Legenda Raja Abadi

Legenda Raja Abadi
Hari Damai


__ADS_3

Dunia Kabut Awan memiliki 13 ruang paralel di dalamnya.


Mao Yu dan semuanya kini berada di dunia paralel pertama. Seperti yang kita tahu sebelumnya, Xin Long dan Xin Yifeng berturut-turut tinggal di dunia kedua dan ketiga. Mereka menjadi murid salah satu sekte di sana.


Untuk bepergian menuju dunia yang lebih tinggi tidaklah sulit. Seseorang harus melewati portal yang menghubungkannya.


Atau seorang kultivator yang kuat, cukup merobek ruang saja untuk berpindah lokasi. Namun yang seperti ini tidak sembarangan. Mereka harus menjadi ahli yang sebenarnya untuk bisa melakukannya.


Menuju dunia atas pun juga sebuah tantangan. Di sana sumber daya lebih baik dan banyak kultivator yang jauh lebih kuat.


Menuju ke sana harus memiliki kekuatan yang cukup untuk bisa bertahan dan bersaing.


Apakah kultivator dari dunia atas bisa seenaknya menguasai dunia lebih bawah? Jawabannya ada dua.


Pertama mereka sangat mungkin melakukannya. Namun dunia lebih bawah sayangnya kurang menarik bagi mereka karena sumber daya yang minim. Tidak ada hal menambah manfaat dalam kultivasi mereka.


Kedua, setiap dunia diawasi oleh Watcher. Yah semacam polisi yang menjaga ketertiban seluruh keberadaan 13 dunia. Mereka berpusat di dunia 13 yang dikenal sebagai tanah terlarang.


Organisasi watcher sangat misterius, para anggotanya membaur dengan semua orang. Kita mungkin tidak menyangka jika orang di sebelah kita ternyata seorang watcher. Mereka sangat ahli menyembunyikan identitas.


Sejauh ini tak ada satu sekte pun yang berani membuat urusan dengan mereka.


Di kuil Mansion Tua Leluhur, Ibukota Pusat.


"Kakek, sejauh mengikuti tuan muda selama ini saya tidak dapat menemukan apa-apa. Semakin jauh saya ingin mengetahui semakin misterius pula dia." Fang Yi berdiskusi.


"Yi-er, begitu juga dengan aku. Namun setidaknya di sini kita dapat dekat dengan leluhur kita." Pak Tua Shi menatap sumur tua.


Pak Tua Shi adalah kakek kandung Fang Yi. Dia bernama Fang Shi.


"Apakah kakek akan melaporkan ini kepada atasan ?" Fang Yi penuh tanda tanya.


"Aku akan mengamati lebih jauh lagi." Fang Shi menjawab.


"Aku menduga, apakah tuan muda mengetahui skema kita ?" Fang Yi khawatir.


"Pertanyaan sulit." Fang Shi menghela nafas panjang.


***


Beberapa hari kemudian berlalu tanpa ada sesuatu hal yang mengganggu. Bisa dikatakan ini adalah hari-hari yang penuh ketenangan.


Beberapa bangunan sangat sederhana terbuat dari kayu berdiri di samping pohon willow besar. Sebuah kuil, aula dan beberapa pemondokan.


Beberapa hari terakhir Mao Yu bersama Kong Kecil menempati salah satu pemondokan.


Di atas kuil terpampang tulisan Kuil Tua Leluhur. Sedangkan tak jauh dari kompleks bangunan terdapat batu besar yang berbentuk seperti nisan.

__ADS_1


Dalam pahatan batu tertulis Penghinaan terhadap kesucian benteng akan dibayar dengan darah dan pemusnahan total.


Sebuah monumen batu dengan kata-kata sangat arogan.


Mao Yu menatap pohon willow besar di depannya. Ketika dia mendongakkan kepala dia juga melihat Kong Kecil hinggap di salah satu dahan dalam keadaan tertidur pulas.


Mao Yu mengabaikannya. Dia mengeluarkan biji hijau yang dia dapatkan dari pohon tua tempo waktu.


"Saatnya kamu hidup..." Mao Yu menggumam.


Dia menempelkan biji hijau ke batang pohon willow. Seketika biji hijau tenggelam dan masuk ke dalam batang pohon.


Dengan sebuah denyut singkat, energi primordial berkedut hingga ke tiga belas dunia.


"Biji ini adalah sebuah jiwa yang sangat kuno. Ketika dia mendapatkan pohon baru berarti dia melanjutkan kehidupannya. Sekarang pohon ini menjadi hidup." Mao Yu menangkupkan kedua tangannya.


Memberi salam kepada pohon willow besar.


Mao Yu melihat Kong Kecil tak bergeser sedikit pun. Tampaknya denyut energi pohon tidak dapat dia rasakan sama sekali.


"Kong Kecil aku ingin danau di samping pohon willow ini..." Mao Yu merajuk.


