Legenda Raja Abadi

Legenda Raja Abadi
Pekerjaan Rumahan


__ADS_3

Sejak kunjungan Zhou bersaudara tidak ada lagi pengunjung yang datang.


Mao Yu menghabiskan waktunya untuk berkultivasi dan menyalurkan hobinya.


Dia membuka lahan di samping pondoknya untuk menanam berbagai herbal.


Dia mengambil benih dari perbendaharaan Kong Kecil. Segala macam herbal dia tanam di sana dengan rapi sesuai jenisnya masing-masing.


Dia juga menanam berbagai macam sayur mayur.


Semuanya bertunas dengan baik. Dia menggunakan air suci untuk mengairi kebunnya.


Saat dia beristirahat dia merasa kewalahan mengurus semua tanamannya. Dia berfikir alangkah mudahnya pekerjaan jika dia memiliki tukang kebun.


Di saat yang bersamaan Chen Dewei datang.


"Aha..." Mao Yu sangat antusias menyambut Chen Dewei.


"Yuk bantu aku mengurus kebun. Aku kekurangan tenaga." Mao Yu sangat gembira.


Chen Dewei langsung merosot mentalnya. Seumur-umur dia belum pernah menjadi petani. Dia terbiasa hidup mewah dengan banyak kemuliaan di sekitarnya.


Sementara dia masih melamun. Mao Yu melemparkan cangkul padanya.


Akhirnya dengan gerakan canggung Chen Dewei memulai debutnya sebagai tukang kebun. Dia bertani.


"Kamu mencangkulnya terlalu dalam... "


"Kurangi tenagamu atau aku harus beli cangkul lagi..."


"Kamu harus membuat pematang yang lurus... "


"Hei awas, kamu menginjak tunas yang baru tumbuh... "


Mao Yu terus mengomel hingga Chen Dewei makin sebal. Bah, aku tak mau lagi. Aku ingin lari dari sini.


Namun bayangan gurunya muncul di pikirannya. Jika kamu melawan Tuan Muda maka jangan sebut aku gurumu lagi. Kamu hengkang dari sekte saat itu juga. Hiii... Dia bergidik ngeri.


Pasrah dan patuh. Inilah kondisi Chen Dewei sekarang.


"Hmm langit aneh rasanya mau turun hujan. Ayo kita cukupkan sampai sini, lagipula sudah petang juga." Mao Yu mengemasi peralatan pertanian.


Mereka berdua masuk ke pondok Mao Yu.


"Ayo ke dapur, kita masak ikan." Mao Yu bersemangat.


Chen Dewei yang lesu mengikutinya di belakang.


Mao Yu dari dulu ingin sekali memasak. Dulu sekali dia tidak punya peralatan dan bumbu-bumbu. Saat tiba di kota dia punya peralatan dan bumbu tapi tidak ada waktu.


Hari ini dia memiliki semuanya. Saatnya show time menyalurkan hobi memasak.

__ADS_1


Ikan besar diambil dari danau oleh Chen Dewei. Ikan mas yang sangat gemuk dan terlihat berdaging.


"Chen Dewei kita masak apa ?"


"Dibakar saja." Dia masih lesu.


"Okey... Aku suka ikan mas bakar dengan bumbu minim. Aku suka rasa asli ikannya kalau dibakar." Mao Yu riang gembira. Dia mengangkat lengan bajunya.


Mao Yu mengambil pisau dan membersihkan ikan mas dalam waktu singkat. Sedangkan Chen Dewei menggunakan mantra pemanggil api untuk membakar kayu hingga menjadikannya bara.


Cesss...


Suara lemak menetes pada bara api melahirkan sejuta aroma yang lezat. Chen Dewei yang loyo menemukan tanda kehidupan masih menempel padanya. Perutnya keroncongan dia menjadi sangat lapar.


Mao Yu membolak balik ikan hingga matang sempurna. Dia mengangkat dan meletakkannya di atas meja. Nasi juga sudah matang. Mao Yu menyajikannya bersama ikan bakar.


"Chen Dewei mari makan..." Mao Yu mengambil sumpitnya.


Chen dewei melakukan hal yang sama. Semangkuk nasi dengan ikan bakar menggoda dirinya. Segera dia mengambil secuil dan memakannya.


"Enaakk..."


Chen Dewei makin cepat mengambil ikan. Dia makan lebih lahap lagi seperti kelaparan selama tiga hari. Ditambah hujan telah turun, udara dingin semakin menggugah selera makannya.


Ikan mas bakar menyusut dengan cepat. Mao Yu menjadi sebal dia pun juga mengambil ikan dengan sumpitnya dengan cepat pula.


Mereka berdua berduel di atas meja makan berebut ikan bakar.


Jelas, ikan tinggal di danau dengan basuhan air suci. Tentu akan meningkatkan kualitasnya berkali-kali lipat. Dan tanpa disadari ikan mengandung energi spiritual pula.


