Legenda Raja Abadi

Legenda Raja Abadi
Kondisi Para Penyerang


__ADS_3

Kepala Sekte Tang Shang dan Chen Li berbaring lemah di ruang perawatan sekte.


Sebuah kamar sederhana dengan dipan usang.


Beberapa pengikut Lei Teng hilir mudik merawat keduanya. Mereka sangat buruk keadaan dengan luka di sekujur tubuh.


Tak bisa dibayangkan lagi meskipun keduanya kembali sehat, mungkin akan menderita cacat. Kecacatan tubuh fisik maupun kultivasi.


Kepala Sekte Tang Shang sedang diperban. Perawatnya dengan terpaksa harus sangat menyayangkan. Kepala sekte akan menjadi fana setelah siuman kembali. Dia kehilangan kultivasinya, dantian dan meridiannya hancur.


Sementara Chen Li tak jauh lebih baik dari Kepala Sekte Tang Shang.


“Sangat disayangkan anak ini. Aku melihat dia sedikit memiliki bakat. Meskipun tidak sebaik kualitas pondasinya. Aku yakin meskipun sedikit memakan waktu, dia bisa bersaing dengan murid sekte menengah.”


“Kau lihat otot anak ini sangat solid dan juga perhatikan bekas kapal di kaki dan tangannya. Dia telah berusaha keras. Ah tidak, bahkan jauh lebih keras.”


“Kurasa dia sangat serius, tekun dan memiliki impian besar.”


“Namun sangat disayangkan. Dia kini menjadi fana.” Salah satu perawat menggumam.


Sementara rekannya yang lain terpaksa menghentikan pekerjaan mereka sejenak dari merawat keduanya untuk mengelus dada masing masing.


“Oh ya bagaimana dengan Gadis Api? Apakah yang lainnya telah menyiksa?” Salah satu perawat bertanya.


“Kurasa ini sulit. Gadis Api terus mengancam akan mendatangkan kekuatan sektenya untuk memberangus kita. Hingga saat ini rekan-rekan tidak berbuat apa-apa.”


“Sejujurnya kami ngeri juga ketika Gadis Api mengeluarkan ancaman seperti itu kepada kita.” Yang lain menimpali.


“Kekuatan Sekte Api Phoenix itu adikuasa. Kami pun masih ragu, apakah pakarnya sanggup menangani amukan mereka.” Yang termuda menambahkan dengan rasa keragu-raguan.

__ADS_1


Mereka tenggelam dengan pekerjaan masing masing. Ada yang menyeka dengan air hangat. Ada yang memberikan obat balsam. Ada yang bertugas memberikan uap dari tungku obat. Ada yang memberi perban. Dan yang terakhir menyalurkan energi murni kepada keduanya.


“Empress Fire Phoenix, Immortal dari Sekte Api Phoenix masih hidup dan dengan alasan itulah sekte ini menjadi yang terkuat. Jika saja pakar kekuatannya melebihi Empress Fire Phoenix, menurutku sangat mudah berurusan dengan mereka.” Yang tertua berkata sembari dia menyalurkan energi murni kepada Kepala Sekte Tang Shang.


“Ah, Tua Chu... Aku pernah mendengar bahwa Empress Fire Phoenix terakhir kali terlihat saat pertempuran akbar antara dua immortal di masa lalu yang sangat jauh. Orang-orang masih menyebutkan itu duel paling meriah, soalnya hingga sekarang tak ada lagi kejadian yang seperti itu lagi.”


“Duel antara Immortal Myriad Mountain dari Sekte Pemandangan dengan Immortal Red Wood dari Klan Wang.” Yang tertua bergumam.


Semua orang berhenti dari pekerjaannya, semua kepala menoleh kepada yang tertua dengan sorot mata tajam membidik.


Rasa penasaran bergelayut dalam pemikiran setiap orang.


“Kalian ingin aku bercerita? Ah ya baiklah... Akan kuceritakan ringkasan ceritanya.” Yang tertua tersenyum.


Sementara di halaman utama Sekte Danau Perak.


Nian merintih menahan luka tusuk yang sangat parah pada tubuhnya. Meskipun dia juga mendapat perawatan, rasa sakit masih terasa dengan kuat terutama di bagian organ.


“Apa yang harus kulakukan, bahkan aku memanggil jimat perlindungan dan komunikasi dari penyimpananku aku pun tak bisa.”


“Jika saja aku bisa mengirim sinyal, kekuatan Sekte Pedang Bumi akan datang kemari dan menyelesaikan dengan cepat dan mudah.”


Dia terus memutar kembali otaknya agar bisa dengan segera mengirimkan tanda kepada ayahnya.


Untuk masalah kultivasi yang menguap dia tidak begitu khawatir tentangnya. Ayahnya sebagai Penatua Pertama memiliki beberapa perbendaharaan yang sangat mustajab.


Nian mengetahui dengan pasti bahwa ayahnya memiliki pil obat yang berkhasiat memulihkan keadaannya. Meskipun setelahnya dia harus membayar harga mahal untuk memulainya kembali.


“Aku harus bisa mengirimkan sinyal bantuan secepat mungkin.” Nian terus menguatkan tekadnya.

__ADS_1


Cheng An diikat dengan sebatang tombak yang menancap. Dengan kutivasi yang tersegel, dia hanya bisa menerima keadaan yang menimpanya dengan pasrah.


Dia ingin sekali mengutuk, mengumpat dan mengancam namun itu menjadi simalakama baginya.


Setiap satu kata yang keluar dari mulutnya. Dia mendapatkan satu tendangan, pukulan atau tamparan dari pengikut Lei Teng. Mao Yu yang memerintahkannya.


Pada awalnya Cheng An tak menghiraukan, karena basis kultivasinya sangat tangguh. Serangan pengikut Lei Teng tak memberinya rasa sakit.


Namun semuanya berubah dalam sekejap saat Mao Yu memberikan gayung dari perahu yang dia tumpangi untuk mengarungi danau sebelumnya.


Gayung kayu menyerap air dari danau perak. Kita tahu bahwa air danau perak sangat melemahkan kultivasi seseorang.


Maka satu pukulan dayung akan disambut teriakan nyaring dan sangat nyata terdengar oleh semua orang bahwa Cheng Li merasakan sakit betulan.


Gulp... Gulp... Gulp...


Di pesisir danau perak yang jauh dari kompleks bangunan sekte. Gelembung-gelembung air muncul dari kedalaman danau.


Dengan percikan yang sangat kuat seorang paruh baya muncul dengan efek terlempar dari kedalaman.


Paman ketiga Cheng An terkapar dengan terengah-engah di tanah. Nafasnya seperti mau habis dengan keadaan yang kacau balau.


Dia menguras semua harta tinggi dari penyimpanannya dan membakar kultivasinya untuk mencari jalan selamat dari hisapan danau.


Rasa lega menguasai batinnya. Dia sangat plong dapat keluar hidup hidup. Bisa jadi dari sejarah yang ada dia termasuk orang yang bisa selamat dari generasi ini.


Meskipun harga yang yang harus dibayar sangat mahal.


Rasa tenang seperti menguap begitu saja saat pemuda berpakaian serba putih dengan topi bambu lebar menghampiri dirinya.

__ADS_1


Paman Ketiga Cheng An ingin bersiaga dan mempertahankan diri. Namun dia sangat lemah, hanya bisa membiarkan pemuda itu dengan  perlahan menghampiri dirinya.


“Paman kamu sedang kesusahan, biarkan aku menolongmu...” Pemuda itu kemudian mengangkat Paman Ketiga Cheng An.


__ADS_2