
Mao Yu melemparkan lonceng kecil kepada Biksu Changyi.
"Kamu akan tampil lebih nyentrik jika lonceng ini bersamamu."
Biksu Changyi memegang lonceng sebagaimana dia menimang bayi yang baru lahir. Sepintas biksu melihat lonceng kecil adalah lonceng biasa.
Namun begitu dia berkonsentrasi dia tenggelam dalam sebuah dunia awan. Dia sedang berdiri di puncak gunung tertinggi.
Di hadapannya adalah sebuah lonceng emas raksasa sebesar gunung. Berbentuk seperti bentuk stupa.
Seluruh permukaan lonceng terdapat rune-rune yang menonjol. Bahasa rune merupakan bahasa yang sangat asing bahkan dia sendiri tidak mengerti sama sekali.
Ketika Biksu Changyi membunyikan lonceng kecilnya dalam satu ayunan ringan.
DONGG...
Lonceng emas bergetar dengan suara nyaring hingga membuat telinganya tuli. Getaran suara yang ditimbulkan sangat kuat bahkan hampir membubarkan jiwanya.
Dunia awan pun ikut bergetar karena gema suara lonceng raksasa. Getarannya seirama dengan lonceng emas yang bergoyang.
Jika aku membunyikan lonceng dengan seluruh potensi Vreda Astagna, maka aku akan mengundang kiamat pada dunia pertama. Dunia Kabut Awan tidak sanggup menyangga keagungannya.
Biksu Changyi menarik kembali kesadarannya. Dia bersujud lagi di depan Mao Yu dengan ketakutan mutlak di hatinya.
Ahli di depanku telah memberiku rahmat.
Tidak hanya menunjukkan kesalahanku di jalan Vreda Astagna. Dia bahkan memberitahuku aksara lengkap dari gulungan yang sebagian telah menghilang.
Dan juga dia menciptakan harta tak tertandingi hanya dari lonceng mainan anak-anak. Bahkan dia memberikanku seolah dia melempar sebuah sampah. Sungguh tuan benteng adalah ahlinya-maha ahli yang tersembunyi.
"Amithaba, Perintahkan kepada hamba gunung di dunia mana yang anda tunjuk. Akan kubuat seketika menjadi rata."
Mao Yu menggelengkan kepalanya.
"Jika aku menunjuk Gunung Tath di Tanah Suci, Di Surga Utara. Apa kamu berkenan ?" Mao Yu menunjuk jarinya ke arah langit.
Biksu Changyi terperangah. Tatapannya menjadi kosong. Namun itu hanya singkat saja, setelahnya kilauan membara muncul dan membakar semangatnya.
"Amithaba..."
"Kuilku perlu tukang sapu dan orang yang membakar dupa di dalamnya." Mao Yu tersenyum.
***
"Kita sebentar lagi akan tiba di benteng." Salah satu murid Sekte Mutiara Terbit berkata.
"Aku mendengar tuan benteng jauh lebih muda dari kita semua. Apakah masih anak-anak atau bocah gitu." Yang lain segera menimpali.
"Pemimpin sekte mengirimkan kita semua ke benteng bertujuan untuk melatih diri. Ah, bagaimana bisa tuan benteng yang masih begitu bocah akan mengajari kita."
__ADS_1
"Mungkin nanti Kakak Dewei yang menangani kita. Dia kan yang jadi nomor satu, panutan kami semua. Mendengarkan arahannya akan jauh lebih bermanfaat."
"Yah, Kita bisa mengatakan kita mengambil wisata dan sedikit bersantai dalam beberapa hari ke depan."
Yang lain mengangguk dan sepenuhnya setuju dengan perkataan teman yang terakhir berpendapat.
40 murid laki-laki sekte Sekte Mutiara Terbit dikirimkan Lo Hua menuju benteng.
Pemandangan pertama yang mereka lihat saat memasuki tugu benteng adalah papan batu peringatan dengan empat mayat digantung di sebelahnya.
Sepertinya tuan muda benteng memiliki watak kejam dengan hobi kekerasan, mereka saling pandang.
Ah, Bangunan benteng seperti villa. Beberapa pondok di samping pohon besar dan danau. Tempat yang bagus nih untuk rekreasi. Semuanya segera terpikat dengan pemandangan benteng.
Aku akan berjemur, aku akan memancing, aku akan berenang. Mereka sudah membayangkan betapa bahagianya perjalanan wisata ini.
Astaga, semuanya terkejut saat mereka melihat Kakak Panutan Utama, Chen Dewei sedang mencangkul dengan semangat. Serta berjalan hilir mudik mengatur aliran air di pematang.
An Ming, Pemimpin grup menghampiri Chen Dewei.
"Kakak, Apa yang kamu lakukan ?" An Ming terkejut
"Apakah kalian sedang sakit mata? Aku sedang bertani." Chen Dewei menyeka keringat di keningnya.
