Legenda Raja Abadi

Legenda Raja Abadi
Barbekyu


__ADS_3

Mao Yu mengikat tong kayu dengan rantai yang sangat panjang.


Dengan bahagia dan berdendang ria, dia memilih tepian danau yang memiliki cukup kedalaman. Tepatnya di samping pondoknya.


Dia melempar tong kosong. Karena beban rantai yang cukup menyebabkan tenggelam hingga ke dasar danau.


Mao Yu mengikat ujung rantai satunya ke sebuah pohon.


“Cukup, mari kita tunggu pemanenannya.” Dia senyum senyum. Kemudian mengeluarkan joran.  Cukup cekatan melemparkan kail.


Dia bersantai sambil memancing.


Demi apa apun selama ini terjadi. Bahkan tak satu pun orang berhasil memancing di danau perak. Di sini ikan tak tertarik dengan kail sama sekali.


Para ikan seperti sudah menemukan makanan yang jauh lebih mulia dari sekedar umpan cacing, lumut atau daging binatang buruan.


Para murid sekte bahkan mengatakan di sini tak ada ikan sama sekali. Bahkan Kepala Sekte Tang Shang pun tak pernah sekalipun mendapatkan seekor.


Bagaimana dengan persepsi yang menerawang menuju kedalaman danau? Sayangnya itu mustahil terjadi. Seberapa kuat pembudidaya merasa permukaan danau yang keperakan memantulkan semua persepsi.


Tindakan yang tergolong sia sia.


Karena penasaran bahkan akhirnya beberapa ahli di masa lalu melakukan penyelaman. Ah, namun sayang siapapun yang menyelam kini tak ada yang bisa naik ke permukaan lagi.


Sampai sekarang danau ini menjadi dihindari, karena sekuat apapun tak akan mendapatkan hasil apapun. Apa gunanya tahu rahasia di dalam danau, namun tak bisa lagi melihat birunya langit.


Dari cerita Kepala Sekte Tang Shang konon kepala sekte pertama melakukan penyelaman. Karena mega super keberuntungan, dia bisa menghirup udara dunia lagi.


Sayangnya dia tidak menceritakan apa pun tentang rahasia di kedalaman.


Akhirnya dia mendirikan Sekte Singa Perak yang kemudian melambungkan namanya.


Di tengah kesabarannya menunggu kailnya direspon ikan. Mao Yu mengeluarkan sebungkus kecil kain yang ditali, dia lantas membukanya.


Satu sendok teh garam buatan Kepala Sekte Tang Shang. Pagi tadi dia memberikan masing-masing sebungkus untuk Mao Yu dan Zen Li.


Namun saat berjalan dengan tong di jalur sepi, Kepala Sekte Tang Shang menyusulnya dan memberinya satu bungkus kecil ekstra.


“Kamu mungkin tidak seberbakat Zen Li, tapi terimalah bungkusan extra ini. Setidaknya kamu dapat membuat kemajuan yang cukup di masa depan.” Mao Yu mengingat betapa baiknya Kepala Sekte Tang Shang.

__ADS_1


“Dasar pria paruh baya...” Mao Yu tersenyum dan menggumam.


Zen Li tiba dengan langkah besar dengan sigap mengambil duduk di sebelah Mao Yu.


“Kamu memancing ?” Zen Li bertanya.


“Dengan joran dan sikap santaiku sekarang. Jawaban yang pasti adalah aku jelas memancing. Hehehe...”


Keduanya bercanda dengan ledak tawa yang terbahak-bahak.


“Mao Yu sayang sekali saudaraku dari desa telah pergi dibawa oleh Sekte Pedang Bumi, aku menduga dia mengalami hal buruk di sana.” Zen Li membawa raut wajah yang murung.


Mao Yu tidak meresponnya. Namun perasaannya juga terbawa dengan kesedihan Zen Li.


Mao Yu menepuk pundak temannya. Kemudian bertanya.


“Apa yang kamu rencanakan di masa depan ?”


