Legenda Raja Abadi

Legenda Raja Abadi
Setelah Badai


__ADS_3

Nenek Leluhur sangat terkejut melihat seorang pria tua turut jatuh dengan keadaan memprihatinkan diantara puing-puing bangunan yang jatuh.


Bahkan leluhur sekte pun turut menjadi tumbal tanpa bisa melakukan apa-apa. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya. Sungguh naif.


Kekuatan baru telah muncul di dunia pertama. Tak lama dalam beberapa waktu ke depan, kekuatan ini akan mulai menyebarkan pengaruhnya.


Saat itu terjadi, Nenek Leluhur membayangkan bahwa Dunia Kabut Awan akan penuh dengan asap hitam.


Nenek Leluhur segera membubarkan perisai perlindungannya, kemudian dia menghilang dengan sekejap dari tempatnya berdiri.


Di dekat meriam besar.


Li Hua dan Jing Jun telah tiba. Mereka berdua melihat Fang Yi masih diam berdiri di atas moncong meriam menyaksikan jatuhnya mayat dan puing-puing bangunan dari awan merah yang diselimuti kilat dan suara guntur yang bergemuruh.


Fang Yi kemudian berbalik badan untuk melihat duo yang datang kepadanya.


"Jangan bertanya, Aku sendiri pun tidak tahu dan tidak menyangka ternyata terjadi sedemikian rupa. Sangat jauh dari apa yang kubayangkan."


"Kalian tahu, Meriam ini masih bisa menembakkan 49 peluru lagi." Fang Yi berkata dengan parau.


Duo bisa melihat tubuh Fang Yi saat ini sedang bergetar. Ketiganya juga masih merasakan ketakutan hebat. Terutama bagi Fang Yi atas meriam yang dioperasikan olehnya seorang diri.


Kedua watcher yang berada tak jauh dari lokasi meriam mendengarkan ucapan Fang Yi dengan sangat jelas.


Para pengamat dengan penguatan indra mereka juga mendengar perkataan Fang Yi dengan cukup jelas.


Mereka semua memejamkan mata dan menahan jantung di dada yang bergejolak hebat.


Mereka tak ada lagi kata-kata yang ingin diucapkan.


Kejadian barusan tidak cukup diungkapkan dalan sebuah kalimat.


"Kalian sudah berbicara dengan Tuan Muda ?" Fang Yi bertanya.


"Kami sudah menghubungi beliau saat kami menuju ke arahmu." Li Hua menjawab.


"Bagaimana Tuan Muda menyikapi hal ini ?" Fang Yi sangat penasaran. Nadanya sangat tidak sabar menanti kalimat yang akan diucapkan Li Hua.


Li Hua termenung dan menatap Fang Yi dengan tajam.


"Tuan muda tampak ceria dan tertawa terus menerus. Dia bilang kalian semua pasti suka dengan kembang apinya." Li Hua mengulang ucapan Mao Yu.


"Astaga..."


Fang Yi kemudian bersila di atas meriam dengan kedua tangan menutup wajahnya.


Suara Li Hua memecah keheningan di seluruh area. Dia menggunakan jimat pengeras suara dan membuat pengumuman besar.


"Ibukota Pusat sekarang berada dalam yurisdiksi Mansion Tua Leluhur. Mansion Tua Leluhur adalah resort resmi milik Benteng Tua Leluhur di Benua Selatan."


"Setelah ini kami akan memberikan ganti rugi atas segala kerusakan yang terjadi dan menjamin keamanan seluruh kota seterusnya di masa depan."

__ADS_1


"Segala bentuk pelecehan terhadap kehormatan mansion dan benteng, kami telah memberi sebuah contoh di hadapan kalian semua. Yakni sebuah penghancuran dan pemusnahan."


"Cobalah lempar kami dengan sebuah ludah. Kami akan mengembalikan kepada kalian sepuluh tembakan meriam." Li Hua mengakhiri pengumumannya.


Para pengamat ahli yang mendengarkan kalimat Li Hua tak berani melawan, menyangkal atau meremehkannya. Kekuatan yang dimiliki mereka semua jauh di bawah Sekte Tiga Jubah Kebenaran.


Sekte sebesar itu pun akhirnya menghilang dari dunia hanya dengan satu tembakan. Lantas bagaimana dengan nasib kami saat kami berani menentang ?


Hujan mayat dan puing-puing bangunan telah mereda. Awan Merah perlahan-lahan normal kembali. Sinar matahari pagi yang hangat pun akhirnya muncul normal seperti sedia kala.


Badai telah berlalu.


Akhirnya waktu demi waktu para pengamat dan ahli meninggalkan bangku pemirsa. Disusul para penduduk kota yang berbondong-bondong kembali menuju kediaman mereka.


"Pak Tua Shi, Apakah yang kami lihat ini adalah kekuatan utama mansion ?" Watcher pipi tirus berkata.


"Tua Chao, Bahkan yang kamu lihat ini masih seujung kuku dari kekuatan sebenarnya. Jika kalian ingin mengetahui seberapa besar kekuatan sejati mansion. Kalian sudah pasti saat itu menjadi mayat kering." Pak Tua Shi menjelaskan.


