Legenda Raja Abadi

Legenda Raja Abadi
Biksu Kuil


__ADS_3

"Kalian bertiga anak buah wanita bohay ?" Mao Yu bertanya.


Namun ketiganya diam. Sesuai kode etik dalam guild, mereka tidak boleh membocorkan informasi apa pun. Bahkan mereka diharuskan bunuh diri jika tertangkap.


Namun sayangnya mereka tidak bisa melakukannya, kerena kultivasi mereka disegel oleh Kong Kecil.


Mao Yu memegang kepala salah satu mata-mata.


Soul Devourer...


AAAAAAAAAA..


Teriakan ngeri terdengar sangat lantang. Mata-mata itu langsung menyusut ringsek menjadi manusia kering yang kemudian akhirnya ambruk.


Lo Hua dan kedua mata-mata langsung merasakan kepala mereka kesemutan. Terutama dua mata-mata, keyakinan mati ada di pikiran mereka. Namun, jika mati menjadi seperti ranting kering mereka tidak mau.


Kematian yang seperti itu sangat menyakitkan.


"Aku tidak membutuhkan informasi apa pun dari kalian. Jadi kalian jangan sok pede aku akan mengintrogasi kalian."


"Teman-teman kalian jelas pasti akan datang. Dan akan berakhir menjadi pupuk juga." Mao Yu berujar.


"Pusat tidak akan berhenti hingga kalian menjadi rata dengan tanah." Salah satu mata-mata mengintimidasi.


"Mereka yang sudah pasti akan rata. Kesalahan kalian adalah mencoba membuat urusan dengan benteng." Mao Yu menimpali.


Mao Yu melempar dua pisau kepada mereka berdua. Mereka pun tahu harus berbuat apa dengan pisau berada di tangan.


Mao Yu dan Lo Hua kembali ke bangku kayu di bawah pohon willow, meninggalkan mereka berdua.


Tak lama kemudian Lo Hua melihat akar pohon willow muncul dan menarik dua jenazah ke dalam tanah.


Mao Yu menyesap tehnya sedangkan Lo Hua menghela nafas panjang.


***


Setelah Lo Hua berpamitan muncul seorang tamu pria paruh baya botak.


"Amithaba...."


Pria botak merupakan seorang biksu dengan jubah abu-abu memberi salam kepada tuan benteng. Tidak ada yang istimewa sama sekali dari biksu ini


Badannya besar, tapi tidak berotot. Tingginya rata-rata, seperti orang pada umumnya.


Mao Yu mempersilahkan duduk di bangku bawah pohon willow.


"Nama saya Changyi, Aku mencium bau dupa, tak kusangka aku menemukan kuil di sini. Bolehkah hamba bermukim beberapa hari di kuil?" Biksu Changyi berkata dengan harap.


"Tinggallah, kuil tidak memiliki pengelola. Silahkan anda gunakan." Mao Yu menjawab.

__ADS_1


"Terima kasih Tuan." Biksu Changyi bersyukur.


Tatapan Mao Yu tajam menuju Biksu Changyi. Pandangannya menangkap bajunya yang lusuh dan tubuhnya yang terlihat capek.


"Kamu berjalan sangat lama. Apakah mengembara itu menyenangkan ?" Mao Yu bertanya.


"Sangat menyenangkan, Aku melihat banyak hal dan mendapatkan segala pengalaman hidup. Jika aku tetap tinggal di kuil, maka yang kulihat hanya bangunan dan asap dupa saja. Amithaba..."


"Jika kamu berjalan sangat jauh namun apa yang kamu cari tidak kunjung bertemu. Sampai kapan kamu akan mencari ?" Mao Yu menambah pertanyaan lain.


Biksu Changnyi merasakan seakan waktu telah berputar ke masa lalu. Saat masih sangat muda dia tiba di suatu kuil. Kemudian gurunya mencukur habis rambut dan memakaikan kasaya kepadanya.


Dia berlatih dan berdoa hingga mencapai usia dewasa.


Dia mengingat langkah pertama meninggalkan kuil menuju pengembaraan.


"Yang kamu cari tidak ada di dunia kabut awan. Bahkan jika kamu mencabuti semua rumput di tanah terlarang pun." Mao Yu menyesap tehnya.


"Amithaba..." Biksu Changyi memejamkan matanya kembali.


Waktu begitu lama mereka tidak berdialog setelahnya. Hanya menikmati udara sejuk dan angin sepoi-sepoi.


Chen Dewei membawakan nasi dan tumis sayur mayur dan menatanya di atas meja.


"Tuan biksu, jam makan siang telah datang. Mari kita bersantap bersama." Chen Dewei mempersilahkan.


