
“KAMU…”
Ratusan cabang akar dengan ujung runcing mencuat dari kedua lengan Pak Tua. Mengarah pada Mao Yu seperti kaki kaki gurita yang secara independen memiliki kecerdasannya sendiri.
Mao Yu kembali menghindar. Puluhan cabang menyerang dengan menusuk, memuluk dan mencambuk. Terlihat seperti serangan liar yang membabi buta, namun sebenarnya serangan tersebut sangat efisien dan terkoordinasi dengan baik.
Benar benar veteran.
Mao Yu melemparkan biji biji deperti kacang keedelai. Begitu tiba di permukaan tanah biji itu menyerap tanah dan bebatuan hingga membentuk menjadi sebuah golem.
Pergerakannya lambat dan hampir tak berjasa untuk Mao Yu sama sekali. Namun Mao Yu mengambil keuntungan dari golemnya sebagai tameng hidup serangan cambuk akar.
Mao Yu berkelit dari golem satu ke golem lainnya. Ukuran golem yang besar menguntungkan pergerakan Mao Yu ditambah golem golem ini terbuat dari batuan keras dunia kelima. Sulit sekali dihancurkan oleh serangan cambuk akar.
Dunia kelima bergetar, warna oranye sedikit memudar sesaat. Sebuah gerbang kayu raksasa muncul di bekalang Pak Tua.
Suasana kembali dalam keheningan saat semua cambuk akar ditarik kembali ke dalam lengan. Digantikan gerbang kayu mengambang dengan segudang tekanan.
Mao Yu mengambil nafas melihat seluruh golemnya berdiri berjajar di depannya. Seakan naluri melindungi tuannya terpanggil. Seluruh golem dalam keadaan siaga bermaksud menghadang serangan dari Pak Tua.
“Hmmm… Serangan pamungkas? Mau lebih menghancurkan dunia kelima?” Mao Yu yang kelelahan berkata dengan sedikit tersengal.
“Segitukah tak berdayamu menghadapiku lantas kemu mengeluarkan itu?” Mao Yu menunjuk pada gerbang kayu besar yang mengambang. Terlihat kuno dan mencekam.
“Mempersingkat urusan dan aku bisa kembali dalam ketenangan.” Pak Tua membalas.
__ADS_1
Dengan lambaian tangan gerbang raksasa berderit, pintu akan terbuka. Tekanan yang dialami Mao Yu menjadi lebih berat hingga dia pun kesulitan menggerakkan tubuhnya sendiri.
Dia seperti telah dikunci dalam sasaran serang oleh senjata pusaka Pak Tua.
“Kamu lebih berbahaya dari yang kukira, melebihi musuhku terdahulu dan melebihi sekutuku terdahulu yang berkhianat.” Pak Tua berbicara lirih.
Pak Tua menyimpulkan bahwa Mao Yu harus segera dieliminasi karena dorongan kuat dari nalurinya. Naluri yang dibabtis atas kehidupan berbagai era, babtisan pertempuran yang menyababkan hampir punah kaumnya dan babtisan pengkhianatan.
“Benda itu tak bisa membuhuhku. Hanya akan menambah kehancuran dunia kelima dan lebih menyusahkan keturunanmu yang tinggal di sini. Apakah sepadan menggadaikan keberadaan kaummu yang hanya tinggal beberapa hanya untuk kematian bocah tengil sepertiku ini?”
Pak Tua sedikit tergerak. Namun sorot mata pemusnahan untuk hukuman mati Mao Yu tidak surut sama sekali.
“Senjata itu sebaiknya kamu arahkan ke dunia ketigabelas.” Mao Yu berkata tegas.
IIIIINNNN IIINNNNNIIIIIIIIIIIIIIIII…………..
IIIIINNNN IIINNNNNIIIIIIIIIIIIIIIII…………..
IIIIINNNN IIINNNNNIIIIIIIIIIIIIIIII…………..
Golem batu raksasa dengan ketinggian hingga menyentuh langit muncul dari dalam tanah. Menyebabkan hancurnya gunung dengan batuan beterbangan. Debu mengepul ke langit membentu jamur raksasa.
Golem raksasa muncul di kejauhan arah belakang Pak Tua. Kedua lengannya terentang dari ufuk hingga ke ufuk kemudian mencengkeram gerbang kayu raksasa dengan kedua tangannya.
Buku buku jari raksasanya menahan gerbang kayu raksasa di langit. Cengkeraman kuatnya melilit pintu menahannya supaya tidak terbuka.
__ADS_1
Sempat mengamati sesaat karena hal ini sangat tiba-tiba, Pak Tua bertekuk lutut di tanah dengan cairan hijau keluar dari hidung dan telinganya. Tekanan serang balik dari harta karun pusakanya yang ditekan oleh golem batu raksasa.
Dengan tatapan yang sayu bahkan Pak Tua tak bisa melihat kepala golem batu raksasa, karena tertutup awan tebal. Betapa besar dan tingginya.
“Membunuhmu dan menghapuskan bangsa mu sangat mudah. Apakah aku akan melakukannya?” Mao Yu mendekati Pak Tua yang terlihat tidak berdaya.
“Aku kalah, keputusan bebas di pihakmu. Nasibku dan bangsaku tergantung ucapanmu.” Pak Tua menyerah.
Dalam hatinya dia merasa longgar dan lapang. Rasa misterius Mao Yu yang terus menghantuinya ternyata benar sesuai dengan naluri pemikirannya. Dia merasa layak mati bersama bangsanya di tangan Mao Yu.
Jiwa ksatria.
“Ras Pohon dengan garis darah pohon dunia, meskipun sangat tipis. Kurasa kalian memiliki cerita sejarah yang panjang sekaligus kelam.” Mao Yu berkata.
Pak Tua membenarkan ucapan Mao Yu, dia tidak terkejut lagi atas rahasia besar yang hanya dia sendiri yang simpan dibuka di hadapannya.
“Aku tak perlu mengulang cerita dan mempertanyakan, anda lebih tahu dari saya dan siapa pun di dunia yang lebih luas.” Pak Tua berkata parau.
“Apa aspirasimu untuk masa depan?” Mao Yu bertanya.
“Bertahan hidup adalah yang utama.” Pak Tua mengucapkan dengan sangat bertekad. Sorot matanya menyinarkan kemauan keras untuk bertahan hidup.
“Setelah itu? Seperti memukul musuhmu dari masa lalu?”
“Itu kewajiban ras kami sekaligus sumpah kami pada leluhur. Jika kami memiliki kemampuan, nahasnya kami sekarang dalam kondisi seperti ini.” Pak Tua berkata dengan rasa kecewa atas ketidakberdayaannya sendiri.
__ADS_1
“Bawa aku melihat kaummu…” Mao Yu membuat permintaan.~~~~