
HAHAHAHA......
Kerumunan tertawa terbahak-bahak. Mereka tampak puas melempari rombongan kecil Mao Yu.
Bersamaan dengan batu dilempar, Mao Yu dan Lin Fan menerima banjir ejekan dan cemoohan.
Peletukk...
"Aduh..." Lin Fan menyeka darah di pelipisnya dengan sapu tangan.
Mao Yu melihat Lin Fan berdarah, matanya kemudian menyipit.
"Dari kekuatan mana saja kalian ?" Mao Yu bertanya kepada kerumunan.
"Apa kamu mau memohon majikanmu untuk membuat perhitungan dengan kami? Hahaha... Lapor sana!" Pemuda kekar menyahut.
"Datangkan orang seluruh seluruh camp! Bawa semuanya kemari... Biar kami mudah menghajar semuanya tanpa repot." Gadis berbaju hijau melontarkan hasutan.
"Kalian pecundang tetaplah pecundang." Pemuda cantik berkata dengan sinis.
Mao Yu menghela nafas panjang. Dia masih memperhatikan Lin Fan yang meringis kerena rasa sakit di area pelipisnya.
Dari cincin penyimpanannya, Lin Fan mengeluarkan seperangkat kotak perawatan luka. Dia mulai membersihkan luka dan memasang perban di kepalanya.
Ketika Mao Yu hendak berbicara, seseorang datang dan melindungi rombongan Mao Yu.
Dia adalah seorang gadis muda yang berparas manis dan sangat menyenangkan untuk dilihat.
"Berikan jalan kepada mereka, selanjutnya kalian jangan berbuat macam-macam lagi pada mereka. Jika ingin membuat onar, datanglah kepadaku. Jangan mencari lawan dari pihak yang lemah." Wang Jiao meneriaki para pembully.
"Wang Jiao, Kamu jangan sok menjadi pahlawan. Kekuatan klan mu setara dengan kami semua. Di posisi kami terdapat tiga sekte yang membentuk persekutuan. Tiga banding satu, apa yang membuatmu percaya diri, Huh ?" Gadis berbaju hijau menyangkal Wang Jiao.
Wang Jiao mengabaikan ketiga murid utama persekutuan. Dia kini memperhatikan rombongan Mao Yu.
"Kalian baik-baik saja? Ikutlah bersamaku menuju camp Klan Wang. Kalian akan aman di sana dari tangan-tangan jahil seperti mereka." Wang Jiao melirik kerumunan.
Mao Yu mengangguk.
Kemudian Wang Jiao menarik Mao Yu dan Lin Fan untuk mengikuti dirinya menuju Klan Wang. Para kerumunan menatap rombongan yang pergi dengan tatapan ganas.
"Saat array reruntuhan terbuka, tamatlah kalian..." Pemuda cantik mengutuk.
Dalam perjalanan menuju camp Klan Wang mereka bercakap-cakap.
"Perkenalkan aku Wang Jiao. Aku putri Patriark Klan Wang, kenapa kalian ada di tempat berbahaya seperti ini ?" Wang Lan bertanya dengan penasaran.
__ADS_1
"Aku Lin Fan"
"Aku Mao Yu, Ini monyet peliharaanku namanya Kong Kecil. Aku di sini karena tertarik dengan situs reruntuhan." Mao Yu berkata jujur.
"Aw, Monyet yang lucu. Salam kenal Kong Kecil." Wang Jiao tertarik dengan Kong Kecil.
Kong Kecil melambaikan tangannya. Merespon sapaan Wang Jiao, membuatnya semakin merasa gemas.
"Tempat ini sangat berbahaya, nyawa kalian bisa terancam. Bahkan kerumunan gila barusan tak membiarkanmu lolos." Wang Jiao cemberut.
"Untung ada Kakak Jiao, jadi kami bisa selamat. Terima Kasih." Mao Yu berbicara dengan nada genit.
"Ah, Sudahlah..." Wang Jiao menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Ngomong-ngomong siapa mereka bertiga itu ?" Mao Yu penasaran.
"Mereka datang dari kekuatan yang sepadan dengan Klan Wang."
"Pemuda kekar itu bernama Wu Zhulong yang berasal dari Sekte Lembah Giok. Perempuan bernama Lady Ju yang berasal dari Sekte Seribu Sungai. Sedangkan pemuda cantik bernama Zhe Liang berasal dari Sekte Samudra Dalam." Wang Jiao memaparkan.
"Lembah, Sungai dan Samudra. Nampak terkait." Mao Yu berpendapat.
