Legenda Raja Abadi

Legenda Raja Abadi
Ganas


__ADS_3

AAAAAAWWCCHHHHHH ...... !!!


...


Pagi-pagi buta Paviliun Shen dihebohkan dengan teriakan nyaring dari ruang perawatan. Sontak seluruh penghuni kaget dan segera berbondong-bondong menuju ke TKP.


Di dalam kamar perawatan, mereka dikejutkan dengan seorang pasien di atas ranjang dengan keadaan yang sangat mengenaskan. Seluruh tubuhnya berwarna kuning seperti buah mangga matang. Dengan asap mengepul dari sekujur tubuhnya.


Mereka melihat seorang pasien sedang menatap mereka dengan tatapan kosong. Dengan mulut bergerak gerak mengatakan sesuatu. Namun tak satu pun kata keluar. Pasien telah kehabisan energi bahkan untuk berkata.


Tangannya seperti hendak meraih langit namun akhirnya ambruk terkulai. Nafasnya tersengal sengal.


Pandangan semua penghuni beralih kepada seorang pemuda yang tampak gembira. Dia sedang asyik mengoleskan salep pada luka-luka Chen Dewei. Siapa lagi kalau bukan Lin Fan.


Mereka semua menyaksikan adegan menabur garam dan meneteskan air limau pada luka.


Semua penghuni yang hadir semuanya saling pandang dengan menelan ludah. Merasa prihatin dengan nasib Chen Dewei. Perawatan Lin Fan ini  memberi efek 100 kali lebih berat dari siksaan mereka tadi malam. Mungkin setelah menyandang gelar ahli racun para menghuni akan menganugerahi satu gelar lagi, ahli siksa.


Salah satu penghuni nampak ingin mengatakan sesuatu. Namun teman di sebelahnya segera menepuk pundaknya memberi kode sebaiknya diam. Daripada nanti menimbulkan perkataan yang salah. Lantas dia memahami dan mengurungkan niatnya untuk memilih diam.


Mao Yu datang paling akhir dari kerumunan. "Siapa yang berteriak pagi-pagi ini? Sangat mengagetkan."


Salah satu penghuni menunjuk Chen Dewei yang sedang terbaring.


"Oh, jadi dia..." Mao Yu memainkan jari di dagu tampak berfikir mengingat-ingat sesuatu yang penting.


"Mulai sekarang kalian harus berhati-hati dengan Tan-Tan Kecil, sepertinya gigitannya mengandung bisa racun yang ganas. Lihat Chen Dewei sekarang keadaanya sungguh sangat menderita. Beruntung dia segera ditangani Lin Fan. Lin Fan lanjutkan perawatan hingga pasien sehat !" Mao Yu kemudian melangkah meninggalkan kerumunan.

__ADS_1


"GOENDULMU... Makin dirawat Lin Fan dia akan cepat mati !!!" Dalam hati semua penghuni ingin mengumpat.


Sementara Shen Dewei setelah mendengar perkataan Mao Yu dia langsung ambruk pasrah total menanti jemputan Dewa Yama. Seolah tiket kereta VVIP ke akhirat sudah berada dalam genggamannya.


Lin Fan tetap lanjut mengoleskan salep sambil bernyanyi-nyanyi sementara asap mengepul makin pekat. Syalala.. Lala...


Para penghuni saling pandang dan bergeleng-geleng kepala dengan ekspresi sangat berbela sungkawa.


***


Di sebuah padang luas samping kota kekaisaran. Waktu menunjukkan hampir tengah siang. Ada sebuah pohon besar sangat rindang. Mao Yu berteduh di bawahnya sangat menikmati suasana. Namun dari gerak-geriknya nampak dia menanti kehadiran seseorang.


Sambil menunggu dia membenamkan diri menjelajahi rune demi rune di dalam koin tembaga. Selama ini dia mampu mengakses bekas cakar yang berlokasi di paling kiri. Sedangkan di bagian tengah dan kanan masih menjadi misteri yang belum dia pecahkan.


Dia fokus menangkap informasi demi informasi. Di antara banyak rune yang dijelajahi kali ini. Dia lebih membenamkan pada sebuah rune yang berbentuk rantai hitam dengan cahaya perak yang melayang dengan meliuk-liuk seperti ular.


