Legenda Raja Abadi

Legenda Raja Abadi
Pertempuran Klan Wang (1) Pertempuran Penerus


__ADS_3

Ma Ho adalah panglima besar Sekte Pemandangan.


Dia berdiri menyaksikan seluruh pasukan yang dipimpinnya kocar kacir. Segala macam komando yang diberikan secara terkoordinir pun kacau balau di medan laga.


“Prajurit kita mengalami kekalahan mental” Ujar komandan cabang yang berdiri di sebelahnya.


“Sangat disayangkan.” Komandan membalas.


“Meskipun pada ujungnya kita tak mampu mengimbangi. Tak kusangka pasukan kita jatuh secepat ini.” Komandan cabang menghela nafas.


“Bagaimana posisi tiga kepala sekte saat ini ?” Komandan mengernyitkan dahi.


“Mereka sedang dalam konsensus menunggu datangnya leluhur. Aku percaya dengan datangnya leluhur arah pertempuran ini akan segera berbalik dalam sekejap.” Komandan cabang memaparkan.


Komandan terpaksa mengeluarkan sapu tangan dan menyeka keringat di dahi dan pelipisnya.


Kondisi pertempuran ini benar-benar menguras seluruh kekuatan mentalnya.


AAAAAAAAAAAAAA......


AAAAAAAAAAAAAA......


AAAAAAAAAAAAAA......


Teriakan demi teriakan pasukan Sekte Pemandangan bersahutan. Sekali lagi Pasukan Wang benar-benar tidak memberi kemudahan sedikitpun sama sekali pada lawannya.


Binatang-binatang iblis Klan Wang mengacau seluruh formasi yang berusaha dibentuk prajurit-prajurit Sekte Pemandangan.


Yang lainnya sibuk memporak-porandakan berbagai macam bangunan megah yang berdiri di atas tanah Sekte Pemandangan.


Binatang iblis berbentuk badak kali ini sibuk menghancurkan bangunan kuil dan menara yang menjadi landmark Sekte Pemandangan.


BRRRROOOOHHHH....


Dalam waktu yang cukup lama, bangunan itu akhirnya roboh menjadi puin-puing.


Para prajurit Sekte Pemandangan terpaksaa harus menelan pil pahit kembali. Dengan robohnya bangunan tersebut. Mental mereka semua makin longsor, mereka sudah enggan berjibaku di medan pertempuran.

__ADS_1


“Prajurit Sekte Pemandangan mengendurkan pegangan pada pedang dan tombak yang mereka miliki.” Salah satu ahli berkata.


“Itu masalah cepat atau lambat.” Yang lain menyahut.


“Pertempuran kali ini pada dasarnya adalah serangan mental. Klan Wang memang cemerlang dalam membuat siasat perang.” Ahli menambahkan.


Gadis Centil dan Pemuda Berotot melotot dengan tajam ke arah puing-puing kuil. Garis kemarahan terlihat dengan jelas di raut wajah mereka.


Bahkan jika kita mencermati di dahi mereka seperti dicap tulisan dengan kata “marah” dengan tinta hitam yang sangat jelas.


Keduanya tak lagi mampu menahan rasa gemetar ingin melucuti tentara Klan Wang.


Kedua muda mudi ini adalah murid utama Sekte Pemandangan yang melempari Mao Yu dan Lin Fan. Kita mengenalnya di Camp perburuan Makam Tua.


Keduanya digadang-gadang sebagai calon penerus Sekte Gunung dan Lembah.


Hanya saja kali ini tidak ada pemuda cantik bersama mereka. Pemuda cantik telah lama meninggalkan sekte. Kini dia sedang bersama peniup seruling, menyaksikan langsung pertempuran akbar.


“Jangan kasih kendur, ini sudah berlebihan.” Gadis centil meradang.


Pemuda berotot menganggukan kepala. Seketika dua bayangan seperti meteor melaju dengan cepat menuju titik tengah pertempuran.


