Legenda Raja Abadi

Legenda Raja Abadi
Cenayang


__ADS_3

Perluasan dan pembangunan Paviliun Shen telah dimulai.


Suasana sangat ramai dengan banyaknya tenaga kerja yang terlibat. Tenaga kerja yang disewa Shen Mubai lima kali lipat dari jumlah seharusnya. Ini dimaksudkan agar proyek dapat segera dituntaskan.


Hari-hari terlewat sangat damai. Para penghuni dapat berkultivasi dengan tenang.


Begitu juga dengan Mao Yu. Dia sekarang telah mencapai puncak tahap karapas jiwa. Dia menunggu saat yang tepat untuk menerobos.


Shen Mubai dan Li Hua menerobos ke kasaya emas pertama. Keluarga Zhou memiliki bibi yang pertumbuhannya sangat cepat. Dia mencapai kasaya perak kelima.


Paman Zhou dan Zhou Yan berada di kasaya perak ketiga. Sedangkan Zhou Ren berada di kasaya perak kedua.


Faktor umur sedikit memperlambat Zhou Ren. Namun ini masih tergolong bagus. Chen Dewei juga di tahap kasaya perak kedua saat dia berumur 13 tahun seperti Zhao Ren sekarang. Mereka berdua cukup beruntung mendapatkan perawatan yang memadai.


Mao Yu banyak mengisi waktunya dengan menulis. Beberapa buku tipis dan gulungan demi gulungan karyanya tertata rapi di sudut ruangan. Dia sehari hari ditemani Kong Kecil di kamarnya.


Apalagi yang dilakukan Kong Kecil selain makan dan makan. Kini Kong Kecil tidur telentang di samping Mao Yu yang menulis dengan perut bola.


Suara ketukan terdengar, Paman Zhou masuk.


Setelah mengambil tempat duduk yang nyaman, Paman Zhou memulai sesi konsultasi bersama Mao Yu.


"Tuan Muda, aku tidak tahu bagaimana aku akan berguna untukmu. Sejauh ini aku tidak mengembangkan skill pertempuran apapun." Paman Zhao mengatakan kalimat pertama.


"Belum saatnya untukmu tampil, akan ada waktunya sendiri nanti." Mao Yu menjawab pernyataan Paman Zhao sambil menulis.


"Aku menuliskan sesuatu untukmu." Mao Yu meletakkan kuas pena. Dia mengambil sebuah buku yang dia tulis semalaman.


Paman Zhou menerima sebuah buku tipis sekitar 20 lembar. Dia memandang sampulnya. Di sana tertulis "Sajak Api dan Es".


Paman Zhou membuka lembar pertama, Dia melihat bait-bait syair. Paman Zhou fokus membacanya, sejauh ini dia merasakan ini hanya syair biasa saja seperti pada umumnya.


"Kultivasi tidak hanya sebatas tentang energi. Namun kultivasi hati itu yang sangat utama. Paman Zhou di situlah tempatmu." Mao Yu memecahkan konsentrasi Paman Zhou yang sedangĀ  asyik membaca.

__ADS_1


Paman Zhou menutup buku. Dia memandang Mao Yu dengan hormat. Dia kemudian bertanya.


"Bagaimana itu Tuan Muda?"


"Kultivator baru bisa merasakan hatinya saat mereka berada di alam pembabtisan jiwa. Ketimpangan besar akhirnya muncul, saat kultivasi mereka tinggi namun hati mereka baru lahir dan masih lemah." Mao Yu menerangkan.


"Jika mereka tidak dapat menumbuhkan hati. Mereka tidak akan dapat membuat langkah dan kemajuan untuk kultivasi ke depan." Mao Yu melanjutkan.


"Paman, kau adalah orang sangat lembut dan penyayang. Orang Tuamu memberkatimu dengan memberikan 'hati' saat kamu lahir. Maka berkultivasilah dengan hati." Mao Yu meletakkan tangan di dada kirinya.


Paman Zhou merenung dengan dalam. Berusaha mencerna maksud Tuan Mudanya.


"Syair ini akan membantumu. Jika saatnya tiba nanti paman akan merobek dunia dengan mengendarai petir." Mao Yu berkata.


Paman Zhou tersentak. Jantungnya berdegup keras. Dia tidak dapat memahami perkataan Mao Yu barusan. Namun sesuatu yang menjadi tembok selama ini dalam pikirannya telah runtuh.


Semangat dan rasa percaya dirinya telah bangkit. Jika kita melihat mata Paman Zhao saat ini, tatapannya berbinar seolah berbicara tentang masa depan.


