Legenda Raja Abadi

Legenda Raja Abadi
Kertasku Banyak


__ADS_3

Mao Yu dan Shen Mubai mengendarai kuda menuju hutan utara.


Mereka memacu kuda dengan kecepatan sedang melewati padang rumput yang luas. Savana dengan beberapa pohon besar dan rindang.


Mao Yu merencanakan membuat sebuah benteng di sini. Pandangannya mengunci ke segala arah untuk membayangkan tata letak bangunan dan berbagai sarana nantinya.


Perjalanan tergolong singkat menuju lokasi camp Sekte Cawan Suci. Mereka telah sampai di camp utama dengan dihadang beberapa murid sekte.


"Tuan Mudaku bertamu. Sambutlah tamu kalian dengan mulia." Shen Mubai berteriak dengan lantang.


"Dia Shen Mubai. Penanggung jawab paviliun Shen." Salah seorang murid menginformasikan kepada kerumunan temannya.


"Kalian orang yang datang kepada rahang maut. Penatua pertama tak perlu repot-repot lagi membuat kalian keluar. Cepat beritahu penatua pertama !" Murid dengan tombak berkata.


Mao Yu dan Shen Mubai turun dari kudanya.


Seorang pria kekar masih tampak sangat muda tiba menemui mereka berdua. Di belakangnya berdiri dua sesepuh yang merupakan penatua ketiga dan kelima Sekte Cawan Suci.


"Kalian adalah orang-orang yang membunuh putriku se.... " Penatua pertama berkata dengan nada yang keras.


Namun Mao Yu memotong ucapannya.


"Tidak perlu mengulang-ngulang cerita. Sudah jelas kami siapa dan kamu siapa. Kamu tinggal melakukan saja apa yang kamu inginkan. Bukankah kami ada di sini sekarang ?" Mao Yu berkata dengan santai.


"Aku akan menegaskan, kamu Penatua Pertama membalaskan dendam putrimu atas namamu sendiri atau kamu membawa sekte bersamamu ?" Mao Yu bertanya.


"Jika kamu membawa sekte, nasib sektemu akan tak jauh berbeda dengan nasib Klan Xin di Ibukota Pusat." Mao Yu memberikan ancaman.


Para murid segera berkasak-kusuk. Siapa anak muda ini beraninya mereka berkata lancang di depan penatua pertama. Apakah anak ini bosan hidup, hah?


Penatua ketiga maju beberapa langkah ke depan.


"Atas dasar apa kamu mengancam memberantas sekte kami dengan menyamakan terhadap kehancuran Klan Xin ?" Penatua Ketiga menantang Mao Yu.


"Aku tuan muda Mansion Tua Leuluhur. akulah yang memanggang patriark mereka beserta seluruh ahli mereka. Melakukan hal yang sama dengan sektemu hanya semudah membalikkan tangan." Mao Yu berbalas mengancam.


Penatua Ketiga kaget, secara spontan dia mengambil langkah mundur kembali.


Para murid segera berkerumun dan saling membahas kejatuhan klan Xin. Jika pemuda di depan mereka ini adalah benar Tuan Muda Mansion Tua Leluhur. Maka ancaman kebinasaan sekte yang dia ucapkan pasti benar terjadi.


Karena kekuatan Sekte Cawan Suci masih berada di bawah Klan Xin beberapa tingkat.


Penatua Ketiga dan Kelima memandang dengan serius Penatua Pertama. Menunggu kalimat apa yang akan dia ucapkan.


"Hanya aku cukup untuk membasmi kalian. Tidak perlu dengan membawa nama sekte." Penatua Pertama tidak ingin menunda lagi. Dia melangkah maju untuk memulai serangan.


Shen Mubai hendak menghadang, namun Mao Yu melarangnya. Mao Yu juga memberikan perintah kepada Shen Mubai untuk mengambil jarak sejauh mungkin.

__ADS_1


Mao Yu akan menghadapi Penatua Pertama seorang diri.


Duel telah dimulai. Pihak yang tidak berkepentingan mengambil langkah ke belakang untuk membuka ruang.


Para murid akan melihat keganasan Penatua Pertama mereka.


"Mansion Tua Leluhur kuat karena persenjataan mereka yang bagus dan banyaknya ahli di saat itu. Ini hanya satu orang saja, tidak akan sulit." Penatua Ketiga memberikan penilaian.


"Bocah ini tanpa kultivasi, mengatasinya tidak butuh lima detik." Penatua Kelima berpendapat.


Mao Yu mengambil loncatan mundur ke belakang dengan melemparkan kertas mantra peledak.


BOMM... BOMM... BOMM...


Ledakan tidak membuat luka apa pun kepada Penatua Pertama karena ranah kultivasinya yang tinggi.


Meskipun begitu dia masih terpengaruh sedikit oleh gelombang efek ledakan. Membuat pergerakannya sedikit terganggu.