"Apa yang harus kami lakukan sekarang ?" Watcher berbadan tegap bertanya.


"San Ming, Ikuti aku ke kuil kita beristirahat dan berbicara di dalam sana." Pak Tua Shi berjalan menuju kuil diikuti duo di belakangnya.


Yang-er dan para pelayan telah keluar dari bunker. Mereka beraktifitas dengan normal seperti sedia kala.


***


Di perbatasan selatan.


Seorang pemuda dengan seekor monyet di bahunya berdiri di depan pasukan Kekaisaran Bahr yang berbaris rapi.


Mao Yu berdiri dengan santai, di hadapannya berdiri seorang pria besar dengan jenggot tebal. Dijamin anak kecil melihat pria ini akan langsung menangis karena seram wajahnya.


"Jika kalian telah mendapatkan breaking news, kalian tahu apa yang harus kalian lakukan." Mao Yu memulai percakapan.


Panglima Kekaisaran Bahr di depannya hanya diam tak bersuara.


"Pulanglah kalian semua, Kalian terlalu banyak bertaruh jika berani membuat langkah di kota kami." Mao Yu sedikit mengancam.


Panglima menoleh ke belakang melihat ratusan ribu pasukannya yang berbaris dengan rapi. Dia membayangkan semuanya akan menjadi abu dalam sekejap mata.


Berita tentang kehancuran sekte besar di dunia kedua membuat keyakinannya menjadi goyah.


Mereka menjadi puing-puing karena telah berani berbuat onar di halaman rumah pemuda yang berada di depannya ini.


"Jadilah sekutuku. Aku menjamin laut-laut di Archipelago tidak akan menjadi lautan darah di masa mendatang." Mao Yu melemparkan proposal.


Panglima menerima sepucuk kertas dari Mao Yu, kemudian dia berbalik meninggalkan pemuda dengan monyet di bahunya.


Panglima berjalan dengan langkah cepat menuju pasukannya.


"KITA PULANG !" Panglima berteriak.

__ADS_1


UUURRRRRAAAAAA.........


UUURRRRRAAAAAA.........


UUURRRRRAAAAAA.........


Seluruh prajurit berseru lantang. Gema suaranya mengguncang langit perbatasan selatan.


Inilah yang menjadi keinginan semua prajurit. Untuk segera kembali ke Kekaisaran Bahr dengan nyawa yang masih di dalam tubuh yang utuh.


Orang-orang terkasih dan keluarga menanti kepulangan mereka semua.


***


Di Benteng Tua Leluhur.


Mao Yu duduk seperti biasa di bawah pohon willow, menikmati secangkir teh.


Mulai saat itu benteng banyak dikunjungi sekte dan klan besar. Para bigshot segera mengirim utusannya untuk menyatakan dengan hormat memberi selamat dan doa sejahtera atas berdirinya benteng.


Mao Yu sangat malas dengan acara seremonial seperti ini. Shen Mubai dan Mo Tian yang menyambut kedatangan mereka di aula utama benteng.


Para pengunjung membawa hadiah yang sangat banyak hingga hampir seluruh aula utama penuh tumpukan harta. Shen Mubai sangat cocok dalam hal menjamu tamu seperti ini. Juga Mo Tian ini saatnya dunia mengenalnya sebagai penerus Klan Mo sang penguasa Kota Kekaisaran.


Salah satu tamu mendatangi Mao Yu di bawah pohon willow setelah mendapatkan persetujuan.


Dia adalah seorang laki-laki tua berambut putih.


Mao Yu mempersilahkan duduk.


"Tempat yang sederhana dengan pemandangan indah. Di bawah pohon besar adalah tempat terbaik dalam menikmati sejuknya udara." Laki-laki tua menyatakan sanjungan.


"Wang Xuemin, Kamu telah datang dari jauh. Duduklah dengan benar, kamu harus mencoba teh kami." Mao Yu menuangkan teh pada cangkir kosong di atas meja.


Wang Xuemin tertawa kemudian segera menyambar cangkir dan menyesap tehnya dengan gerakan indah.


"IIINNNNNN INNNNNIIIIIIIIIIIIIIIIIIII............"


Wang Xuemin merasakan energi yang berdebar dari perutnya. Teh mengalirkan energi unik yang memicu semangat dan vitalitasnya naik berkali-kali lipat. Teh ini memberikan dampak panjang umur. Dia berseru.


Astaga, daun teh ini diseduh dengan air suci.


Mata Wang Xuemin melihat kebun teh dengan varietas unik yang dia sendiri tidak tahu ini jenis teh apa.


Teh ditanam di samping lahan pertanian yang berwarna hijau royo-royo penuh sayur mayur dengan kesuburan tinggi. Dia menelusuri parit kecil yang mengairi keduanya.


Dia menemukan air dialirkan dari sebuah pancuran kecil bebatuan di tepi danau.


"IIINNNNNN INNNNNIIIIIIIIIIIIIIIIIIII............"


Sumber mata air suci !!! Digunakan hanya untuk irigasi !!!

__ADS_1


Punggung Wang Xuemin longsor pada sandaran kursinya. Seolah-olah tulang punggungnya menjadi lunak karena dipresto selama dua jam.


__ADS_2