
Mao Yu menerima teman-temannya yang bertamu di atas perahu. Bahkan perahu ini adalah sebuah harta pikir Lei Teng.
Harusnya perahu biasa akan tenggelam begitu mencapai air danau perak. Dia baru saja menyadari. Pikirannya masih terganggu oleh garam kristal utama.
Saat ini mereka sedang bercanda dan bercengkerama dengan gembira ria.
“Lihat apakah itu Puteri Pegar Suci dan Puteri Mawar merah datang ke danau perak untuk sebuah bimbingan?” Seorang pengamat berkata.
“Sangat yakin. Mereka kini sedang berdiam di atas sebuah perahu istimewa. Cobalah kamu mendayung dengan rakitmu sendiri, meskipun rakitmu adalah sebuah harta.” Ahli yang tampak berpengalaman memberikan komentar.
“Duduk di buritan adalah seorang tua, kulihat mereka sangat antusias dan memperhatikannya.” Ahli dengan rambut ikal mengutarakan apa yang dilihatnya.
“Ah, tentu! Sangat jelas. Pak tua itu adalah pakarnya para pakar. Lihatlah pembawaannya dia sanga arif, tenang dan berwibawa. Bahkan elite muda mendatanginya untuk sebuah bimbingan.”
“Lihat wajah pak tua pakar itu. Oh, dia sangat saleh.”
Para pengamat menyatakan dengan sangat setuju komentar si pengamat ini.
Mereka merujuk pada Lei Teng yang sedang bengong karena pikirannya berputar ke mana mana atas rentetan peristiwa yang terjadi. Dia tak henti-hentinya dikejutkan oleh berbagai macam keajaiban.
Mao Yu dan seluruh temannya terdiam saat semuanya memandang bulan purnama.
“Itu... Itu...” Lei Teng bersuara parau.
Ratusan noktah hitam bertebaran di langit, dan dengan segera membesar menjadi wujud pasukan dengan parade yang sangat gemilang.
“INNNNN IIIIINNNNNNIIIIIIIIII............”
Dari bangku perahu, Lei Teng beranjak berdiri dengan teriakan kejutan. Dia melihat gugus demi gugus pasukan infanteri, cavaleri, squad binatang buas dan kapal apung raksasa.
“INNNNN IIIIINNNNNNIIIIIIIIII............”
__ADS_1
Dari tribun para pengamat, mereka semua bersorak dan shock atas apa yang mereka lihat. Dalam kepala mereka langsung otomatis mendapat jawaban atas desas desus yang beredar beberapa waktu lalu.
Ternyata pasukan Klan Wang menuju danau perak!!!
Apakah seluruh pasukan menemui pak tua pakar?
Apakah mereka bermaksud mencari bimbingan juga dari ahlinya?
Apakah mereka akan melakukan sesuatu untuk sang guru utama?
Para pengamat makin menggebu-nggebu dengan gelora batiniyah mereka. Semangat mereka pun turut tersulut. Siapakah pak tua pakar ini? Kami di masa depan harus mendapatkan bimbingannya juga.
Sebagai contoh Klan Wang, hanya dengan beberapa dekade saja mereka tumbuh pesat tak terduga. Para pengamat makin mantap dengan keyakinannya.
“Lihat, Pak Tua Pakar telah berdiri! Oh, betapa santunnya dia.” Seorang pengamat ahli menyampaikan kalimat ini dengan nada yang sangat khusyuk.
Pengamat lainnya, mengelus dada mereka. Pak tua pakar benar benar ahli sejati yang sangat saleh.
Mao Yu memicingkan mata.
Pasukan Klan Wang melingkari seluruh danau perak, karena tak satu pun mereka berani melangkah di atasnya.
Di antara ratusan ribu pasukan berjajar. Terdapat dalam satu baris tokoh penuh nuansa kepahlawanan. Ya, mereka adalah para petinggi Klan Wang.
Di belakang mereka berdiri ribuan pasukan elite dengan baju besi merah kecoklatan.
Semuanya berdiri dengan dada penuh debar dan sangat bersemangat. Mereka hari ini menemui sang pemurah hati atas klan mereka.
Mereka sekaligus sangat bangga. Bahkan para binatang buas pun turut mendongakkan kepala menunjukkan diri mereka layak berdiri di dalam Klan Wang. Mereka sangat terhormat berada dalam barisan perang.
“Salam kepada Yang Mulia Tuanku pemurah hati, Panjang Umur... Panjang Umur... Jaya !!!”
__ADS_1
Patriark Wang Ji meneriakkan salam sehingga suaranya menggema di penjuru danau perak.
UUURRRRRRAAAAAA.......!!!!
UUURRRRRRAAAAAA.......!!!!
UUURRRRRRAAAAAA.......!!!!
PANJANG UMUR... PANJANG UMUR... JAYA !!!
Ratusan ribu pasukan menyahut seruan patriark. Mereka mengangkat semua senjata ke atas langit. Meneriakkan salam penghormatan kepada sang pemurah.
Danau perak bergetar karena suara gema prajurit yang membahana. Bahkan awan di langit pun tersapu ke segala arah. Menyebabkan langit menjadi bersih cemerlang, menyisakan pemandangan bulan yang menjadi sangat epic.
Patriark membungkuk dengan busur sempurna, diikuti dengan seluruh tetua di belakangnya dan seluruh prajurit.
Para pengamat merasakan dada mereka bergetar hebat. Oh, betapa menakjubkan... pertama kali ini mereka menyaksikan ketundukan total seluruh Klan Wang pada pakarnya.
Lei Teng merasakan nyawanya hampir lepas, seluruh tubuhnya terasa ringan dan merasakan kedua tangannya mulai kebas.
Untuk mengurangi perasaan campur aduknya maka secara reflek dia mengibaskan tangannya. Agar aliran darahnya yang terganggu dapat lancar kembali.
“Astaga lihat seluruh pasukan kembali ke posisi berdiri sempurna saat ahlinya menerima salam mereka hanya dengan kibasan tangan yang sederhana !!!” Pengamat tua berteriak dengan mata melotot.
“Astaga.... Pakar itu sangat keren...”
“Astaga... Hanya dengan kibasan tangan seluruh pasukan benar benar tunduk...”
“Bahkan mungkin hanya dengan satu kalimat, pasukan akan rela bermandi darah untuk menghancurkan sebuah sekte.”
“Oh, benar-benar ahlinya ahli. Pakarnya para pakar...”
__ADS_1