"Oya Paman Zhou. Aku selalu lupa menanyakan tentang bagaimana Bibi Zhou dengan tepat menemukan lokasi Zhao Ren diculik." Mao Yu berkata dengan penasaran.


"Aw, bagaimana itu?" Mao Yu tertarik dengan jawaban Paman Zhao.


Paman Zhou kemudian menceritakan dengan detil. Dia memiliki kakak perempuan yang mengabdikan diri di suatu kuil tua. Kuil itu terletak sekitar 10 mil dari arah utara Kota Kekaisaran.


Paman Zhou mengatakan bahwa kakaknya ini sangat buruk jika meramal tentang orang lain. Namun jika meramal seseorang yang memiliki darah yang sama dengannya dia cukup tepat. Dalam hal ini Zhao Ren adalah keponakannya.


"Oh, menarik. Aku kapan-kapan akan mengunjunginya." Mao Yu memutuskan.


Setelah berbincang-bincang cukup lama. Akhirnya Paman Zhou meninggalkan kamar Mao Yu.


"Little Kong, Bangun. Buat dirimu berguna sedikit." Mao Yu memarahi Little Kong yang sedang ngorok di ranjangnya.


Mao Yu melemparinya dengan buku. Namun dengkurannya malah makin keras.

__ADS_1


"Dasar anak ini..." Mao Yu merengut, kemudian dia melanjutkan menulis.


***


Mao Yu, Li Hua dan Kong Kecil pamit kepada Shen Mubai keesokan paginya. Dia akan berjalan-jalan melihat ibukota pusat di benua tengah.


Mao Yu menyerahkan 20 cincin berisi penuh jade kristal rendah kepada Shen Mubai. Menyerahkan sepenuhnya padanya untuk dia kelola. Baik untuk kultivasi para penghuni maupun biaya pembangunan paviliun.


Shen Mubai was-was bagaimana kekayaan ini dia bisa melindunginya. Meskipun berada di ranah kasaya emas pertama, dia belum cukup merasa kuat untuk mengatasi penjahat yang akan melakukan perampokan. Jika berjumlah banyak, apalagi jika memiliki kultivasi di atasnya.


"Jangan khawatir dengan keamanan paviliun. Aku meminta Lo Hua menjaga dari balik bayang-bayang. Beberapa tokoh kuat berada di sekitar paviliun ini. Itu orang-orang Lo Hua." Mao Yu mengatakan hal yang paling dikhawatirkan Shen Mubai.


"Ditambah saat aku pergi beberapa hari ke depan, aku juga meminta Lo Hua secara khusus berada di kota kekaisaran." Mao Yu menambahkan.


"Oh, Syukurlah..." Shen Mubai menjawab dengan lega.


Beberapa saat kemudian dua ekor kuda keluar dari gerbang paviliun.


Seorang dengan kostum petani berlari memasuki gang kecil yang sepi. Dia menoleh ke segala arah untuk memastikan dia sedang tidak diawasi.


Dia mengeluarkan jimat komunikasi khusus kemudian membakarnya sebagai pertanda pesan telah terkirim pada seseorang.


Ada lagi seseorang yang melakukan hal yang sama. Namun dia tidak menggunakan jimat komunikasi untuk mengirim informasi.


Dia menggunakan batu kristal putih seukuran bola tenis. Dia tampak berbincang-bincang cukup lama dengan batu kristal komunikasi.


***


Di sebuah ruang Night Lily Kota kekaisaran Xin Feng tersenyum lebar di hadapan beberapa orang. Mereka bersikap sangat hormat dengan kepala tertunduk. Mereka menunggu perintah dan siap menjalankan permintaan Tuan Puteri.


"Dia membeli tiket kematiannya sendiri. Buntuti, sergap dan tangkap Mao Yu hidup-hidup padaku. Aku tidak keberatan dia nanti berada di hadapanku tanpa kedua tangan dan kakinya. Potong saja..." Xin Feng memerintahkan.


"Dimengerti." Pemimpin mereka menjawab.

__ADS_1


Dengan sebuah ayunan tangan Xin Feng. Mereka semua memberi salam hormat, kemudian meninggalkannya seorang diri di dalam ruangan.


"Setelah aku mendapatkanmu. Aku akan mempertontonkan padamu bagaimana aku akan meratakan Paviliun Shen. Kamu akan melihat bagaimana tembok akan runtuh satu per satu." Xin Feng menggeram.


__ADS_2