Legenda Raja Abadi

Legenda Raja Abadi
Pertama Tetaplah Pertama


__ADS_3

Tua Shi akhirnya mendapatkan Tua Kurus dan Tua Kurus sadar terlebih dahulu.


“Bergeraklah pelan, tenangkan diri kalian.” Tua Shi berkata.


Mereka baru saja mendapati tontonan yang mengerikan. Cukup memberikan mereka peringatan keras agar tidak bermain-main dengan Benteng Tua Leluhur.


Sesekali mereka masih bergidik jika saat momok lonceng raksasa terbayang di kepala.


“Tua Shi tentang status kita, bagaimana kita mengatakan kepada tuan muda?” Tua Gemuk merasa khawatir.


“Tak perlu risau, aku sudah jujur pada tuan muda. Kita di bawah perlindungannya.” Tua Shi menenangkan batiniah Tua Gemuk dan Tua Kurus.


Mereka bertiga melepaskan pandangan ke arah Benteng Tua Leluhur yang tertutup kabut. Mereka mengagumi kekuatan benteng. Yang bahkan tak tersentuh oleh kekuatan pamungkas selevel immortal.


“Tua Shi, Tua Gemuk sepertinya kita akan memulai masa depan sebagai bagian dari kekuatan benteng.” Tua Kurus berkata dengan tegas.


Dari menara pagoda tertinggi di pelataran dalam. Mao Yu melihat rombongan pesakitan dipimpin oleh Tua Shi berjalan dengan lunglai memasuki gerbang Benteng Tua Leluhur.


“Energi spiritual di pelataran luar meningkat dengan tajam.”


“Ini adalah impian para pembududaya.”


“Ini menjadi tanah suci.”


“Bukan, ini tanah sakral.”


Pemuda dalam rombongan tampak heboh berargumen. Kecuali Lin Fan dia hanya tertawa di barisan paling belakang.


Chen Dewei yang bahkan adalah petani kedamaian pun tak kuasa untuk takjub. Tuan telah mengubah tanah tandus menjadi fondasi tanah impian. Tanah suci baru di dunia pertama.


Sampai di pelataran tengah rahang mereka jatuh.


Tubuh mereka seperti disegarkan kembali oleh udara yang mereka hirup.


“Jauh lebih kental dari pelataran luar.”


“Tiga kali.”


“Bukan, lima kali.”


“Kurasa tujuh.”


Argumen bersahutan kembali. Lin Fan hanya tertawa saja.


Para pria berumur merasa iri dengan pemuda yang leluasa berceloteh. Mereka pun sangat ingin bergabung dengan euforia. Namun mereka tampak menjaga prestise juga. Tua tua masih sadar umur.


Begitu masuk pelataran dalam. Mereka lebih terbelalak lagi kultivasi mereka seperti dipompa untuk mendobrak menuju ranah yang lebih tinggi.

__ADS_1


Mao Yu berbincang melalui jade komunikasi.


“Yang-er bagaimana kabarmu di sana ?”


“Kakak, aku baik-baik saja. Di sini ada Paman dan Bibi Zhou yang sangat baik dan sayang sekali padaku. Aku sering diceritakan tentang Zhao Ren, putra kedua Bibi Zhou. Apakah dia sangat ganteng dan keren?” Yang-er bercerita.


Ahahahaha... Dasar Bibi Zhou mak comblang sejati.


“Kurasa lebih tampan dan keren kakak. Ahahaha...” Mao Yu berkelakar.


“Benarkah ?” Yang-er penasaran.


“Saat bertemu Zhao Ren, kamu bandingkan saja sendiri. Oya, Kalo ada cowok yang menyukaimu. Pastikan dia anak yang baik dan lebih kuat darimu.”


“Berarti saat bertemu Zhao Ren aku harus menghajarnya. Tapi bagaimana bisa, kata bibi dia punya pedang yang sangat besar.” Yang-er tampak kebingungan.


“Selama kakak yang mengajarimu, kamu tak akan terkalahkan puteri angsa.” Mao Yu menggoda adikknya.


“Oya, Sungguh?”


“Tentu.”


“Baiklah kalau begitu, segera ajari aku ya kakak tersayang...” Yang-er menutup jade komunikasi.


Sial, ini pasti pengaruh Bibi Zhou. Gaya bicara Yang-er makin berani, sepertinya bibi mencetak Yang-er menjadi penggoda untuk Zhou Ren. Ini tak boleh dibiarkan. Mao Yu geram.


Keheningan lantai paling atas pagoda pecah saat Li Hua menghadap Mao Yu.