“Jika bisa aku harus menggulingkan Sekte Pedang Bumi. Aku akan berkultivasi dengan keras mulai sekarang.” Zen Li menjawab dengan kemantapan dan kesungguhan.


Setelah lama merenung.


“Eh, ya terimakasih.” Mao Yu menerima garam dari Zen Li.


“Semoga kita bisa segera kuat bersamaan. Hahaha... Kita hajar Sekte Pedang Bumi di masa depan. Hahaha...” Zen Li terbahak-bahak.


Mao Yu tenggelam dalam pemikiran yang dalam. Baik Kepala Sekte Tang Shang dan Zen Li memiliki kemurnian dalam pembawaan pribadi.


Di dunia sekarang ini, sungguh langka orang dengan isi hati yang mulia. Jika orang seperti ini berhasil menuju puncak. Akan membawa rasa keadilan dan kedamaian di dunia.


Dunia sekarang dipenuhi pemegang kekuatan dengan perangai kurang bagus.


“Eh, Mao Yu joranmu bergerak....”


“Ah iya, cukup berat... Tolong ambil alih, kamu lebih kuat dari aku...” Mao Yu merasa tersurprise.


Cipakkk....


Ikan mas berukuran jumbo muncul ke permukaan air danau dengan cipratan air yang hebat ke mana-mana.

__ADS_1


Zen Li menarik dengan kekuatan yang luar biasa. Ikan tak dapat melawan dengan paksa akhirnya terdampar di daratan.


Saat ini senja telah tiba. Tak terasa keduanya hari ini bersantai sangat lama. Kini Mao Yu dan Zen Li  saling pandang dengan tawa terbahak-bahak.


“Makan malam...”


Mao Yu menyerah dengan ikan. Dia mengeluh sisik menancap sangat kuat bahkan dia tak dapat membersihkannya.


Zen Li turun tangan, meskipun kesulitan akhirnya dia mendapati hasil akhir yang memuaskan. Kini ikan jumbo telah bersih sempurna.


Mao Yu bertugas mengumpulkan kayu, membakarnya hingga menjadi bara.


“Zen Li undang Kepala Sekte Tang Shang dan Lei Teng untuk makan sama –sama. Aku khawatir kita tak mampu melahapnya berdua.” Mao Yu terkekeh kekeh.


“Ah, siap.” Zen Li tertawa. Dia segera meluncur menuju kediaman kepala sekte dan mencari pak tua tukang kebun.


Mendengar kedua bocah mendapatkan ikan dari danau perak. Kedua tua bergegas dengan langkah panjang menuju area barbekyu.


Makin dekat, aroma ikan dengan bumbu rempah menantang menyerang penciuman mereka. Tentu mode langkah cepat akhirnya menjadi mode berlari.


Kepala Sekte Tang Shang dan Lei Teng saling pandang untuk kemudian menjadi perlombaan lari siapa paling cepat sampai.


“INNNNN IIIINNNNNNIIIIII............”


Kedua tua terbelalak.


Ikan mas seukuran pria dewasa digantung di atas bara api yang membara dengan sempurna.


Daging telah matang dengan warna coklat keemasan, sesekali minyak menetes menimbulkan suara cesss....


Aroma daging ikan dan rempah menyeruak. Seketika perut keduanya menjadi keroncongan hebat.


“Ikan danau perak !!!” Keduanya berteriak lantang dengan ujung telunjuk mengarah pada bakaran.


Kepala Sekte Tang Shang dan Lei Teng saling pandang dengan mata berkaca-kaca. Ini adalah mimpi... ini adalah fatamorgana.


Mereka lemas hilang tulang lutut. Mereka merasakan energi origin yang meluap berasal dari ikan menyerbu keduanya dengan gelombang-gelombang seperti pukulan dari tsunami yang datang bertubi-tubi.


Keduanya ambruk.

__ADS_1


“Kepala sekte !!! Paman !!!” Zen Li berteriak.


__ADS_2