
Pagi yang cerah
“Pelayan tua, gunakan token ini saat memasuki area suci.” Fang Shi menyerahkan lencana logam yang hampir serupa dengan milik Lei Teng dan Lei Yi.
“Pastikan kalian menandai token dengan meneteskan darah kalian sendiri.” Shen Mubai memastikan dengan cermat.
Dirasa persiapan telah cukup mereka berempat menuju sebuah bangunan dengan bukit kecil di belakangnya.
Penjaga memberi hormat kepada mereka di sepanjang jalan hingga mereka tiba di depan gua pada bukit kecil tersebut.
“Kita masuk…” Shen Mubai mengarahkan.
Mereka berjalan pada lorong gua yang temaram.
“Cukup lama kita tidak menuju area suci, huh?” Fang Shi menggumam.
“Terakhir kali saat itu.” Shen Mubai menjawab.
“Udara menjadi lebih kental dengan origin. Bahkan area terluar setara dengan area dalam dalam waktu sepekan.” Fang Shi merasa heran.
“Udara di area dalam jauh berkali kali lipat. Benteng Tua Leluhur telah bertransformasi sekali lagi. Benteng ini hidup, seperti memiliki arwahnya tersendiri.” Shen Mubai menimpali.
Ketiga orang di belakang dua pimpinan ini hanya mendengarkan apa yang mereka perbincangkan. Mereka berusaha adaptasi dan memahami dengan baik pengetahuan yang mereka dapatkan.
“Berhenti…” Suara serak bergema dari kegelapan lorong. Dua mata merah bersinar dari balik zirah besi hitam yang tebal dan berat.
Kelima orang yang berjalan menyadari leher sedikit terasa dingin akibat dikalungi oleh beberapa bilah pedang oleh beberapa pasukan zirah logam hitam lainnya.
Gua mendapat sedikit pencahayaan lebih terang.
Tiap satu orang dikelilingi lima prajurit lapis baja dengan kelimanya menghunus pada leher masing masing.
Lebih dari itu mereka dikepung beberapa puluh pasukan serupa dengan tombak menghunus kea rah mereka. Sementara menempel di dinding-dinding gua, pasukan serupa namun dengan zirah lebih fleksibel meregangkan busur-busurnya siap menembak jantung mereka.
Pengepungan!
__ADS_1
Zirah yang lebih besar mendekat yang merupakan komandan dari pelindung area suci. Mereka Nampak seperti pasukan zirah emas dan zirah perak yang dibawahi Shen Mubai dan Fang Yi.
“Tak diizinkan memasuki area suci…” Dengan suara parau yang mengancam.
Lei Teng, Li Hua dan pelayan tua gemetar tak karuan. Prajurit lapis baja ini sungguh di luar jangakauan mereka. Bahkan mereka saat ini pun seperti terkunci segala kekuatan mereka.
Penyegelan paksa.
Salah kata, salah langkah maupun salah ucapan ucapkan selamat tinggal kepada kepala.
“Tunjukkan lencana kita.” Fang Shi berkata, dia mengangkat lencananya kemudian diikuti oleh semua orang.
Komandan zirah hitam cukup lama memindai satu per satu lencana di tangan masing-masing orang.
“Astaga, aku takut sekali…” Lei Yi bergidik ngeri. Dia sama seperti ayahnya tak berdaya.
Namun Lei Teng hatinya jauh lebih kuat. Mentalnya telah dibabtis dari seringnya ketakutan dan keterkejutannya belakangan ini.
Keheningan akhirnya mencair.
Seketika gua menjadi gelap kembali dengan cahaya temaram. Perasaan dingin lenyap dari leher dan dari perasaan di dalam jiwa. Mereka melanjutkan berjalan.
Hualaaa…
Pemandangan kelas surga Nampak dalam penglihatan mereka.
IIIIINNNN IIINNNNNIIIIIIIIIIIIIIIII…………..
IIIIINNNN IIINNNNNIIIIIIIIIIIIIIIII…………..
IIIIINNNN IIINNNNNIIIIIIIIIIIIIIIII…………..
Kelimanya wajib berseru secara nyaring.
Udara sangat berat dengan kekentalan energy origin di luar nalar. Mereka menghirup seakan memiliki paru paru kuda. Mereka tak mau melewatkan kesempatan langka ini.
__ADS_1
Mereka menerobos ranah dan misteri yang sulit ditembus. Bahkan Lei Yi menerobos secara langsung secara estafet. Keberuntungan yang luar biasa. Menghemat upaya beberapa tahun kultivasi.
Sebagai adat mengunjungi area suci, mereka wajib mengunjungi kuil terlebih dahulu untuk membersihkan diri dan membakar dupa. Mereka melaksanakannya dengan baik dan khusyu.
“Ehm, tuan biksu mohon dimaafkan. Kurasa ini sangat canggung. Di mana tempat kamar mandinya. Aku sangat gugup hingga harus ke belakang.” Lei Yi malu malu.
Biksu Chang Yi tersenyum dan menunjukkan arah di belakang kuil. Lei Yi segera menuju arah yang ditunjuk.
Ah, leganya…
Saat keluar dari kamar mandi dia melihat sosok pemuda berpakaian hitam yang nampak dia kenali. Rupanya pembuat onar yang ditemuinya di pemandian kala itu.
“Bah… Kamu cowok pembuat masalah !!!” Lei Yi menyalak tajam.
“Kamu… Ah, cowok cantik.” Mao Yu menoleh.
“Kemari, kuhajar kau… Urusan kita belum beres.” Lei Yi memusatkan api violet di tangannya. Namun dalam waktu singkat apinya padam seketika beserta seluruh kekuatannya disegel paksa oleh sesuatu tak terlihat.
Sesaat Lei Yi mendapatkan kesadarannya dari linglung sejenak. Dia merasakan kembali hal dan pengalaman yang sama.
Jendral berzirah baja hitam berdiri di belakangnya dengan pedang terhunus ke lehernya. Rasa dingin nya menusuk hingga jiwanya.
Lei Yi melihat ada tiga bibi gendut mengacungkan senjata kepadanya. Bibi petani satu menodongkan sabit, bibi petani kedua menodongkan cangkul sedangkan bibi dengan pakaian pendeta menodongkan tombak yang terlihat angker tepat di jantungnya.
Hiii… Lei Yi bergidik ngeri dengan lutut lemas. Dia ingin kencing di celana, namun sayangnya dia barusan keluar dari kamar mandi.
Tak ada air lagi untuk dikeluarkan.
“Cukup, dia adalah temanku…” Mao Yu tertawa riang.
Lei Yi “ … “
Di meja perjamuan di bawah pohon willow, Lei Yi duduk dengan tatapan kosong. Dia masih shock bahwa dia di pagi yang cerah ini hampir kehilangan nyawanya dua kali.
Sementara pelayan tua sangat gembira dia dapat bertemu dengan sang penguasa yang gagah.
__ADS_1