Legenda Raja Abadi

Legenda Raja Abadi
Agen Rosok


__ADS_3

Di kamar khusus para penilai barang.


Ruangan yang sangat luas seperti gudang. Banyak benda-benda menumpuk yang ditata dan diatur dengan rapi.


Seorang tua renta sibuk membaca sebuah gulungan yang berisi naskah kuno. Gulungan iniĀ  salah satu barang utama dalam pelelangan.


Meskipun pelelangan akan segera dimulai, kakek ini masih asyik dengan naskah yang ada di tangannya. Dia membaca dengan cermat penuh konsentrasi. Bahkan dia tidak berkedip.


Suara ketukan lembut terdengar, seorang gadis pelayan menghampiri kakek penilai.


"Mohon dimaafkan saya telah mengganggu Tuan Agung, saya kemari menyampaikan sebuah benda titipan dari kamar VVIP untuk turut disertakan dalam pelelangan."


"Mohon kiranya Tuan Agung dapat memeriksa nilai benda yang saya bawa ini." Gadis pelayan meletakkan sebuah anting kayu bergambar bunga melati di meja kakek tua.


Kakek Tua tak memperhatikan sama sekali anting kayu lapuk di sebelahnya. Sekilas anting kayu dibuat dengan pengerjaan kasar. Warnanya menghitam seperti terbuat dari kayu tua.


Cukup lama gadis pelayan berdiri menunggu respon dari kakek tua. Sebagai seorang pelayan dia ingin mengucapkan beberapa kata kepada Tuan Agung untuk segera melihat anting.


Sehingga dia dengan cepat bisa menyelesaikan tugasnya.


Namun sayang, Tuan Agung ini bukan orang sembarangan. Perbedaan kasta di antara mereka berdua terlalu jauh. Gadis pelayan di mata Tuan Agung hanyalah sebutir debu.


Waktu telah berlalu dengan sangat lama. Gadis pelayan mulai merasakan pegal-pegal di betisnya akibat lamanya berdiri.


Hingga akhirnya, suara ketukan pintu terdengar lagi. Seorang staf masuk dan menyampaikan kepada Tuan Agung bahwa pelelangan akan dimulai 30 menit lagi.


Tuan Agung tidak meresponnya dia pun masih tenggelam dalam naskah gulungan, hingga staf akhirnya menutup pintu dan meninggalkan ruangan.


Waktu berlalu hingga pelelangan akan dimulai 10 menit lagi. Kakek Tua bangkit dari kursinya dan dia meregangkan badan.


"Hanya anting kayu, motif sangat kasar dan pengerjaan buruk. Tak ada yang istimewa, kembalikan kepada pemiliknya."


"Juga sampaikan padanya tempat ini bukan tempat untuk bermain-main." Tuan Agung berkata dengan penuh kesombongan.


"Hamba lakukan perintah Tuan Agung." Gadis Pelayan patuh.


Tuan Agung mengambil anting kayu di atas meja bermaksud ingin memberikannya kepada gadis pelayan.


Ketika jemarinya menyentuh permukaan kayu. Dia merasakan getaran aneh yang membuat kulit kepalanya seperti dilewati ribuan semut.

__ADS_1


"INN IIIINNNNNIIIII.........."


Tuan Agung bergetar hebat seluruh tubuhnya. Dia menggenggam anting kayu dengan pandangannya kosong.


Dia kemudian melemparkan pandangannya ke seluruh sudut ruangannya. Melihat seluruh benda di ruangannya yang konon membuat kekuatan besar meneteskan air liurnya. Kini semuanya berubah menjadi sampah.


Harta-harta di ruangannya tak lebih dari sekedar barang bekas tak berguna, sedangkan Tuan Agung kini lebih mirip dengan pengepul barang rongsokan.


Tuan Agung rontok segala macam kesombongan dan keangkuhannya. Dia kini linglung mirip orang tua yang pikun.


Ketika kesadarannya kembali. Dia melihat gadis pelayan dan seorang staf berbicara padanya dengan raut wajah khawatir.


Perlahan pendengarannya mulai jelas, menangkap kalimat-kalimat yang mereka ucapkan.


"Tuan Agung pelelangannya dimulai tiga menit lagi." Staf merasa panik.


"Ah, Tunda sejam... Tidak dua jam... Ah, jangan tiga jam." Tuan Agung berkata dengan kebingungan.


Gadis pelayan " ...?..."


Staf "...?..."


***


Para peserta dipersilahkan menunggu di ruangan, atau boleh berjalan-jalan di sekitar aula. Dengan catatan selama 1 jam mereka kembali.


Di ruang penilai barang


Tuang Agung dan pemimpin guild saling berbicara dengan serius. Membahas tentang anting kayu dan bagaimana pelelangan ini akan menyikapinya.