“Gadis Mawar Merah...” Pemuda berotot menggumam.


“Perhatikan langkahmu selanjutnya atau kamu berakhir dalam peti mati.” Wang Jiao menantang.


Wang Shan di sebelahnya pun segera menghunuskan tombak dari penyimpanannya. Tak ada raut jenaka dan kekanak-kanakan. Tatapannya fokus dan mengunci pada pemuda berotot.


Gadis Centil segera melepaskan energi ofensif dengan lambaian selendangnya. Melepaskan bilah angin yang sangat tajam kepada Wang Jiao.


Sayangnya itu hanya pemandangan kasual yang umum terjadi. Dengan mudah tombak Wang Shan meliuk seperti ular dan merajut bilah menjadi bubar menuju ketiadaan.


Wang Jiao hanya menerima terpaan angin sepoi yang sedikit menggoyangkan rambut poninya.


“Serengan remeh...” Wang Shan meledek dengan membuang ludah.


“Kamu... “ Gadis Centil meraung. Dia dengan segera mendatangi Wang Jiao dengan tangan kanan menggenggam pedan dengan erat.

__ADS_1


Sementara Wang Shan tak lagi membuang waktu, sekali tombak terhunus. Pantang disimpan sebelum menikmati darah. Mata tombaknya menuju ke arah pemuda berotot.


Medan laga sedikit mengendurkan tegangannya kali ini. Banyak mata fokus pada pertempuran di langit.


Ini adalah pertempuran antara penerus langsung kekuatan besar.


Pengamat melihat gerakan mereka sangat cepat dan efisien. Ledakan ledakan seperti kembang api bermekaran di langit.


Suara gemuruh bersahut-sahutan sebagai efek dari pertukaran harta tinggi.


Sesekali juga pengamat merasakan udara bergetar menyapu tubuh mereka. Ini benar-benar pertarungan yang sangat layak disaksikan.


“Kamu sedikit lebih emosional. Kedua penerus Sekte Pemandangan, Hmmm... Kamu sedikit memiliki ikatan dengan mereka.” Pemuda seruling memandang pemuda cantik.


Pemuda Cantik “ ... “


“Hiyyaaa.... Rasakan... Rasakan....” Gadis Centil menyerang Wang Jiao dengan membabi buta.


Wang Jiao menghindar, menepis dan menghalau serangan setiap pedang yang diupayakan untuk menghabisinya.


Namun sayangnya puluhan gerakan pedang mengungkapkan cela, ratusan gerakan memperlihatkan kelemahan dan ribuan gerakan menunjukkan celah.


Kesempatan ini yang dinantikan Wang Jiao. Sebuah bogem dengan kekuatan banteng menerkam mulut gadis centil.


DUAGH...


Gadis centil mundur beberapa huyung dalam penerbangannya. Matanya melotot dengan sedikit berair. Kedua tangannya menutup mulutnya.


Para pengamat melihat darah lumayan menetes dari bibir mulutnya yang bengkak.


“Bertarunglah dengan sungguh sungguh. Saat kami bertarung, kami tidak menggunakan mulut.” Wang Jiao menggeleng-gelenggkan kepalanya. Dia memamerkan bogem padanya.


Wang Shan menusukkan tombak dengan gaya mematuk-matuk pada pemuda berotot. Benar-benar tidak memberi ruang mudah sama sekali.


Wang Shan sangat mendominasi penuh dan menekan lawannya. Tak terasa dalam waktu singkat tombaknya pun melubangi tubuh pemuda berotot.


Para mengamat melihatnya, baju pemuda berotot terdapat noda darah di beberapa tempat.

__ADS_1


Dalam babak pembukaan pertarungan antara dua penerus kekuatan, Wang bersaudara berhasil memukul mundur lawannya.


Gadis centil dan pemuda berotot saling pandang dan menganggukkan kepalanya. Kiranya ini saat tepat untuk menggunakan harta pamungkas mereka.


__ADS_2