Penatua pertama terus maju dengan kecepatan tinggi menuju Mao Yu.


Mao Yu mengambil langkah terus mundur atau menghindar dengan terus menerus melempar kertas mantra peledak yang sama.


BOMM... BOMM... BOMM...


"Bocah itu ternyata cukup gesit juga." Penatua Ketiga menyaksikan dengan mata fokus.


BOMM... BOMM... BOMM...


Mao Yu terus menghujani lawannya dengan mantra peledak. Menyebabkan Penatua Pertama selalu kesulitan mendekati sasarannya.


Kertas mantra ini tergolong mahal. Masih tersisa berapakah yang dimilikinya. Kurasa sudah habis, ledakan barusan adalah yang terakhir. Para murid saling berdiskusi.


Mao Yu mengeluarkan 500 lembar kertas mantra peledak. Kertas-kertas mantra ini berasal dari perbendaharaan Night Lily yang dicuri Kong Kecil.


"INN ... INNNIIIIII...... " Para murid tercengang. Dugaan mereka semuanya salah.


"Satu kertas hanya membuatmu gatal. Bagaimana kalau aku melempar semuanya ?" Mao Yu tersenyum.


Penatua Pertama merasakan kulit kepalanya gatal kali ini. Jika 500 lembar mengenai dirinya, dipastikan dia akan kehilangan salah satu anggota badannya. Entah itu tangan atau kakinya.


Dia segera mengambil langkah antisipasi dengan terbang ke udara.


Di atas udara Penatua Pertama mengeluarkan pedang tipis. Dia lantas menebaskan ke udara membuat serangan beberapa flash pedang menuju Mao Yu.


Mao Yu menggunakan persepsi jiwa untuk menggerakkan beberapa kertas mantra sekaligus menuju jalur flash serangan pedang dengan tepat.


BOMM... BOMM... BOMM...

__ADS_1


BOMM... BOMM... BOMM...


BOMM... BOMM... BOMM...


Penatua Pertama terus menebaskan serangan pedangnya bertubi-tubi. Flash-flash pedang segera disambut dengan beberapa kertas mantra peledak di udara.


Penatua Pertama tetap tidak berani mendekat kepada Mao Yu. Dia masih takut dengan efek banyak kertas jika diledakkan bersamaan mengenai dirinya. Jika ini terjadi akan sangat merugikan posisinya.


Serangan yang bertubi-tubi ini dia maksudkan untuk menguras stok kertas peledak milik Mao Yu.


Penatua Pertama akhirnya melihat kertas di tangan Mao Yu telah menipis menyisakan beberapa lembar. Dia membuat ancang-ancang mantap untuk segera menebasnya secara langsung dengan bilah pedang.


"Tamat sudah nasib bocah, kertas peledak hanya tinggal beberapa." Salah satu murid berkata.


"Hah kamu jangan sok pede..." Mao Yu mencibir.


Mao Yu mengeluarkan 2.000 kembar kertas peledak. 2.000 lembar langsung dia lemparkan kepada Penatua pertama yang sedang melesat menghampiri dirinya.


"INN IIINNNIIIII...."


Penatua Ketiga, Kelima dan para murid mundur dengan cekatan ke belakang dengan tercengang. Mereka lari sejauh mungkin mereka bisa.


Berapa kekayaan yang dimiliki anak ini hingga demikian banyak kertas mantra peledak yang dimilikinya.


Melihat 2.000 kertas melayang kepada Penatua Pertama, seluruh anggota Sekte Cawan Suci mengeratkan kepal tangan mereka. Mengkhawatirkan nasib penatua jika dia terkena ledakan langsung.


"Sial, aku terpaksa menggunakannya." Penatua Pertama mengumpat.


Dia mengambil sebuah liontin yang merupakan harta tinggi pertahanan. Ini akan berfungsi menahan satu serangan yang kuat. Ini adalah harta penyelamat nyawa.


Liontin bersinar terang hingga sinarnya menyelimuti Penatua Pertama.


KABOMMM....


Ledakan besar terjadi hingga membentuk awan jamur di angkasa. Debu bercampur asap segera memenuhi area duel. Menenggelamkan Mao Yu dan Penatua Pertama dari para penonton.


Ledakan besar juga mengacau energi di sekitar. Membuat para penatua kesulitan memantau kondisi terkini pertempuran dengan persepsi mereka.


Penatua Pertama jatuh ke tanah dengan memuntahkan seteguk darah. Walaupun di dalam harta perlindungan, dia masih terkena gelombang kejut energi ledakan.


Energinya kini sangat terkuras akibat proses bertahan. Dia sekarang dalam keadaan terengah-engah.


Penatua Pertama melihat bayangan seorang pemuda dari balik debu dan asap mendekati dirinya.


Mao Yu mendatangi Penatua Pertama dengan langkah kaki yang pelan.


Entah kenapa kali ini Penatua Pertama merasakan sebuah teror di pikirannya.

__ADS_1


__ADS_2