"Benar, Mereka memiliki akar yang sama. Leluhur utama tida sekte itu adalah satu orang, di masa dulu dia memiliki tiga murid yang sama kuat dan berbakat. Masing-masing dari mereka kemudian mendirikan sekte."
"Ah, Jadi begitu rupanya." Mao Yu tercerahkan.
Mao Yu melihat tenda-tenda yang berjajar rapi. Ada tenda untuk para murid diatur di sebelah kiri. Tenda lebih besar berada di sebelah kanan. Tenda utama sangat besar ditempatkan di tengah.
Mao Yu menangkap ada yang unik, ada sebuah tenda yang cukup besar yang nampak berbeda dengan lainnya. Tenda yang sangat indah dan mewah berdiri persis di sebelah tenda utama.
"Tenda yang terbaik ini khusus kediaman penatua kami. Di sini kami didampingi penatua kedua, Wang Ji." Wang Jiao menjelaskan.
"Sebentar lagi akan kusiapkan sebuah tenda untuk kalian." Wang Jiao menambahkan.
"Ah, Ituu..." Lin Fan kaget. Dia menunjuk seseorang yang familier menyambut kedatangan mereka.
"Kakak Jiao, Apa-apaan ini. Kenapa kamu membawa mereka kemari." Pemuda yang mendekat mengajukan komplain.
"Kami menyerahkan diri untuk dirampok." Mao Yu berkata acuh.
"Wang Shan, Apa maksudnya ini ?" Wang Jiao melotot.
"Ah, Ahahaha... Ini hanya salah paham saja kakak. Kakak tak usah banyak berfikir dan menduga-duga. Nanti kakak cepat tua." Wang Shan merayu kakaknya.
"Jangan berbuat aneh-aneh, aku akan pergi dulu menyiapkan tenda dan akomodasi untuk mereka. Shan-er, kamu temani tamu kakak." Wang Jiao bergegas pergi.
__ADS_1
Situasi menjadi hening dan garing. Mereka bertiga saling pandang.
"Kenapa kalian kemari? Kalian merayu kakakku? " Wang Shan curiga.
"Apa kakakmu tipe mudah ditaklukkan hatinya ?" Mao Yu mencibir.
Lin Fan melepas cincin di jarinya kemudian menyerahkan kepada Wang Shan. Wang Shan yang terkejut dengan aksi Lin Fan kemudian berseru.
"Apa ini ?"
"Bukankah tadi kamu menginginkan cincin penyimpanan ini, makanya kuberikan." Lin Fan berkata dengan polos.
Wang Shan "..."
"Aku tak butuh cincinmu sekarang, cepat ambil lagi." Wang Shan hendak memberikan cincin.
Lin Fan segera berlari menuju balik punggung Mao Yu.
Wang Shan hendak memberikan cincin kepada Mao Yu. Namun Mao Yu menyembunyikan kedua tangannya di dalam baju.
Wang Shan "..."
"Cepat ambil, mati aku kalau kakakku tahu aku menjadi kriminal..." Wang Shan panik.
Akhirnya aksi kejar-kejaran terjadi. Wang Shan yang ingin mengembalikan dan Lin Fan yang menolaknya. Mereka hilir mudik berlarian di halaman camp.
Mao Yu mengabaikan, dia berjalan menuju tenda indah.
"Ah, Hei tunggu... Kamu jangan masuk ke dalam sana." Wang Shan menyadari ada yang luput dari pengawasannya.
Namun sayangnya, sebelum Wang Shan dapat melakukan suatu hal, Mao Yu telah masuk ke dalam.
"Gawat, Tamat sudah anak ini. Selain Penatua Kedua, kakek buyut baru saja tiba untuk beristirahat di dalam tenda itu." Wang Shan panik dan merasa ngeri.
Di dalam tenda Mao Yu ditodong oleh 10 orang bersenjata. 10 bilah pedang menempel lekat pada lehernya.
Dalam sebuah gerakan kecil kepala akan mudah terlepas dari tubuhnya.
Mao Yu hanya diam saja, dia sangat tenang.
"Biarkan tamuku masuk..." Suara dari dalam memberikan perintah kepada para pengawal.
Para pengawal segera menurunkan senjata dan menyarungkan kembali. Kemudian mereka menangkupkan tinju untuk meminta maaf atas perlakuan yang tidak menyenangkan barusan.
Mao Yu mengangguk dan meamaafkan semuanya.
__ADS_1
Kemudian dia memasuki bilik utama di dalam tenda.