Legenda Raja Abadi

Legenda Raja Abadi
Bangsa Pohon


__ADS_3

DEBAMMM…


DEBAMMM…


DEBAMMM…


Suara bergemuruh dari dunia kelima. Suara gunung metus dan petir bersahutan. Namun suara berisik kini bertambah lagi oleh serangan pak tua.


Gunung-gunung bertebaran dengan bongkahan batu menyebar ke segala arah. Debu yang membubung tinggi, lava dari gunung dan bebatuan yang mencair.


Pak Tua memberikan serangan kuat dan sangat fatal dengan energi yang seperti tak ada habisnya.


“Kamu akan menambah kehancuran dunia ini.” Mao Yu hanya mengelak seperti rubah yang licik. Di mana Mao Yu berpijak di situ menjadi sasaran kehancuran serangan Pak Tua.


Mao Yu meloncat kesana kemari seperti tupai. Menambah sebal Pak Tua.


Pak Tua melepaskan hukum jasa dengan lecutan lecutan seperti akar dari kedua lengannya. Meskipun akar akar tersebut seperti hidup dan mencari Mao Yu, tetap saja Mao Yu lebih cepat dan lincah.


Kemudian berbagai macam serangan kuat berbentuk sihir dan beberapa senjata juga dikerahkan semuanya.


Tetap saja tidak menghasilkan dampak kerusakan pada Mao Yu. Hanya menambahkan kemarahan saja.


Tak ada tanda-tanda kelelahan mengerahkan kekuatan dengan daya ledak yang sedemikian besar. Untung saja dunia ini sudah hancur.


Mao Yu selain menghindari serangan pak tua dia juga harus menghindari pusaran pusaran hitam penghisap yang kadang muncul secara acak. Bisa dibilang bahaya bertempur di sini adalah dua kali lipat.


Mata yang putih dengan tubuh kurus, rambut dan jubah yang berkibar-kibar diliputi aura kehijauan yang menyala. Pak tua terus mengibaskan kedua tangannya mengunci lokasi Mao Yu dan berusaha meledakkannya.


Mao Yu meloncat menuju ketinggian, ratusan akar mencuat dari dalam tanah berusaha untuk meraih dan mencengkeramnya.

__ADS_1


Beberapa akar melilit menjadi satu menciptakan rajutan cambuk raksasa berusaha menghantam Mao Yu.


“Cih… “ Mao Yu mulai kerepotan.


Dia mengaktifkan tubuh naga yang dipelajarinya. Tangan kanannya tumbuh sisik hitam kemerahan dengan kuku yang tajam. Mao Yu mengepalkan dengan kuat kuat untuk mencounter langsung serangan cambuk akar raksasa.


DUARRRR….


Akar meledak dengan hebat mencerai beraikan dengan kobaran bunga api seperti petasan kembang api ke segala arah.


Momentum yang kuat menyebabkan Mao Yu terhempas dan harus jatur terguling-guling di atas tanah.


Dia terpelanting cukup jauh.


“Sial tanah bebatuan yang cukup keras.” Mao Yu mengumpat.


Kerusakan ruang dan berbagai bencana di dunia kelima menyebabkan tanah dan batuan seperti dibabtis oleh kekuatan penghancur. Tanah dan batuan tersebut yang kini masih bertahan merupakan struktur yang terkuat dan menjadi kuat.


Mao Yu menerima lecet pada lengan dan beberapa bagian wajahnya. Meski hanya luka luar, dia masih merasa goyang bagian organ dalam akibat kerasnya tumbukan.


Mao Yu yg tengkurap masih dalam keadaan takjub mengagumi struktur tanah yang menurutnya sangat kuat.


“Tidak bergerak sedikitpun atau menembus tenggorokanmu.” Pak Tua berdiri di belakang Mao Yu dengan senjata mirip akar dengan ujung runcing yang mencuat dari lengan bajunya. Diarahkan tepat pada tengkuk kepala Mao Yu yang sedang tengkurap.


“Kamu bertele tele…” Mao Yu mencibir. Dia meletakkan pipinya di atas tanah. Sedikit mengakui pertarungan fisik kali ini cukup menguras energi.


Jujur, pak tua dari awal ingin sekali memberangus habis anak ini. Namun di kedalaman fikirannya seperti ada sesuatu yang terus menahan dirinya untuk membunuh. Walau semarah apa dia menjadi, tali kekang dalam pikirannya tak mau lepas.


Mudahnya seperti hubungan antara kakek dan cucu. Senakal dan sekriminal apa pun cucu. Kakek tak akan menghukumnya dengan kematian. Rasa kasih dan sayang hubungan yang menahannya. Ibarat seperti itu.

__ADS_1


Ujung akar mencuat yang runcing hanya berjarak milimeter dari tengkuk Mao Yu. Dan akan semudah menekan jeli ketika ditusukkannya.


Kondisi yang jika diperhatikan dengan seksama, betapa bahayanya posisi Mao Yu.


“Pertempuran seperti apa yang menghancurkan dunia kelima? Ini antara bangsamu dengan bangsa penjajah terdahulu.” Mao Yu bertanya.


Pak Tua “ … “


“Udara yang tak bergerak, pusaran kematian di mana mana, langit yang oranye dan pemakaman…” Mao Yu melanjutkan.


Pak Tua “ … “


“Kalian bertaruh banyak pada peperangan lama itu. Namun tak satu pun ada karangan bunga di sini. Yah, walaupun mungkin bunga bunga sudah menjadi kering. Setidaknya masih ada jejak jejak kelipaknya.”


Pak Tua secara tidak sadar mengundurkan akar runcing dari tengkuk Mao Yu sekian kecil milimeter.


“Apakah kamu masih ingin membunuhku?” Mao Yu tersenyum sinis.


Pak Tua merasa pandangannya menjadi kabur seaat yang membuatnya terlena dengan lawannya yang sedang takluk. Bayangan Mao Yu memudar di hadapannya.


DUAGGGGHH…..


Mao Yu menendang keras kepala Pak Tua hingga dia tersungkur dan jatuh berguling-guling. Tak menunda keadaan, Mao Yu kemudian menghujani Pak Tua dengan ratusan kertas mantra yang bervariasi.


Mantra peledak, mantra petir, mantra penghancur ruang waktu, mantra pembatasan, mantra pembeku, mantra api, mantra pengekangan kultivasi, mantra peluruh vitalitas dan semuanya dikerahkan kepada Pak Tua bertubi tubi.


Pak Tua bangkit setelah ledakan terakhir. Penampilannya kacau balau, tapi tidak menyurutkan sedikitpun semangat, kekuatan dan vitalitasnya.


Dari sorot matanya yang putih Mao Yu melihat dengan jelas lawannya seperti apa.

__ADS_1


“Benar-benar keras kepala dan alot sebagaimana bangsa Trent yang seharusnya.” Mao Yu menyeka keringat dan sedikit darah dari luka lecet di pipinya.


__ADS_2