Sebagai anggota yang terlemah Li Hua merasa dirinya tidak akan berguna saat tuannya memiliki aspirasi besar dalam tujuan Benteng Tua Leluhur. Dia merasakan hatinya terbelenggu, khawatir jika dia hanya menjadi beban.


“Kamu adalah yang pertama akan selalu menjadi yang pertama.” Mao Yu memahami apa yang dirasakan Li Hua melalui fluktuasi energi jiwanya.


“Tuan !!!” Li Hua menangis dan bersujud.


Di kepalanya terulang kembali ingatan di masa dia menjadi budak sial membawa setumpuk belanjaan berjalan di tengah kota.


Dia merasa sangat terkaruniai. Segala tembok yang mengelilinginya hancur seketika. Energi spiritual padat yang beredar di pelataran dalam tersedot masuk ke dalam Li Hua gila-gilaan. Dia menembus beberapa ranah secara langsung.


“Tuan, Keluarga Hwa telah pindah ke pelataran dalam sebagai juru masak utama Benteng Tua Leluhur seperti yang anda inginkan. Pertemuan malam ini di aula Bibi Hwa sendiri yang akan memasaknya.”


“Hidangannya sesuai anda harapkan, Bakmi dengan topping daging extra.” Li Hua menyampaikan informasi


“Itu adalah menu yang kumakan pertama kali saat aku tiba di kota kekaisaran. Apa yang kumakan pertama, akan selalu kuingat. Saat Benteng Tua Leluhur berdiri. Menu itu adalah yang ingin kumakan pertama kali.”


Li Hua sekali lagi menjadi melankolis.


Aula didekorasi menjadi acara makan malam yang sederhana. Namun tidak mengurangi aura elegan dan rasa vintage-nya.

__ADS_1


Meja panjang dengan puluhan kursi di kiri dan kanan.


Duduk di ujung kursi adalah tuan benteng, Mao Yu. Kursi pertama sebelah kiri adalah Shen Mubai disusul Li Hua. Sedang kursi pertama sebelah kanan adalah Tua Shi diikuti Tua Kurus Tua Gemuk, Tua Kurus dan seterusnya.


40 batalyon An Ming juga turut dalam perjamuan.


Mangkuk dengan asap mengepul dihidangkan, aromanya menggelitik. Air liur diproduksi dengan hebat. Tanpa pengendalian yang cukup, mereka akan mempermalukan diri dengan cara ngiler.


Cara memasak keluarga Hwa sangat hebat. Dan bahannya pun juga sangat luar biasa.


Mie terbuat dari adonan tepung kentang dan telur bebek peliharaan Chen Dewei. Sayur mayur semua berasal dari kebun Chen Dewei. Dagingnya menggunakan bebek yang juga peliharaan Chen Dewei.


Semua bahan dibabtis dengan air suci.


Yang tidak mereka duga pada malam ini adalah kebangkitan pohon willow. Dengan gila-gilaan menyerap energi semesta. Akhirnya mengkuadratkan nutrisi bahan makanan yang dibiakkan di lahan pertanian.


“Silahkan dinikmati, selagi panas...” Mao Yu memberi isyarat.


Hadirin segera mengambil sumpit.


Sluuurrrppp...


Sluuurrrppp...


Sluuurrrppp...


Sluuurrrppp...


Mie yang kenyal dengan kuah kaldu yang sangat gurih meledak di dalam mulut. Irisan sawi yang ikut terkunyah melepaskan jus berair dengan rasa manis yang luar biasa.


Perpaduan antara lembut, gurih dan manis membuka selera untuk segera memasuki suapan kedua.


Daging bebek setengah diasap memberikan aroma yang khas, teksturnya lembut saat di lidah. Lemaknya membekas pada bibir dan pipi.


Suapan ketiga adalah suapan penuh. Pipi mereka menjadi balon baik sisi kiri maupun kanan.


Sim salabim, isi mangkok lenyap bahkan tak menyisakan kuah setetes pun. Semua berpindah menuju perut masing-masing.


Kekuatan meledak dari perut mereka. Dalam kenikmatan mereka melupakan nutrisi yang terkandung di bahan-bahannya. Mereka fokus pada kelezatannya.


“INNN IINNNIIIIIIIIIIII.....”


Semua mata dengan melotot terpaku pada tuan muda yang masih mengunyah daging bebeknya.


“Apa apaan kalian. Jangan-jangan kalian menginginkan bagianku... “ Mao Yu menggeser mangkok lebih dekat ke tubuhnya dengan mata mengernyit.


Hadirin makan malam “ ... ? ? ? ...”

__ADS_1


Tornado origin berpusar di atas aula utama.


Mereka menerobos secara berjamaah.


__ADS_2