Kong Kecil menggeliatkan badannya. Dia terbangun dengan wajah malas, masih sangat ngantuk boss.


Kong Kecil menunjuk tanah di samping pohon willow. Sebuah kekuatan besar tak terlihat dari atas menekan permukaan tanah hingga membentuk cekungan yang besar dan sangat dalam.


Seketika air muncul dan langsung memenuhi seluruh cekungan. Danau yang lebar dengan air yang sangat jernih telah tercipta. Kini kompleks benteng memiliki pemandangan yang lebih indah.


"Tan Kecil akan senang tinggal di sini..." Mao Yu tampak bahagia.


"Ah, Kong Kecil tambahkan ikan. Agar Tan Kecil punya teman. Aku juga ingin memancing jika ada waktu luang." Mao Yu membuat permintaan lain.


Kong Kecil yang telah merebahkan tubuhnya kini bangkit lagi dengan enggan. Dia berteleport menghilang, kemudian kembali lagi dengan melempar berbagai jenis ikan, kepiting dan kerang ke danau.


Dia juga membawa berbagai macam tanaman air termasuk bunga teratai.


"Nah, begini lebih hidup. Aku akan menjadikan tanah ini sebagai surga baru nantinya." Mao Yu puas.


***


Mao Yu mengeluarkan meja dengan beberapa kursi dia menikmati waktunya.


Dari kejauhan sebuah rombongan datang dengan berjalan menuju tempat Mao Yu. Mereka adalah Lo Hua, Kepala Sekte Mutiara terbit beserta beberapa tetua sekte yang mengikutinya dari belakang.


Mao Yu menerima tamu pertama yang berkunjung ke bentengnya. Dia mempersilahkan semuanya duduk.


"Nikmati hidangan seadanya." Mao Yu bersikap ramah.

__ADS_1


Mao Yu mengeluarkan sekeranjang buah. Dia juga mengisi air pada gelas tamunya satu per satu. Gelas dan tekonya terbuat dari tembikar sederhana.


"Lo Hua nampaknya kamu telah meningkat dengan luar biasa." Mao Yu melihat kultivasi Lo Hua melejit.


"Semuanya adalah rahmatmu tuan muda." Lo Hoa menangkupkan tangan diikuti tetua yang lain.


"Kami atas nama Sekte Mutiara Terbit akan mendukung benteng anda tuan. Kami akan berada di samping Benteng Tua Leluhur dalam suka maupun duka." Lo Hua menyatakan komitmen.


"Aku sangat menghargai ketulusan kalian. Mari diminum, untuk melepas dahaga di tengah siang." Mao Yu berkata dengan suasana hati yang gembira.


"Hayati dan nikmati tiap tegukannya. Air di sini sangat segar." Mao Yu menambahkan.


Lo Hua dan para tetua mengambil gelas masing-masing. Mereka semua meneguk air sesuai dengan anjuran Mao Yu.


"IINN INNNIIIII......"


Semuanya berteriak dengan serentak.


Mereka langsung menuju pikiran zen. Menikmati deburan ombak energi yang mensucikan dantian dan menyapu seluruh meridian.


Tanggul-tanggul hambatan dan segala hal yang menyumbat langsung jebol dengan meluapkan energi yang luar biasa.


Masing-masing tetua bersinar secara bergantian.


Mereka menembus kemacetannya selama ini.


"Tuan muda, apakah air ini ?" Salah satu tetua yang pertama keluar dari pikiran zen bertanya dengan ketakjuban.


"Orang-orang menyebutnya air suci." Mao Yu menjawab.


"IINN INNNIIIII......"


Tetua tersebut terbelalak.


"Ini terlalu mewah bagi kami. Sejatinya tidak pantas kami meminumnya. Apakah tuan muda tidak melakukan pemborosan ?" Tetua menyatakan kegelisahan.


"Hanya air. Lihat kumpulan batu besar paling dekat dengan pohon willow itu." Mao Yu menunjukkan batu besar hitam mengkilat yang disusun Kong Kecil saat membuat danau.


Di sela sela batu mengucur aliran air membentuk air terjun mini menuju danau di bawahnya.


Tetua melihatnya dengan mengerahkan seluruh kemampuan persepsi. Dia langsung pingsan di tempat.


Tetua lain yang telah selesai mendengarkan pembicaraan barusan segera melihat air mengucur di bebatuan dengan seluruh kekuatan maksimum persepsi mereka.


Mereka jatuh pingsan satu per satu.


Lo Hua yang terakhir bangkit dari pikiran zen juga melakukan hal sama. Setelah melihat dia jatuh dari kursinya. Dia tidak pingsan seperti tetua-tetua.

__ADS_1


Dia seperti orang kumat sakit ayan dengan telunjuknya menunjuk-nunjuk pada air di bebatuan.


__ADS_2