Rune ini pernah dia gunakan kepada Li Hua, namun itu sebatas pada kulit luarnya saja. Kali ini Mao Yu menyerap secara keseluruhan hingga bagian terdalam. Rune rantai adalah teknik segel pengikat jiwa. Sederhananya ini adalah segel perbudakan.


Mo Tian mengikat kuda pada salah satu semak terdekat diantara mereka. Kemudian berjalan mendekati Mao Yu. Keduanya saling pandang untuk waktu yang lama.


"Aku merindukan celotehmu. Cukup sunyi menandai kedatanganmu." Mao Yu membuka percakapan. Biasanya Mo Tian selalu bawel dan cerewet. Namun kali ini dia tampak membawa suasana yang berbeda.


Mo Tian yang biasa berapi-api dalam kesehariannya, hari ini datang dengan ekspresi wajah datar dan lebih banyak diam.


"Apa kamu takut ternyata hanya kata-katamu yang keras sedangkan tinjumu lunak ?" Mao Yu sedikit memprovokasi.


"Sebaiknya kita segera memulai apa yang kita sepakati. Jangan banyak mengulur waktu, apakah kamu akan mengganti duel kita ini dengan duel kata-kata?" Mo Tian berbicara dengan nada menantang.

__ADS_1


"Dengan tangan kosong." Mao Yu memulai langkah. Mengerahkan fisik karapas jiwa hingga ke puncaknya. Sebuah tinju diarahkan ke pelipis Mo Tian.


Mo Tian segera mengerahkan potensi kasaya perak tahap kelimanya hingga maksimal. Dia dengan gesit mengambil keputusan mengelak dengan memutar wajah. Kaki kanannya membuat gerakan spontan menyapu kaki Mao Yu agar dia jatuh. Namun Mao Yu tak kalah gesit dia mengangkat kaki untuk secara langsung memberikan tendangan di dada.


Mo Tian menepis tendangan dengan gerakan tangan. Tepisan dilanjutkan dengan serangan sikut ke dagu Mao Yu.


Mao Yu mengambil langkah mundur sejenak. Serangan siku tangan sangat fatal untuk ditangkis. Setelah itu pukulan demi pukulan, tangkisan demi tangkisan dan tendangan demi tendangan merajalela di antara keduanya. Keduanya cukup alot sehingga perkelahian ini seimbang.


Beberapa pukulan dan tendangan saling lolos di antara keduanya. Membuat lebam di beberapa area kedua wajah mereka. Mao Yu mendapat pukulan di pipi hingga biru membengkak dan juga mendapat cedera di alis membuat wajahnya sedikit berdarah.


Demikian juga Mo Tian seluruh lengan juga membiru akibat dia menangkis serangan. Wajahnya pun demikian, tak jauh lebih baik dari Mao Yu. Dia juga babak belur.


Mao Yu menangkap sekilas cahaya mata Mo Tian, ketika dia melempar pukulan demi pukulan yang bertubi-tubi. Dia seperti banyak melepaskan segala hal yang menjadi beban yang ditanggung selama ini. Yah, bisa dikatakan Mo Tian cukup gembira dalam perkelahian ini.


Setelah keduanya cukup mengambil jeda nafas beberapa saat. Mereka melanjutkan duel dengan lebih ganas lagi.


***


Li Hua memikul dua ekor babi hutan besar di punggungnya. Dia telah keluar dari hutan menyelesaikan perburuan untuk hari ini. Dia melihat dari kejauhan sepertinya ada kehebohan besar terjadi di bawah pohon. Karena penasaran atas apa yang terjadi dia memutuskan untuk berjalan mendekat.


Semakin dekat dia tampak mengenali dua orang yang sedang berkelahi. Maka dia segera memutuskan untuk mempercepat langkahnya.


Saat Li Hua sudah tiba, alisnya berdenyut-denyut melihat dua orang yang sangat dia kenali sedang bergulat di tanah dengan posisi kedua orang saling erat dalam keadaan mengunci. Tak bakal berakhir jika salah satu tidak melonggarkan kunciannya.


"Tuan muda, Tuan Mo Tian ada apa ini? Apa yang kalian berdua lakukan?" Li Hua bertanya dengan gusar.


"Tak bisakah kau memaklumi hal seperti ini terjadi? Ini hanya kenakalan remaja." Mao Yu mengeraskan kuncian di leher Mo Tian.

__ADS_1


Mo Tian " AWCCHHH..."


Li Hua " ... ? ... "


__ADS_2