
Di bangsal sekunder Sekte Api Phoenix.
Tetua ketigapuluh tertawa terbahak bahak saat melakukan diskusi dengan beberapa tetua lainnya.
Tetua ketigapuluh sangatlah muda. Namun prestasinya sangat mengagumkan. Jika tetua yang hadir dibandingkan dengannya di umur yang sama. Mereka hanyalah kunang-kunang yang bersaing dengan bulan purnama.
Legitimasi tetua ketipuluh sangat kuat. Dia digadang-gadang sebagai pilar masa depan Sekte Api Phoenix untuk posisi tetua pertama.
Tetua lain harus menjaga sikap baik dan etika kesopanan saat berhubungan si jenius ini.
“Patriark menugaskan anda untuk misi penumpasan Klan Wang.”
Salah satu tetua menjaga sikap untuk lebih berhemat dalam kata-kata. Mereka seperti memiliki kesepakatan dalam hati masing masing. Untuk tidak membuat masalah dengannya.
Lebih baik diam dan berbicara seperlu mungkin.
“Katakan, apa kesulitan mengatasi mereka?” Tetua Ketigapuluh mencemooh.
“Mereka hanya kawanan yang sedang euforia kemenangan terhadap Sekte Pemandangan. Apa yang dirisaukan.”
“Mereka memiliki leluhur emperor.”
“Katakan apakah leluhur mereka yang sedang sekarat berkunjung kemari dengan kursi roda? Hahaha...” Tetua Ketigapuluh berkelakar.
“Sekte Api Phoenix memiliki tiga emperor. Tiga lawan satu semudah membalik kertas.” Tetua Ketigapuluh menenggak anggurnya.
“Bagaimana jika kita mengaitkan kepercayaan diri mereka dengan adanya kekuatan yang mendukung di belakang Klan Wang?” Tetua lain menyatakan kemungkinannya.
“Itu masuk akal, tapi tetap saja mereka adalah telur burung. Biarkan datang kita tinggal memasaknya menjadi urak arik. Hahaha...”
Tetua lain saling pandang dengan mengangguk terpaksa.
Sudahlah,
Kontur Sekte Api Phoenix berada di sebuah kaldera. Kawah gunung berapi yang sangat besar.
Lokasi yang demikian ini menyulitkan penyerang melewati jalur darat. Pilihan terbaik menyerbu Sekte Api Phoenix adalah dengan penerbangan atau armada udara.
Inilah yang menyebabkan Klan Wang harus berhenti mendirikan camp untuk menyusun rencana.
Patriark Wang Ji duduk seorang diri dengan kontemplasi pikiran yang hebat. Sejak kupu-kupu hitam menghampirinya. Sebuah pesan singkat disampaikan kepadanya.
__ADS_1
Datang menuju Sekte Api Phoenix...
Patriark Wang Ji tidak mendapatkan penjelasan yang spesifik apa yang harus dilakukan di sini. Maka jalan satu satunya baginya adalah menanti perintah selanjutnya.
Di sebuah hutan yang sangat gelap.
Seorang pria paruh baya berjalan diikuti oleh dua orang muda dan mudi.
“Kakek, ke mana kita akan pergi ?” Gadis bertanya.
“Mengantarmu pulang.” Lei Teng menjawab dengan lembut.
“Menuju Sekte Api Phoenix?” Gadis Api menegaskan.
“Iya, Bukankah kamu senang berjumpa dengan tunanganmu?” Li Hua tersenyum.
“Tetua Ketigapuluh...” Gadis Api cemberut.
“Aku tidak mencintainya, hanya karena dia jenius dan dicintai sekte. Bukan berarti aku turut menyukainya.”
“Hahaha... Romantika anak muda.” Li Hua berkelakar.
“Gadis kecilku yang baik, jika aku meratakan apa yang kamu sebut rumah. Apa kamu akan merindukan dan membenci kakek?” Li Hua menghentikan langkah dan berbicara dengan kontak mata yang teduh.
“Hahaha... Baiklah...” Li Hua tertawa.
Nian dengan kultivasi yang sedikit pulih mengikuti Lei Teng dan Gadis Api sejak dari Sekte Danau Perak. Nian merasakan orang yang dinamai Li Hua ini sangat berbahaya.
Apa yang dilihat terasa seperti malaikat dari keluarga terkasih dan apa pun yang diucapkannya seperti dihujamkan pada jiwa.
Bahkan Nian tak bisa menganggap Li Hua sebagai musuh, dia tak bisa melawan. Dia tak bisa membantah dan melanggar ucapannya.
Dia tak bisa membelokkan langkah kakinya. Untuk lari dan kabur sejauh mungkin darinya.
Menurut dan patuh secara total.
“Keponakanku yang baik...” Li Hua menatap Nian.
“Ya kakek...” Nian menjawab.
“Astaga Kakek, AWAS !!!” Nian dan Gadis Api berbaris di depan Li Hua dengan pedang terhunus.
__ADS_1
Tiga anjing besar pitbull dengan kalung rantai runcing menghadang dengan geraman kasual.
“Bukankah mereka peliharaan salah satu orang di danau perak ?” Gadis Api menduga.
“Kalian bertiga...” Li Hua tersenyum dengan memberikan lambaian lembut. Tiga Gou segera menghilang dari pandangan semuanya.
Gadis Api dan Nian menyarungkan kembali pedangnya.
“Paman, Apakah akan dimulai?” Seseorang pemuda dengan longbow bersuara dari balik pohon yang sangat besar.
Ah, siapa dia? Nian dan Gadis Api tak bisa mendeteksi kehadiran pemuda ini. Sangat berbahaya, mereka memasang sikap kewaspadaan.
“Kalian berdua tenanglah, tidak ada yang perlu dikhawatirkan.” Li Hua berusaha menenangkan.
“Banyak buruan di sini?” Li Hua bertanya.
“Sangat memuaskan, aku juga mendapatkan yang besar besar.” Fang Yi menjawab.
“Cukup hanya dengan 40 anak buahmu?” Li Hua melanjutkan.
“Mereka masih terlalu menganggur.” Fang Yi menjawab.
“Lanjutkan.”
“Baik Paman...”
Li Hua dan rombongan kembali melanjutkan perjalanan.
Kembali ke bangsal sekunder Sekte Api Phoenix, tujuh hari kemudian.
“Celakaaaa....” Tetua Ketigapuluh meraung hebat.
“Berapapun pasukan pengintai dan penyergap tak ada info kembali ke markas. Mereka menghilang seperti ditelan singa.” Asistennya memberitahu.
“Dan juga patriark menegaskan untuk segera mengambil langkah untuk pembalasan Tetua Ketiga. Anda dinilai kurang cekatan dan terlalu banyak menunda tuan.” Asisten membacakan surat dari patriark.
“Pembalasan yang terlalu ditunda akan mempengaruhi wibawa Sekte Api Phoenix.” Asisten melanjutkan.
“Pergi, tinggalkan aku sendiri...” Tetua Ketigapuluh mengusir asistennya.
Dia kemudian membuka jendela untuk mempersilahkan udara segar masuk lebih banyak. Bagaimana pun juga dia cukup penat dengan tekanan keadaan yang diterima.
__ADS_1
“Eh, siapa yang membakar dupa kecil di situ?” Tetua Ketigapuluh menyadari saat dia membuka jendela di samping meja kerjanya.