Chen Dewei membereskan semua peralatan makan di atas meja. Kecuali mangkok nasi Biksu Changyi. Dia meninggalkannya tetap di atas meja.


"Mangkokmu tidak sempurna, penuh lubang. Alih-alih kamu memikirkan isinya. Kamu tuang air sebanyak apa-pun tidak akan menampung apa pun di dalamnya." Mao Yu berkata acuh


Bagai disambar petir Biksu Changyi terkejut bukan main. Dia menyadari selama ini dia mengembara adalah tindakan sia-sia.


Dia mencari isi dan melupakan bahwa mangkoknya sendiri adalah mangkok berlubang.


"Amithaba... Keserakahanku menutup akal sehatku, Aku tidak lagi pantas menjadi biksu."


Biksu Changyi melafalkan doa untuk menangkan hatinya.


"Karena kamu datang dari jauh dan terlalu lama mengembara, mungkin aku bisa memberimu sedikit tips."


"Kamu mengembangkan teknik yang tidak lengkap, bahkan sebagiannya adalah salah." Mao Yu berkata.


Biksu Changyi mengeluarkan sebuah gulungan kulit dari penyimpanannya. Meletakkan di atas meja, mempersilahkan tuan benteng untuk memeriksanya.


Dia tidak merasa khawatir jika gulungan ini dirampok Mao Yu maupun isinya bocor kepadanya. Melihat Mao Yu tanpa kultivasi, jika melakukan hal aneh maka Biksu Changyi akan dengan mudah membinasakannya berikut benteng dengan jari kelingking.


Adapun sejauh ini dia rendah hati adalah karena taatnya dia pada pengajaran kuil. Dia sangat menjunjung nilai-nilai dan etika seorang biksu.


Ditambah dia dalam pengembaraan untuk misi pencarian. Dia harus selalu terbuka dan menerima siapa pun orang tanpa memandang status. Bagaimana pun juga informasi dan peluang bisa datang dari siapa saja. Dia tidak mau melewatkan kesempatan.

__ADS_1


"Hamba menemukan gulungan di reruntuhan kuil." Biksu Changyi berkata dengan serius.


"Vreda Astagna." Mao Yu acuh tak acuh. Dia bahkan tidak melihat gulungan sama sekali.


Biksu membelalakkan mata. Dia terkejut berdiri hingga kursinya terguling jatuh. Kedua tangannya mencengkeram tepi meja hingga jarinya membuat bekas berupa lekukan di permukaan kayu.


Bagaimana tuan benteng bisa tahu? Di dunia ini hanya aku satu-satunya yang mengetahui.


Aku tak pernah mengungkapkan metode Vreda Astagna pada siapa-pun. Bahkan seluruh dunia belum pernah ada yang mendengar namanya. Ini adalah rahasia terbesarku.


Di tengah rasa terkejut yang luar biasa. Biksu berusaha untuk cepat menenangkan dirinya kembali. Dia menata kursinya dan duduk kembali dengan berusaha bersikap relaks.


"Amithaba..."


Mao Yu mengeluarkan lonceng kecil. Lonceng ini yang dibunyikan Kong Kecil saat pengusiran arwah hantu di Mansion Tua Leluhur.


Tidak ada yang istimewa dengan lonceng kecil, hanya lonceng biasa.


Mao Yu mengedarkan seluruh potensi kekuatan jiwa kepada lonceng kecil di tangannya.


Clinting... Clinting...


Clinting... Clinting...


Clinting... Clinting...


Mao Yu membunyikan dengan sebuah irama. Kadang pelan kadang cepat. Dalam satu ketukan kadang dibunyikan tiga kali kadang lima kali dan kadang lebih.


Antara bunyi satu dan berikutnya kadang Mao Yu memberi jeda singkat dan terkadang lama.


"INN IINNNNNIIIII..........."


Biksu Changyi berkeringat kelereng dari kepalanya yang botak. Tubuhnya bergetar hebat.


Suara lonceng merasuki jiwanya dan menggetarkan mangkuk retak yang penuh lubang di dalam tubuhnya.


Dia merasakan bunyi lonceng berpotensi menambal dan menutup semua lubangnya dengan sangat sempurna.


Bahkan bunyi lonceng juga menyediakan air untuk mengisi mangkoknya hingga penuh.


Bunyi lonceng telah pada bagian penutup.


Biksu Changyi langsung ambruk dan bersujud di depan Mao Yu.


"Sembahku untukmu, Guru."


Biksu Changyi meneteskan air mata kebahagiaan. Pencariannya akhirnya berakhir dari sekian era mengembara.


Hari ini tepatnya, wahyu pencerahan turun di bawah pohon willow.

__ADS_1


__ADS_2