Legenda Raja Abadi

Legenda Raja Abadi
Aku Lho Asistenmu


__ADS_3

“Adohh…” Mao Yu mengusap pipi kanannya yang lebam oleh pukulan Mo Tian.


Mao Yu memandang Mo Tian dengan aura permusuhan yang bengis dan kejam. Dia bangkit dan mengepalkan kedua tangannya dengan kuat.


Mao Yu dengan gerakan kilat membalas pukulan dengan melayangkan bogemnya ke pipi kanan Mo Tian


Pipi kanan harus dibalas dengan pipi kanan, dia menggerutu.


Saying sekali, sebuah tangkisan dengan kokoh menghalangi tinju Mao Yu mengenai kemurnian pipi kanan Mo Tian. Mo Tian mengejek dengan membuat senyum menyebalkan. Membuat Mao Yu makin terbakar amarahnya.


BUAKKK…


Mo Tian terlalu percaya diri dengan gerakan pertahanannya, dia tak menyangka tangan kiri Mao Yu dapat bermanuver dengan lihai di luar perkiraannya.


Mo Tian jatuh tersungkur di lantai aula.


“Tidaak, Tuan Mo…” Sekretaris berteriak lantang. Dia sangat khawatir dengan tuannya. Dia segera menghampiri dan mulai memeriksa keadaan Mo Tian.


“IIIIIINNNNNNNN IIIIIINNNNNNNIIIIIIIIIII…………….”


Melihat terdakwa melakukan hal yang membahayakan Kepala Aula Disiplin Benteng Tua Leluhur para penatua secara full energy meraung siap memberangus Mao Yu.


“Hentikan !!!”


“Jangan ambil sikap apa pun kalau kalian masih ingin hidup dan berguna bagi benteng. Duduk manis di kursi kalian, jangan membuat gerakan yang tak perlu.”


“Biarkan hal ini diatasi sendiri oleh Tuan Mo.” Tua Chao memberi peringatan pada bawahannya setelah sesaat dia siuman.


“Tuan Chao, Siapa dia?” Seorang penatua bertanya akibat rasa penasaran. Hal yang sama juga dirasakan oleh seluruh hadirin di dalam aula.”

__ADS_1


Semua hadirin termasuk di dalamnya tiga penatua menatap ke arah Tua Chao dengan serius. Namun mereka hanya melihat orang tua renta yang rapuh dengan tatapan kosong.


“Oh, pingsan? Ternyata pukulanku keras juga.” Mao Yu terkekeh-kekeh.


Semua pandangan berganti arah menuju pemuda yang berdiri di tengah balai. Mereka melihat dari ujung kaki hingga kepala seorang pemuda nakal urakan biasa-biasa saja. Mereka semua ingin *******, namun keinginan terhenti oleh ucapan peringatan Tua Chao yang terus berputar di kepala.


“Ah, Kamu kakek kurus… “ Mao Yu menunjuk pada Tua Chao. Membuatnya bergidik dengan bulu kuduk merinding.


“Ham…” Tua Chou mulai membuka ucapan. Namun Mao Yu mengucapkan kalimat-kalimat aneh dengan mode cerewet sehingga Tua Chou tak dapat melanjutkan ucapannya.


Sekretaris dan kapten regu mengambil langkah mundur lebih jauh dengan rasa khawatir dan takut. Terlebih kepada kapten regu, pemuda macam apa yang dibawa olehnya sehingga membuat situasi menjadi seperti ini.


Siapa pemuda ini?


“Pak Tua, aku baru saja kena masalah saat berjalan jalan di luar. Mereka mengatakan aku ini penyusup atau apalah karena tidak punya token pengenal. Pak Tua beri aku satu !” Mao Yu mengatakan dengan tangan melangkrik di pinggang.


“Gila !!!”


“Lancang !!!” Penatua berseru.


Sebuah benda melayang di antara mereka semua, Mao Yu menangkap dengan sebuah tangan. Lencana logam pekat dengan permata giok berwarna biru dia mainkan di tangannya.


“IIIIIINNNNNNNN IIIIIINNNNNNNIIIIIIIIIII…………….”


“IIIIIINNNNNNNN IIIIIINNNNNNNIIIIIIIIIII…………….”


“IIIIIINNNNNNNN IIIIIINNNNNNNIIIIIIIIIII…………….”


“Kepala, Ini lencana seorang penatua tinggi. Apakah anda serius ???” Penatua dengan perawakan garang menggebrak meja di depannya.

__ADS_1


“Oh, Penatua….” Mao Yu melempar kembali token identitas penatua tinggi kepada Tua Chao.


“Token seperti itu membuatku kerepotan. Aku mau yang mudah – mudah saja.” Mao Yu mencibir dengan ekspresi malas.


Mao Yu kembali menangkap benda yang serupa di tangannya, dia melihat token yang dibuat dengan desain lebih sederhana.


“Anda sangat ahli dalam mengajar, ini adalah token untuk asisten seorang penatua pengajar, lebih tepatnya anda adalah seorang asisten guru sangat cocok untuk bakat dan minat anda.” Tua Chou berusaha mengambil kesempatan dalam kesempitan.


Tua Chou sedikit menemukan kemenangan dalam pilihannya. Sementara Mao Yu memandang Tua Chou dengan mata menyipit.


Tua Chou sengaja membuat dirinya menjadi pengajar dan memanfaatkan dirinya untuk memperkuat para murid Benteng Tua Leluhur.


Baik, aku akan mengambil duduk di sebelahmu sekarang.” Mao Yu menunjuk pada penatua dengan wajah garang. Penatua paling keras, tegas dan kuat di area terluar benteng. Menjadi momok para murid.


Penatua wajah garang bernama Penatua Lu, dia mendengus saat Mao Yu mengambil posisi tepat di bawahnya. Aura permusuhan yang dilepaskan pada Mao Yu kuat. Namun Mao Yu mengabaikan dengan tawa terkekeh-kekeh.


“Kapten regu, kamu dihargai atas pekerjaan kerasmu. Ambil hadiahmu dengan menemui asistenku besok pagi. Kalian semua boleh pergi kecuali Tuan Mo dan Penatua Lu.” Tua Chao memerintahkan.


“Bagaimana dengan Tuan Mo yang masih belum sadar?” Sekretaris tampak khawatir.


“Biarkan saja dia di sana, dia sangat lelah. Berikan jam tidur yang cukup untuknya.” Mao Yu menyahut.


Sekretaris memandang Tua Chao untuk sebuah jawaban hingga dia harus merelakan pergi dari aula saat melihat Tua Chao mengangguk. Membenarkan ucapan Mao Yu.


Tinggal tiga orang dalam kondisi yang sadar, nuansa garing dan mencekam di dalam balai.


“Siapa kamu ?” Penatua Lu bertanya ketus.


“Aku? Bukankah aku adalah asistenmu.” Mao Yu mengangkat kedua bahunya.

__ADS_1


“Mursal !!!” Penatua Lu melotot.


__ADS_2