa kedua kekuatan sengaja saling menahan diri. Mereka saat ini mengambil langkah mundur dan bertahan. Namun, jika ada sebuah pemantik yang cukup sensitif, leluhur meyakini konfrontasi besar akan pecah.


Dengan ditarik mundur pasukan Benteng Tua Leluhur, Danau Perak disulap menjadi basis pertahanan yang kuat. Meskipun hanya terlihat beberapa personil di sana. Danau Perak memberikan kesan kuat dan tangguh.


Beberapa waktu basis pertahanan Danau Perak menerima tamu dan utusan dari Klan Wang dan Sekte Api Phoenix. Mereka mendiskusikan langkah aliansi ke depannya.


Langkah merapatnya elit kedua kekuatan tersebut membuah Sekte Pedang Bumi gerah bukan kepalang. Sikap Klan Cheng yang menyarungkan pedang membuat Sekte Pedang Bumi seperti anak ayam kehilangan induknya.


Beberapa hari ke depan patriark Sekte Api Phoenix benar-benar tidak jenak baik dalam aktifitas maupun saat tidurnya.


Kekuatan internal mereka mulai terpecah dalam beberapa faksi, antara lain faksi pendukung patriark yang bersekutu dengan Klan Cheng. Di sisi sebelahnya barisan tetua yang menentang patriark, mendukung persekutuan dengan Benteng Tua Leluhur.

__ADS_1


Sisi penentang patriark dipimpin oleh tetua pertama, Ayah Nian.


Di suatu ruangan tertutup Nian berhadapan dengan ayahnya. Tampak serius mendiskusikan sesuatu yang sangat mendesak.


“Sudah menjadi kesan publik bahwa Sekte Pedang Bumi menjadi sekte jahat. Ini karena kepamimpinan patriark yang seperti seorang berandal gunung. Sekte ini awalnya didirikan leluhur sebagai sekte yang mulia dengan jalur pedang.”


“Sekte Pedang Bumi di bawah patriark tak lebih tak bukan menjadi sekte bromocorah belaka.” Nian mengungkapkan ketidakpuasan.


“Kamu, dari mana belajar kata-kata itu.” Tetua Pertama bernada tinggi. Di sisi lain dia ingin memotong lidah tajam putranya, namun perkataan Nian juga sangat benar. Sesuai fakta yang dia rasakan sendiri.


Nian menghiraukan hardikan ayahnya. Tatapanya masih fokus dengan tekad kuat menatap ayahnya. Membuat ayahnya akhirnya melepas nafas panjang.


“Maksudmu, Ayah harus merebut posisi patriark saat ini? Sebelum kekuatan Benteng Tua Leluhur menggiling kita?” Tetua Pertama mengajukan pertanyaan misterius kepada Nian.


“Apakah ayah punya rencana lain?” Nian menyorot tajam mata ayahnya yang sayu dan terlihat lelah.


Tetua Pertama menenggelamkan punggung dalam-dalam pada kursinya. Terasa dunia dengan sangat cepat berubah. Dia merasa kedua pundaknya semakin berat. Matanya terpejam dengan erat.


“Leluhur memang tak akan ikut campur dalam urusan internal seperti ini. Pemberontakan ini sangat berbahaya, Pihak Patriark memiliki kekuatan yang lebih besar dari kubu kita.” Tetua Pertama menyampaikan rasa keberatan. Dia memiliki kemantapan dalam hati, namun adakalanya akal sehat menahannya.


Nian mengeluarkan toples berisi kepala Lady Chi, adik dari istri patriark. Sementara Tetua Pertama tak bergeming hanya membuka matanya sedikit untuk melirik.


“Hadiah dalam toples ini akan membawa kehancuran sekte jika diterima oleh patriark. Ayah hanya perlu membuat keputusan sebelum toples ini sampai ke tangan patriark.” Suara Nian sayup sayup seperti terdengar dari kejauhan di telinga Tetua Pertama.

__ADS_1


__ADS_2