
Xin Long putra mendiang patriark Klan Xing. Yang menjadi murid salah satu sekte kuat di dunia kedua telah membombardir Mansion Tua Leluhur.
Dia beserta rombongan dari sektenya telah mendarat di dunia pertama tiga hari yang lalu. Langsung menuju ibukota pusat.
Mereka menziarahi puing-puing bangunan Klan Xin, kemudian melanjutkan menuju Mansion Tua Leluhur untuk menyelenggarakan acara inti kunjungan.
Pembalasan dendam.
Dinding perisai menghalangi tembakan-tembakan energi dan hantaman senjata. Suara debam dan gemuruh menderu mewarnai suasana Ibukota Pusat seharian.
Panah ballista melesat ke langit malam. Jika tidak menjatuhkan seorang kultivator, maka panah meleset. Pengamat melihatnya sebagai cahaya putih yang melesat ke langit sangat cepat hingga tenggelam di awan gelap.
Kedai kedai tak henti-hentinya mengumandangkan berbagai pendapat seputar penyerangan. Sedangkan para ahli mengamati peristiwa dari kejauhan.
Perisai pertahanan kadang dikendurkan sehingga prajurit yang belum dapat terbang beberapa dapat memasuki mansion. Li Hua dan Jing Jun memanfaatkan momen ini untuk membasuh pedang mereka dengan darah musuh.
Demikian seterusnya berlangsung dalam semalam. Pasukan yang dibawa Xin Long mengalami kehancuran.
Para pengamat menyesali tindakan Xin Long. Mereka menyerang membabi buta tanpa rencana. Alhasil merugikan diri mereka sendiri.
"Xin Long kehilangan hampir setengah dari tentaranya. Ini adalah akibat dari pikirannya yang meremehkan kekuatan lawan" Seorang ahli berkata.
"Karena dari sekte besar, mereka selalu memandang rendah lawan mereka seperti semut. Mereka kira membongkar pertahanan mansion itu mudah." Ahli lain berpendapat.
"Guru, Mereka memilih jalan mundur sekarang. Sepertinya mereka harus memakai akal untuk penyerangan berikutnya. Jika tidak mereka hanya menawarkan diri kepada kematian."
"Betul, Harusnya Xin Long memutuskan lebih awal. Beginilah jika dendam mendominasi, akal dapat dikalahkan." Seorang ahli menjelaskan kepada muridnya.
Suasana kota kembali tenang saat pasukan Xin Long menarik diri untuk mundur. Warga kota pun mulai berlalu lalang meskipun hanya sedikit.
Sejak jatuhnya Klan Xin, Ibukota Pusat manjadi kota tanpa tuan.
Meskipun begitu klan-klan kuat di sini juga tidak berani langsung mengambil sikap untuk memproklamirkan diri sebagai penguasa kota. Mereka berpikiran situasi kota akan sangat tidak aman dalam beberapa waktu ke depan.
Mereka tidak mau menjadi pihak yang bertanggung jawab atas segala masalah yang timbul di dalam kota.
__ADS_1
Hal ini merujuk pada Mansion Tua Leluhur yang sedang aktif-aktifnya membuat masalah dengan kekuatan-kekuatan besar.
Kembali ke puing-puing reruntuhan bangunan Klan Xin. Xin Long menggeram dengan kemarahan yang memuncak. Darah di kepalanya mendidihkan otaknya hingga matang.
Seandainya disiram saus asam manis, tentu akan menjadi hidangan yang lezat. Cih,
Sementara pasukan yang tersisa semuanya menundukkan kepala. Mereka datang dengan kebanggan akan dapat memusnahkan mansion dengan mudah. Namun kini kepala mereka sendiri yang digunduli oleh kenyataan.
"Tidak masuk akal di dunia lemah mereka mempunyai pertahanan sekelas level sekte kita." Salah seorang bawahan Xin Long menyatakan ketidakpercayaannya.
"Inilah kekuatan yang membuat keluargaku jatuh." Xin Long menatap arah bangunan mansion dengan tatapan penuh kemurkaan.
"Kakak, Apa rencana kita selanjutnya." Seorang murid sekte bertanya.
"Haruskah kita menghubungi tetua untuk bantuan, setidaknya dengan pusaka sekte kita bisa dengan cepat mengakhiri serangan kita secepatnya." Murid berbaju biru menyampaikan usulan.
"Juga untuk meminimalkan korban dari pihak kita lebih banyak. Kita kehilangan separoh, sedangkan pihak mansion nol kematian. Kita dalam posisi kerugian." Murid lain menyatakan pertimbangan.
