Legenda Raja Abadi

Legenda Raja Abadi
Tujuan


__ADS_3

Tetua pertama akhirnya mampu mengatasi rasa pusing di kepalanya. Saat dia membuka mata dan dapat melihat dengan benar, di depannya berdiri manusia burung dengan paruh panjang yang lancip.


Dari balik jubahnya, manusia burung melempar tiga kelereng hijau dengan asap yang mengepul ke arah tetua pertama.


Tetua pertama yang kesulitan mengkordinir gerakan tubuhnya dengan terpaksa harus membiarkan dirinya terpapar dengan asap hijau.


Bahkan paru parunya harus rela menerima asap yang masuk akibat dia tak dapat mengendalikan pernafasannya.


“UHUKKKK.....”


“UHUKKKK.....”


“UHUKKKK.....”


Pandangan tetua pertama kabur, hal terakhir dilihatnya adalah burung hitam besar yang bergoyang-goyang.


IIIIINNNNNN IIIINNNNNIIIIIIIIIIIIIII..........


Para sarjana yang menyaksikan dengan sibuk menggiling tinta sementara kuas mereka menari-nari di atas perkamen.


Mereka mencatatkan seluruh jalannya pertempuran maha akbar ini.


Mereka menggores lembaran demi lembaran dengan sangat cepat dan berusaha mengambil detail sebanyak mungkin.


Mereka pun harus menahan keringat dan gemetar saat tetua pertama Sekte Api Phoenix dijatuhkan.


Berita gila...


Berita luar biasa...


Ini adalah sejarah yang akan banyak dibicarakan di masa depan...


“Patriark, Tetua pertama kita dijatuhkan di sebelah sana.” Tetua lain berbisik pada patriark Sekte Api Phoenix.


“Kita harus mengambil tindakan.” Tetua lain mengusulkan.

__ADS_1


“Diam... Hmmm...” Patriark Sekte Api Phoenix memicingkan pandangannya terhadap Li Hua.


“Bawa bendera Benteng Tua Leluhur dan kibarkan di sektemu !” Li Hua mengulang kembali permintaannya.


Patriark Sekte Api Phoenix cukup cerdas dalam mengelola pemikirannya. Sejauh yang dia lihat hingga saat ini, sangat kurang bijak jika berkonfrontasi dengan orang-orang Benteng Tua Leluhur.


Fakta yang dia lihat barusan di sini sudah cukup untuk membuatnya menarik kesimpulan.


Perang hingga luluh lantah melawan Benteng Tua Leluhur.


Apa itu yang dia kehendaki? Dalam perhitungannya, melawan pria paruh baya di depannya ini sudah terbilang sangat merepotkan.


Barisan inti para tetua Sekte Api Phoenix yang menjadi pilar kekuatan hanya menjadi samsak hidup. Mengerahkan mereka dalam percaturan tempur justru akan merugikan Sekte Api Phoenix.


“Kami memiliki tiga emperor.” Patriark Sekte Api Phoenix berkata dengan lirih.


“Datangkan semuanya, Benteng Tua Leluhur tidak terancam sama sekali.” Li Hua mengangkat kedua bahunya. Dia berkedip pada Gou Tiga.


GGGRRRRRRRRR............


Gou Tiga menggeram dengan mengerahkan semua kekuatannya, potensi kultivasi binatang iblis dipacu hingga pada puncaknya.


Gou Tiga khusus mengunci patriark Sekte Api Phoenix dan menekannya dengan seluruh kekuatan maksimal.


“UGH...” Patriark Sekte Api Phoenix meludahkan darah.


“Patriark... “ Para Tetua sangat khawatir, namun patriark mencegahnya dengan lambaian tangannya.


Jubahnya sedikit bergetar, dia adalah aktor yang baik pula. Dia sanggup mempertahankan ketenangan di depan murid-murid sektenya.


Memang layak disebut sebagai pemimpin sekte.


“Kamu setengah langkah lagi menjadi emperor dan kamu tidak mampu bertahan. Apakah kamu punya pilihan sekarang?” Li Hua mempermainkan patriark Sekte Api Phoenix.


Patriark Sekte Api Phoenix merenung. Kekuatan satu iblis anjing ini sangat jauh jika dibandingkan dengan kekuatannya. Dia juga mengukur, level iblis anjing ini jauh di atas emperor.

__ADS_1


Sangat mudah bagi iblis anjing ini menaklukkan emperor.


Benteng Tua Leluhur memiliki tiga ekor. Sekte Api Phoenix memiliki tiga emperor.


Satu iblis anjing mampu menahan tiga emperor sekaligus.


IIIIINNNNNN IIIINNNNNIIIIIIIIIIIIIII..........


Patriark Sekte Api Phoenix membuka matanya lebar-lebar dan akhirnya mengungkapkan rasa terkejutnya.


“Patriark !!!” Para tetua segera menghampiri dan mendukungnya.


“Patriark mohon undang leluhur kita kemari, niscaya orang-orang Benteng Tua Leluhur akan lenyap dengan mudah dalam satu sapuannya.” Salah satu tetua berbisik kepada patriark.


Patriark memelototi tetua barusan yang berbisik.


“Goendolmu...”


Patriark memandang kedua tangannya, dia melihat buku buku jari tangannya yang berkulit tebal dengan beberapa keriput.


Patriark memegang dan memelintir rambut panjangnya yang terurai, dia melihat rambut berwarna putih lebih banyak populasinya daripada yang berwarna hitam.


Patriark kemudian memandang kawah besar di kejauhan di mana di sana tetua pertama terkapar dengan basuhan darah.


Patriark kemudian mengalihkan pandangannya pada camp yang hangus terbakar penuh asap hitam mengepul. Di sana terdapat tetua ketigapuluh berdiri di tengah lautan mayat para murid sektenya.


Patriark melihat bendera Sekte Api Phoenix yang jatuh kusam, penuh darah, penuh lumpur, terbakar hangus berserakan di seluruh area camp.


Patriark melihat pasukan Klan Wang dalam gugus besar berbaris di perbukitan timur. Dengan bendera gagah mereka sebuah pohon dengan batang merah yang besar.


Patriark juga melihat dalam pasukan Klan Wang, ada bendera yang dikibarkan sejajar dengan bendera klan mereka. Yaitu bendera bergambar tower benteng dengan goresan tiga cakar.


Bendera Benteng Tua Leluhur.


Patriark menghela nafas panjang.

__ADS_1


Dia merasakan punggungnya semakin berat. Dia juga merasakan kedua bahunya seperti memikul benda yang ingin dia lepaskan dan buang jauh-jauh.


“Pria Tua, apa motivasimu ingin menguasai sekte kami?” Patriark Sekte Api Phoenix bertanya pada Li Hua.


__ADS_2