"Ini gila, bagaimana benda ini bisa dilelang ?" Pemimpin guild menatap Tuan Agung dengan penuh antisipasi.


"Jika benda ini muncul di atas panggung, harga akan melonjak gila-gilaan. Kekuatan besar akan menguras habis perbendaharaan mereka." Tuan Agung menimang-nimang anting kayu di tangannya.


"Aku juga memiliki firasat jika jatuh ke salah satu kekuatan besar. Pasti akan memicu konflik hebat setelahnya, kekuatan lain pasti akan memburu dengan segala cara." Pemimpin guild berfikir.


"Kamu yakin akan melelang ini? Guild kita juga membutuhkan item ini supaya persatuan lebih melonjak lagi. Jika kamu melelangnya, kamu melewatkan kesempatan emas." Tuan Agung memberikan pertimbangan.


Akhirnya keduanya kembali berdiskusi lebih dalam lagi.

__ADS_1


"Informasi tentang pemilik benda ini adalah seorang bocah yang masih sangat muda. Yang berada di kamar VVIP nomor lima."


"Aku masih belum cukup informasi apakah dia mengetahui nilai sebenarnya benda ini, apakah benda hanya sekedar dia temukan dengan iseng, dan dari mana asal usul serta latar belakangnya."


"Tuan Agung, sebaiknya kita ke kamar nomor lima sekarang." Pemimpin guild mengajukan saran.


Keduanya segera membuat langkah bergegas menuju kamar lelang VVIP nomor lima. Tiba di depan pintu mereka mengetuk dengan lembut. Terdengar suara dari dalam mempersilahkan keduanya untuk masuk.


"Perkenalkan, saya Wang Lan pemimpin kantor pusat Night Lily, dan di samping saya adalah penilai barang kami Wang Xuemin." Wang Lan memperkenalkan diri


Mao Yu masih duduk dengan malas di sofa. Hanya Xia He dan Chen Li yang menjawab salam mereka dengan sangat hormat.


Petinggi guild ada di hadapan mereka, maka segala etiket dan kesopanan segera mereka tampilkan dalam mode tertinggi.


"Tuan Muda, ini terkait dengan item anda. Jika item ini dilelang akan memicu kerusuhan besar. Bahkan dengan seluruh kekuatan kami tidak akan dapat mengantisipasinya." Wang Lan berkata.


Xia He langsung shock dengan apa yang baru saja dikatakan Wang Lan. Apakah dia sedang bercanda? Dia melihat anting kayu hanyalah anting biasa yang dijual di pinggir jalan oleh Mao Yu.


Pejalan hanya melewatinya seolah hanya melihat barang mainan. Tidak ada yang mampir ke lapaknya selama seharian, pejalan mengabaikannya. Kini apa yang mengubahnya menjadi istimewa?


"Kami berencana untuk membuat kesepakatan dengan Tuan Muda, apakah kami bisa memiliki anting ini. Harga berapa pun akan kami usahakan." Wang Xuemin mengajukan proposal.


Chen Li yang melihat kejadian ini sangat kaget. Seumur hidup hanya kali ini di depan matanya dia melihat tokoh besar menurunkan harga dirinya demi sebuah item.


"Jika kalian mau, ambil saja. Namun dengan syarat." Mao Yu akhirnya berkata.


Duo Wang jantungnya berdegup kencang. Kesempatan telah ada di depan mata, tujuan mereka untuk memiliki item sedikit lagi terlaksana. Keduanya saling pandang dengan mengangguk.


"Tolong katakan, Tuan Muda." Wang Lan ingin segera tahu apa keinginan Mao Yu.


"Pertama, jangan sekali-kali kalian berurusan dengan Benteng Tua Leluhur di dunia pertama."


"Aku khawatir jika kalian menyentuh temboknya saja keberadaan kalian di tiga belas dunia akan dicabut total dari akarnya."


Kedua Wang sedikit terdiam. Sedikit ancaman bagi mereka, namun kali ini mereka tidak menanggapinya dengan amarah dan murka. Mereka sangat penuh dengan antisipasi.


Mereka pun juga belum tahu latar belakang pemuda ini. Jika berkata sombong mungkin bisa mengundang malapetaka.


Mereka menduga bisa jadi asal pemuda ini berasal dari kekuatan besar yang tersembunyi.

__ADS_1


Apalagi dia memperlakukan anting kayu sebagai benda yang tidak penting. Maka sikap waspada akan sangat bijak jika dilakukan.


"Kedua, biarkan temanku ini memilih benda-benda di pelelangan sesuai yang dia suka." Mao Yu mengakhiri permintaannya.


__ADS_2