
Kisah ini bermula di era setelah peperangan besar yang dicatat sebagai perang pamungkas tiga belas dunia.
Saat invasi bangsa asing berhasil diusir, lembaran baru dimulai.
Rumput mulai tumbuh menghijau kembali. Genangan-genangan darah dan mayat ditenggelamkan bumi untuk direduksi menjadi kompos yang bergizi.
Hutan kembali lebat, burung burung kembali berkicauan.
Manusia mulai keluar dari lubang-lubang persembunyian untuk menatap dunia baru yang dilahirkan kembali.
Kecemasan, ketakutan dan trauma mulai dilupakan setelah generasi demi generasi berlanjut. Manusia benar-benar memulai segalanya kembali.
Banyaknya sekte besar yang roboh serta para prajurit yang gugur menjadi berkah tersembunyi bagi kultivator-kultivator pemula untuk menjarah dan mewarisi reruntuhan yang tersebar di segala penjuru dunia.
Kala itu dunia sempat gempar dan takjub oleh seorang ahli pedang yang sangat terkenal karena kecakapan yang dimilikinya tiada tanding. Dia adalah seorang pengelana antah dari mana tak seorang yang tahu. Dia dijuluki sebagai pedang dewa.
Dia tidak bergabung dengan sekte atau mendirikan sekte. Dia berkelana sendirian hingga masa akhir hidupnya.
Tidak banyak kisah diceritakan tentang kehidupan pribadinya. Sejarah hanya mencatat prestasi dan kegemilangannya selama hidup.
Namun siapa yang tahu, sang pedang dewa sebenarnya memiliki dua orang anak lelaki yang dirahasiakan. Potensi keduanya sangat hebat seperti ayahnya, dirasa memang keduanya mewarisi bakat penuh ayahnya.
Keduanya merahasiakan identitas dan bergabung dengan sebuah sekte, mereka di masa dewasa mengukir kegemilangan dan prestasi dengan kemampuan sendiri. Tanpa dibayangi kekuatan dan pengaruh kebesaran pedang dewa.
__ADS_1
Hingga pada suatu masa keduanya mendirikan sektenya sendiri. Yang sulung mendirikan Sekte Pedang Surgawi di dunia keenam dan si bungsu mendirikan Sekte Pedang Bumi di dunia keempat.
Kedua sekte ini secara teknis adalah bersaudara. Kedua pendiri ini tidak suka bicara, terkesan mereka tidak akur semasa hidupnya. Namun mereka selalu saling membantu saat dalam masa bahaya.
Ini adalah cerita di masa yang sangat jauh dan telah terlupakan.
Patriark Sekte Pedang Bumi tertawa terbahak bahak hingga mengguncangkan meja besi di depannya. Dia sangat menyombongkan posisi sektenya atas afiliasi dari sekte terkuat di dunia keenam. Sekte Pedang Surgawi.
Pantas saja meskipun Sekte Pedang Bumi mengalami penurunan beberapa kelas, rasa sombong terus mendominasi tiada henti. Patriark diam diam menikmati hubungan kuat ini. Dia sangat leluasa berjingkrak semaunya mengandalkan kekuatan di belakang layar.
“Hari ini salah satu murid inti Sekte Pedang Surgawi berada di tempat ini untuk merekrut murid elit. Bukankah ini adalah kesempatan yang sangat bagus untuk menyerang?” Patriak membanggakan backingannya.
IIIIINNNN IIINNNNNIIIIIIIIIIIIIIIII…………..
IIIIINNNN IIINNNNNIIIIIIIIIIIIIIIII…………..
Nian menyembunyikan ekspresi kecut di balik fitur wajah tanpa ekspresi. Dalam batinnya dia ingin mengutuk fakta terkuak yang disembunyikan patriarknya. Keadaan ini semakin menyulitkan kubunya.
Sementara kubu tiga Tetua Ni makin kecut, keempat tetua di pihak patriark merekah dengan senyum kepuasan. Mereka mendapatkan pijakan yang kuat dan sangat bisa diandalkan.
“Kita serang Klan Wang dan Sekte Api Phoenix, dan biarkan mereka menyerang kita. Jika mereka melukai tamu murid dari Sekte Pedang Surgawi. Sudah pasti celakalah mereka.” Patriark tertawa terbahak-bahak.
Diikuti oleh keempat tetua yang juga tertawa terpingkal-pingkal.
__ADS_1
“Para murid di alun-alun sudah siap tempur, kita menanti perintah anda patriark.” Tetua Ketiga sudah tak sabar lagi ingin memulai serangan.
“Sebentar lagi, Aku sedang mempertimbangkan hukuman untuk Tiga Tetua Ni ini.” Patriark menatap tajam wajah-wajah Tetua Ni yang menahan kecut sangat tak sedap dipandang.
Namun Tetua Pertama menyela.
“Lakukan sesuka kalian, kami akan menahan diri di mansionku. Ni Lokong dan Ni Fang ikuti aku!” Tetua Pertama berbalik arah meninggalkan meja pertemuan diikuti kedua tetua dan murid langsung mereka.
Hutan perbatasan Sekte Pedang Bumi
Jing Jun berdiri tegak menatap menara-menara tinggi yang menjulang ke langit, sangat megah menawan seperti pedang raksasa yang ditancapkan oleh para dewa. Mau tidak mau dia masih mengagumi untuk kesekian kalinya.
Beberapa bulan yang lalu dia mulai menantang para murid Sekte Pedang Bumi dengan kemenangan mutlak.
Chen Dewei dengan topi bambu lebar bersandar pada pohon pinus. Dengan tangan bersedekap, berbeda dengan Jing Jun dia pada malam hari ini menikmati aliran udara dingin yang menyengat kulitnya.
“Chen Dewei, kita berdua akan menerobos masuk ke dalam ratusan ribu murid Sekte Pedang Bumi dalam waktu cepat. Bagaimana kepercayaan dirimu? Aku sangat canggung tidak terbiasa di depan banyak musuh seperti ini.” Jing Jun cukup khawatir.
“Maksudmu kamu semacam terkena demam panggung?” Chen Dewei membalas.
Jing Jun mengambil nafas dalam dalam. Dia meregangkan tubuhnya berulang-ulang. Bagaimana pun ini adalah pengalaman yang berbeda dari sebelumnya. Terkait berhadapan dengan jumlah musuh yang tak masuk akal.
“Ini masih lumayan menurutku. Aku lebih merada dan jauh lebih susah saat bersama tuan muda. Menurutku berhadapan dengan orang-orang Sekte Pedang Bumi ini jauh lebih baik. Hahaha…” Chen Dewei berkelakar, dia bermaksud mengurangi rasa canggung Jing Jun.
__ADS_1
Jing Jun pun ikut tersenyum dan tertawa kecil.