Rombongan Murid " ... ? ..."
Kakak Dewei adalah pria dengan harga diri tinggi. Siapa pun yang menyinggung walau sedikit saja dia tidak memberikan kemudahan sama sekali.
Mengesampingkan sebagai penerus sekte yang sangat agung dan dimuliakan.
"Oh, aku ada pesan untuk kalian dari Tuan Benteng. Kalian mendirikan camp di sebelah kebun. Sekarang kalian menekan kultivasi hingga nol dan berlari mengitari danau 500x tiap hari."
"Jika saatnya tiba, Tuan Benteng akan memanggil kalian." Chen Dewei menyampaikan pesan dari Mao Yu.
Tidak berani membantah, hanya kasak-kusuk para murid yang menggerutu mendapatkan pelatihan yang aneh.
Mereka meninggalkan Chen Dewei yang sedang menyiangi gulma. Mereka mulai berlari mengelilingi danau seluas 5 lapangan sepak bola.
Biksu Changyi meraut sebuah pedang dari kayu bambu. Dia menggosoknya dengan amplas sebagai tindakan finishing.
"Amithaba, Tuan Dewei." Biksu Changyi menyapa Chen Dewei.
Chen Dewei bangkit dan menyapa balik dengan hormat.
"Tuan Muda memintaku membuatkan pedang bambu untuk Anda, silahkan diterima." Biksu Changyi menyerahkannya pada Chen Dewei. Kemudian dia segera kembali ke kuil.
Chen Dewei menerimanya dengan sopan.
Chen Dewei mencoba pedang kayunya. Hmm, ini ringan dan astaga. Bilahnya keras seperti baja dan ini sangat tajam.
__ADS_1
Tak sabar ingin mencoba kekuatan pedang. Dia segera melesat menuju hutan untuk menemukan buruan binatang buas.
***
Wanita dewasa tiba di batu tugu peringatan benteng. Dia melihat empat anggotanya digantung, pasukan berikut mata-matanya juga tidak kembali.
Kemarahan menyelimutinya.
Dia mengerahkan tenaga, sebuah tembakan mengandung energi kasar ditembakkan ke kuil benteng.
Kemudian ledakan hebat membentur dinding tak terlihat, Biksu Changyi berdiri di depan kuil menangkis serangan wanita dewasa.
"Perbuatan onar mendatangkan malapetaka, Nona ambil jalan mundur !" Biksu Changyi memberikan peringatan.
Namun wanita dewasa memasang telinga tuli. Dia bergegas melampiaskan amarah dan menyerang Biksu Changyi.
Wanita dewasa menggunakan tendangan kuat dari kaki kirinya. Biksu Changyi menangkis dengan tangannya.
Wanita dewasa melanjutkan pukulan demi pukulan kepada Biksu Changyi. Selain menghindar dan menangkis, Biksu Changyi juga menyerang dengan ganas pula.
Saat wanita dewasa mengambill jarak, lima belati tajam dilempar ke arah Biksu Changyi.
Biksu Changyi menangkisnya dengan melempar biji manik-manik tasbih. Mengakibatkan belati terlempar keluar dari arah sasaran. Semuanya akhirnya jatuh ke tanah.
Wanita dewasa mengerahkan seluruh kekuatannya untuk mengeksekusi teknik tingkat tinggi. Dia menggenggam empat belati di antara sela jari pada masing-masing tangannya.
Sebuah bzzzt menjadikan bilah belati berwarna kehijauan. Bau busuk mulai tercium, racun yang ganas telah dia aktifkan.
Wanita dewasa membuat gerakan dengan sangat cepat hingga membentuk afterimages.
Para murid yang sedang berlari mengelilingi danau melihat duel di depan kuil. Mereka berhenti dan segera menyaksikannya.
Para murid melihat wanita dewasa kini menjadi lima orang. Mereka tidak dapat menentukan mana yang asli dan mana yang merupakan bayangan. Semuanya identik baik bentuk maupun pancaran energi.
Dengan sebuah gerakan kemuflase, lima wanita dewasa melemparkan belati beracun kepada Biksu Changyi.
Namun Biksu Changyi segera melempar kembali biji manik tasbih ke arah jalur belati.
BOMM...
BOMM...
BOMM...
Delapan ledakan mengeluarkan asap hijau beracun. Biksu Changyi segera menyapu gumpalan asap dengan lambaian tangannya. Membubarkan asap di udara.
Wanita dewasa telah selesai mengeksekusi teknik tingkat tinggi. Keempat bayangannya hilang memudar. Menyisakan satu bentuk tubuh aslinya. Dia kembali ke semula.
Melihat wanita dewasa sedikit pucat raut wajahnya, Biksu Changyi mengeluarkan ancaman.
__ADS_1
"Peringatan terakhir, ambillah jalan mundur nona. Setelah ini kamu tidak akan bisa kembali pulang ke kediamanmu. Amithaba..."