Xin Long terdiam, pikirannya berfikir keras untuk membuat keputusan. Beberapa lama kemudian sebuah giok berpendar cahaya merah. Xin Long membuat kontak kepada seseorang di lokasi yang sangat jauh.
***
Paviliun Shen sangat mendominasi kota bersamaan dengan Klan Mo. Mereka berdua kini dibicarakan di seluruh kedai bahwa mereka membentuk sebuah koalisi yang kuat.
Ini semakin memperkukuh posisi Klan Mo dalam memerintah kota. Kini kota lebih damai dan kondusif. Kota terus bertumbuh mengejar keramaian seperti di Ibukota Pusat.
"Paviliun Shen dan Mansion Tua Leluhur memiliki akar yang sama. Kekuatan mereka memberikan surprise kepada kita semua. Bayangkan, keduanya muncul dalan beberapa pekan saja namun sudah mampu membuat keduanya menjadi pesohor." Pengunjung kedai berpendapat.
"Ditambah dengan dekatnya mereka dengan Klan Mo, membuat pasukan Kekaisaran Bahr mundur dari perbatasan selatan." Teman di sebelahnya menambahkan.
"Sepertinya Kekaisaran Bahr hanya menunggu momen saja. Menginvasi secara langsung kemari bukan hal yang sulit mengingat ukuran kekuatan mereka sudah sangat memadai." Pengunjung yang terlihat berpengalaman berkata.
Di Mansion Klan Mo
"Paman benar-benar dapat sembuh bahkan sekarang kultivasi paman telah sangat tinggi. Aku yakin sekarang paman adalah yang nomor satu di kota ini." Mo Tian terheran-heran.
__ADS_1
"Kebetulan, Keberuntungan dan keberkahan." Shen Mubai tersenyum lebar.
Shen Mubai kemudian menceritakan kisahnya dari awal hingga menjadi seorang pedagang dengan caravan hingga pertemuannya dengan Mao Yu.
Mo Tian mendengarkan tanpa mengedipkan mata sama sekali. Tidak sadar pula dirinya selama memperhatikan kisah Shen Mubai mulutnya membuat aksara 'o' kecil.
"Aku beberapa kali mengunjungi Benteng, tapi Mao Yu tidak ada di sana. Sepertinya dia sedang bepergian ke lokasi yang jauh." Mo Tian berkata.
"Mestinya itu sebuah kunjungan yang penting. Sejauh ini Tuan Muda tidak pernah meninggalkan rumah kecuali untuk sebuah rencana besar." Shen Mubai mengatakan sebuah fakta yang selama ini dia ketahui.
"Oya bagaimana keadaan ayahmu ?" Shen Mubai mengalihkan pembicaraan.
Kemudian keduanya berbincang-bincang hingga senja telah tiba.
***
Di sebuah koridor remang-remang. Seorang wanita dewasa berjalan cepat dengan irama kaki menunjukkan rasa kekesalan.
Lady Chi berjalan melenggak-lenggok hingga empat tonjolan karunianya ikut bergoyang memantul ke segala arah.
Dia berhenti berjalan dan membuat tinju di dinding dengan tangan kosongnya. Membuat tembok menjadi retak sangat lebar dengan motif sarang laba-laba.
Dia baru saja diberitahu pemimpin untuk melupakan tragedi di Benteng Tua Leluhur. Dan ini tidak main-main, otoritas di dunia kelima yang memberi peringatan pada kantor pusat di dunia pertama.
"Bahkan jika aku mengambil tindakan atas nama ku sendiri, aku akan dipecat dari pengurusan dan akan dikejar oleh rekanku sendiri sampai aku mati."
"Saat aku mengamuk di benteng nantinya, bukanlah orang-orang benteng yang akan membunuhku. Melainkan orang-orang Night Lily yang akan menumpasku di sana." Lady Chi mengungkapkan kemarahan sekaligus kekecewaannya.
Namun bagaimana dengan penyergapan tak terlihat? Lady Chi sepertinya menemukan akal dari bilik kelicikan di otaknya.
Akhirnya dia bisa tersenyum kembali. Keceriaan kembali datang dan merekah seperti cahaya matahari membubarkan awan mendung hitam setelah badai.
Benih optimisme telah dilahirkan.
Ladi Chi kembali membuat langkah. Ayunan keenam anggota tubuhnya terlihat makin panas dan membara.
__ADS_1