Hujan makin deras. Mao Yu beristirahat di kamarnya.


"Tuan, aku mencium bau orang Night Lily memantau lokasi kita terus menerus."


"Sepertinya mereka mencurigai anda terlibat dalam pencurian perbendaharaan mereka." Kong Kecil melaporkan pemantauan keamanan benteng.


"Biarkan saja. Jika mereka bergerak maka ambillah langkah." Mao Yu berkata dengan malas sambil rebahan.


"Tuan, aku mendengar ada tangisan tiga anjing liar di luar." Kong Kecil berkata.


Dalam sekejap Mao Yu bangkit dan berlari sesuai lokasi di mana anak anjing yang dikatakan Kong Kecil berada. Mereka basah kuyup bergetar karena kedinginan dan kelaparan.


Mao Yu langsung mengambil ketiganya dan meletakkan di samping bara api bekas dia membakar ikan. Mao Yu melempar beberapa kayu bakar untuk menambah nyala api.


Mao Yu pun merawat mereka dengan mengusap handuk di tubuh mereka satu per satu. Dia menemukan dua diantaranya jantan dan satu betina.


"Di mana ibunya ?" Mao Yu bertanya.


"Aku tidak melihat tanda keberadaanya. Mungkin terbunuh." Kong kecil prihatin.


"Kasihan sekali, Kakak Yu akan merawat kalian semua mulai sekarang." Mao Yu prihatin dengan nasib tiga yatim yang menghangatkan diri di perapian.

__ADS_1


Setelah mereka merasa baikan, Mao Yu memberi makan ketiganya dengan sisa kepala ikan bakar. Mereka menyantapnya dengan lahap.


Anjing hutan yang lucu. Mereka semua adalah Pitbull.


Setelah makan kepala ikan, ketiganya mengikuti Mao Yu ke dalam kamar dengan patuh.


"Kalian harus menjadi kuat, Kalian bertiga menjadi penjaga bentengku dari musuh-musuhku ya... " Mao Yu berbicara dengan tiga yatim.


Mereka bertiga tidak mengerti apa yang Mao Yu ucapkan. Mereka hanya menjulurkan lidahnya ke orang yang menjadi tuan mereka.


"Okay... Okay... Kalian sangat cerdas... Karena tuan kalian sangat bahagia dan penuh rahmat. Kuberi kalian hadiah." Mao Yu gembira.


Kong Kecil " ... "


Duh, boss... Mereka ini masih tolol. Mereka belum menumbuhkan kebijaksanaannya. Binatang buas level nol boss...


Pikiran Mao Yu tenggelam pada koin tembaga. Dia mencari rune yang cocok untuk tiga yatim yang melet-melet di depannya.


Ah, dari jutaan rune Mao Yu menangkap sebuah rune berbentuk patung anjing melet yang duduk. Ini dia.


Tangan Mao Yu membentuk mudra rumit, terlihat acak dan sangat cepat. Mao Yu juga merapalkan berbagai mantra dengan bahasa aneh bahkan Kong Kecil belum pernah mendengar sama sekali.


Kong Kecil memperhatikan dengan seksama. Dia tak mau melewatkan satu bagian sedikit pun.


Tiga patung anjing duduk mengembun dari energi koin tembaga. Terbentuk seukuran ibu jari melayang-layang di depan Mao Yu.


"INN IIINNNNNIIIIIIII......."


Kong Kecil terkejut hingga nyawanya hampir lepas.


Ini Pemberkatan Agung. Pemberkatan Surgawi. Tuan muda bisa melakukan ini ???


Ini akan membuat tiga yatim menjadi binatang surgawi di masa depan. Nasib mereka ditulis ulang oleh tuan.


Dalam kondensasi patung anjing melet terekam metode kultivasi celestial, teknik-teknik celestial dan astaga... Kong Kecil tidak dapat melanjutkan kata-katanya.


Bahkan dia di tanah suci tidak memiliki hak mengamalkan demikian ini.


Jantung Kong Kecil berdenyut kencang, dia hampir memuntahkan semua perbendaharaan yang dia simpan. Jika benar-benar keluar niscaya benteng akan langsung tenggelam oleh harta karun.


Mao Yu menarik 15 kristal jade surgawi, kemudian memasukkannya ke dalam patung cahaya anjing. Masing masing patung menelan 5 biji. Mao Yu mengatur agar energi jade surgawi bisa terserap pelan oleh tiga imut.


Patung menjadi seberkas cahaya dan memasuki kepala tiga yatim. Setelah masuk mereka bertiga terhuyung-huyung kemudian tertidur.


"Akhirnya, Ah aku lupa belum menamainya. Oke kamu Gou Satu, Kamu Gou Dua dan yang betina Gou Tiga." Mao Yu cukup puas meskipun dia menderita kelelahan yang hebat.


Dia pun juga langsung ambruk dan tertidur.


***


Ilustrasi anjing Pitbull :

__ADS_1



__ADS_2