Legenda Raja Abadi

Legenda Raja Abadi
Bibi Peri


__ADS_3

Para jemaat memberikan salam kepada Pak Tua Shi, kemudian mereka meninggalkan kuil.


Namun Jing Jun tetap tinggal di pelataran kuil bersama Pak Tua Shi. Setelah mereka berdua cukup bercakap-cakap. Jing Jun melangkahkan kakinya menuju sumur.


"Tunggu Jun-er, aku kesulitan mendekati sumur itu. Aku seperti pingsan jika hendak menggapai bibirnya." Pak Tua Shi memperingatkan Jing Jun.


Namun kini Jing Jun telah sampai di bibir sumur dan tangannya sudah meraih tali timba.


"Ah, benarkah kakek? Tapi aku sudah tiba di sini." Jing Jun sedikit heran dan bertanya-tanya.


Pak Tua Shi kembali bereksperimen mendekat ke sumur. Tapi hal sama terjadi padanya, dia ditolak dan dipaksa untuk menjauh.


Jing Jun pun penasaran kenapa ini tidak terjadi pada kakek. Sedangkan aku tidak.


"Tuan muda memerintahkanku untuk mandi di air sumur ini setiap pagi. Apakah mungkin ini ada hubungannya dengan tuan muda ?" Jing Jun menduga-duga.


"Iya, baiklah kalau begitu aku akan mengawasimu. Aku masih penasaran dengan hal ini soalnya." Pak Tua Shi membalas.


Jing Jun kemudian membuka bajunya. Otot-otot kecil di tubuh kurusnya berkontraksi ketika dia menarik tali untuk menimba air dari kedalaman sumur.


Ketika timba telah diangkat. Energi kuat berasal dari timba dirasakan oleh Pak Tua Shi hingga dia merasa tubuhnya terpental ke belakang.


Jing Jun mengguyurkan air ke tubuhnya. Dia merasakan air sangat dingin dan segar. Seolah masuk ke dalam pori-porinya. Dan menyuburkan seluruh tubuhnya.


"INN INNIIII... " Pak Tua Shi mencolot ke belakang dengan mata terbelalak.


Air memancarkan energi yang sangat murni. Dia belum pernah melihat yang seperti ini di dunia.


"Jun-er... Jun-er... " Pak Tua Shi memanggil dengan panik.


"Ada apa kakek ?" Jing Jun terheran-heran.


"Tolong isikan mangkokku ini air..." Pak Tua Shi menyodorkan mangkuk kayu dengan gemetar.


Jing Jun meraihnya. Dia menimba lagi air di sumur dan mengisikan ke mangkok. Setelah diberikan ke Pak Tua Shi dia menggunakan air di timba untuk mengguyur dirinya sekali lagi.


Pak Tua Shi gemetar seluruh tubuhnya memegang mangkok yang berisi air misterius. Hingga permukaaan air di dalamnya ikut bergoyang-goyang.


Air ini berwarna jernih kemilau dengan massa yang lebih berat dari air sumur biasa. Ketika dia mengedarkan persepsi ke dalam air. Pak Tua Shi sekali kaget. Dia tak henti-hentinya terkejut.


"INN INNIII...."


"In ini adalah Air Suci... Air suci... " Pak Tua Shi memberanikan diri sedikit menyesap air dari mangkok.


BOMMMM....


Aura dan energi Pak Tua Shi menyambutnya dengan tumbuh berkali-kali lipat. Kemacetan yang dia alami langsung jebol begitu saja. Dia instan menerobos ke ranah selanjutnya.


Kekuatan spiritual air tidak langsung habis begitu saja. Masih merembes ke setiap tubuh dan mekonstruksi ulang dengan membentuk pondasi yang berkali-kali lebih kuat.


Pak Tua Shi dengan sikap lotus segera mengedarkan energi sesuai kultivasinya.


Dirasa cukup, Pak Tua Shi membuka mata. Dia melongo melihat pemandangan pemuda di depannya mandi dengan asyik mengguyur-guyurkan air.


Pak Tua Shi menangis. Ini adalah air suci. Air yang mampu membuat siapapun mengubah gubuk reyot menjadi halaman immortal.

__ADS_1


Airnya mengalir dan meresap ke tanah, terbuang sia-sia.


Ini sangat langka dan ternilai harganya.


Ini tidak ada di dunia ini.


Ini akan menjadi rebutan para bigshot di seluruh dunia.


Ini akan membuat sekte ampas menjadi penguasa dunia.


Untuk mandi .... Hanya untuk mandi ...


Pak Tua Shi pingsan.


***


Hari sudah senja.


Angsa besar melintas di atas ibukota pusat dan mendarat di halaman depan Mansion Tua Leluhur.


Tidak usah dibahas lagi. Kedai di mana pun berada heboh dengan pemberitaan adanya tunggangan binatang iblis yang melintas di atas kota.


Ini terkait dengan Guild Penjinakan, hal terlalu jauh dari jangkauan untuk mereka bahas.


Namun ini tidak lepas dari gosip dan spekulasi-spekulasi liar yang mereka gaungkan di kedai-kedai. Yang penting ada bahannya kami siap mengulasnya. Inilah motto para pengunjung.


Yang-er dan Nenek Zi tak henti-hentinya kagum dengan begitu mewahnya mansion. Bahkan di atas punggung Iblis Angsa saat terbang mereka juga tak henti-hentinya takjub.


Mao Yu senang melihat mereka sekarang aman dan bisa hidup bahagia.


"Yang-er, kamu adalah tuan putri di sini sekarang. Ini semua adalah istana yang kakak berikan untukmu." Mao Yu memasang mahkota kecil di atas kepala Yang-er.


"Oh, sungguh ?" Yang-er sangat bahagia.


"Iya, Mereka semua akan patuh padamu. Sekarang masuklah dan istirahat, kakak sedang ada urusan. Para pelayan akan membantu kalian." Mao Yu memerintahkan para pelayan.


'Baik." Yang-er menjawab.


***


Hari sudah gelap, Mao Yu mempercepat langkahnya menuju kuil.


Pak Tua Shi berada di dalam kuil merasakan kehadiran Mao Yu. Dia keluar dan menyambutnya.


"Menghabiskan usia tua dengan mendekat ke tempat ibadah cocok untukmu Pak Tua." Mao Yu memberikan komentar.


Pak Tua Shi tertawa. Kemudian mereka berbincang-bincang ringan di depan sumur tua.


"Tuan Muda, perkenankan aku menimba sumur dan mengambil air dari kuil." Pak Tua Shi mengajukan permintaan dengan hormat.


"Hanya air, ambillah sesukamu..." Mao Yu menjawab.


"Terima kasih." Pak Tua Shi membungkuk sekali lagi dengan jantung yang berdegup kencang.


Mao Yu meregangkan badannya lalu mendekat ke sumur. Kemudian kakinya dia tendangkan ke tembok sumur.

__ADS_1


"Hei Hantu keluarlah..." Mao Yu membentak.


Cahaya biru keluar dari kedalaman sumur diikuti dengan kemunculan sosok gadis cantik.


Hantu arwah sekarang memiliki wujud seperti manusia. Dengan kulit dan wajahnya berbinar seperti warna kulit orang normal yang masih hidup.


Tidak seperti sebelumnya yang tembus pandang. Ini Semua berkat dari item surgawi yang diberikan Mao Yu.


Melihat hantu muncul dari dalam sumur Pak Tua Shi kaget. Dia segera mengambil selembar kertas dari dalam bajunya.


Setelah kertas dibuka dia menemukan penampilan gadis di atas sumur persis sama dengan yang ada di gambar kertas miliknya.


"INN INNNIIII..... Oh, Leluhur .." Seketika dia bersujud.


"Hamba menyatakan rasa terima kas..." Hantu Arwah dengan sopan hendak bersujud namun Mao Yu memotongnya.


"Ini buru-buru. Sekarang kamu kembali lagi dan muncul dengan cahaya pelangi..." Mao Yu membuat permintaan.


Hantu Arwah " ... "


Hantu arwah patuh. Dia segera menghilang dan muncul lagi dengan cahaya pelangi.


"Ulangi lagi... Warnanya kurang cerah... "


"Ulangi lagi... Warna kuningnya terlalu kusam... "


"Ulangi lagi... Warna ungu jangan seperti warna janda... "


"Ulangi lagi... Warna merah terlalu terang... "


Pak Tua Shi " ... "


Para penghuni mansion melihat cahaya bersinar terang dengan indah berwarna-warni dari arah kuil. Mereka meyakini ini adalah pertobatan hantu arwah. Ketika para jemaat sering beribadat di sana membuat hantu tersentuh. Dia menjadi tercerahkan.


Para penghuni menghela nafas panjang, mereka merasa damai dan tentram. Ketakutan dan was-was akan kerasukan telah menghilang dari pikiran mereka.


"Leluhur... " Pak Tua Shi menangis melihat leluhurnya dianiaya.


"Nah sudah pas warnanya. Lalu praktikkan muncul dari sumur dengan tersenyum. Wajahmu yang sekarang akan menakuti Yang-er." Mao Yu mendengus.


"Lalu potong kukumu. Yang-er akan takut dengan kukumu yang seperti kuku singa.."


"Benahi tata rambutmu, ikat dengan baik. Jangan amburadul seperti orang gila..."


"Ubah pakaianmu putih-merah seperti penjaga kuil..."


"Sedikit make up di wajah..."


"Muncullah dengan memegang bunga..." Mao Yu menambahkan.


"Nah seperti ini. Ini akan membuat Yang-er senang. Dia telah lama memimpikan adanya Ibu Peri. Dengan tampilan ini kamu menjadi lebih mirip seorang Peri, bukan Hantu Arwah lagi." Mao Yu puas dengan settingannya.


"Oh, Leluhurku... " Pak Tua Shi mengulurkan tangan dengan mata berkaca-kaca.


Hantu Arwah mengenali hawa khas keturunannya sedang menangisi dirinya.

__ADS_1


"Oh, Cucuku.... " Dia juga hendak menangis.


__ADS_2