Legenda Raja Abadi

Legenda Raja Abadi
Minta Salep


__ADS_3

Dengan gerakan kali melingkar setengah bulan, Mao Yu memutar tongkat seirama dengan gerakan tubuhnya.


Pengawal yang tersisa kini diserang hantaman tongkat Mao Yu secara bertubi-tubi. Dia hanya bisa mengambil langkah menangkis mundur.


Melihat pengawal pribadinya tinggal satu dan kewalahan, akhirnya Xin An menarik pedang dan mulai melibatkan diri dalam duel.


Para pendaftar yang mengantri melongo melihat kericuhan di depan mata mereka. Ternyata anak kaya ini memiliki kemampuan jauh di atas mereka. Gerakannya efisien, pergerakannya gesit, permainan tongkatnya indah dan juga tenaga pukulannya kuat.


Sayangnya kali ini dia berurusan dengan orang yang tidak tepat. Klan Xin pasti akan mengejar dan membasmi anak kaya ini.


Dagg... Pukulan tongkat Mao Yu mendarat di pelipis pengawal. Membuatnya jatuh dan terkapar pingsan di tanah.


Kini tinggal Xin An yang berhadapan dengan Mao Yu.


Tatapan Xin An berapi api penuh dengan kebencian dan dendam. Dia ingin segera membunuh anak ini.


Soul Cloak....


"Lagi-lagi seperti ini, Bagaimana dia bergerak ? Aku tidak tahu kapan dia bergerak ?" Xin An bergumam pelan.


Sebuah tusukan tongkat menerjang perutnya. Dia merasakan perutnya sangat sakit hingga dia melonggarkan pedang dan merosot ke tanah. Dia tengkurap di tanah memegang perutnya dengan merintih.


Kerumunan langsung ramai dengan hingar bingar atas kejadian yang mereka lihat barusan. Semua orang menyuarakan pendapat masing-masing hingga kawasan luar alun-alun menjadi riuh.


Li Hua dari dalam tenda mendengar ada keributan di luar. Ah jangan-jangan ini ulah tuan muda. Dia segera berlari meninggalkan tenda.


Sesampai di lokasi kejadian ternyata dugaan Li Hua benar. Keributan ini semua perbuatan tuan muda. Dia melihat gadis yang pesakitan di tanah dan segera mengenalinya. Ini Xin An.


"Tuan muda apa yang terjadi kali ini ?" Li Hua bertanya dengan menyatukan alis.


"Putri merasakan betapa mujarabnya salep Lin Fan, hingga dia bersujud sujud di hadapanku untuk meminta dosis lainnya. Aku hari ini dalam mood yang sangat oke. Li Hua oleskan salep 2x lipat dari sebelumnya mumpung aku lagi baik hati." Mao Yu berkata dengan nada ramah.


"TIDAAAKKKK......" Xin An berteriak kencang.


AAAAARRRGGGHHHHHH........


AAAAARRRGGGHHHHHH........


AAAAARRRGGGHHHHHH........


Demikian suara teriakan sangat nyaring terdengar hingga menggema di seluruh alun-alun. Sebelum akhirnya teriakan makin melemah dan padam.


"Sudah dapat stand nya ?" Mao Yu bertanya.


"Sudah tuan, mari ke sana." Li Hua menyimpan kembali salep. Kemudian berjalan beriringan dengan tuannya menuju stand yang telah disewa.


Mereka meninggalkan Xin An yang sedang berkedut-kedut di tanah.

__ADS_1


Seluruh kerumunan antrian melihatnya dengan melongo.


***


Duo berada di tenda besar di area utama. Tenda ini dikhususkan untuk Klan Xin. Karena klan membatalkan keikutsertaan dalam bazar perekrutan.


Akhirnya stand jatuh ke tangan Li Hua setelah negosiasi alot dengan pihak panitia.


Li Hua dikenakan biaya sewa 3x lipat dari harga normal. Namun itu tidak masalah baginya.


Mao Yu memperhatikan tenda di sekitarnya ramai dengan crew yang merias dan mendekorasi dengan indah.


Beberapa item pengukuran kekuatan, pengukuran umur, pengukuran kultivasi dan peralatan lain disiapkan dengan sungguh-sungguh.


Beberapa crew yang bertugas sebagai admin menyiapkan berbagai macam kertas menumpuk di atas meja. Yang lain memasang spanduk dan banner.


Stand-stand di kiri kanan Mao Yu ini termasuk jajaran para sekte atau klan teratas di benua dan beberapa dari luar benua. Mereka tampak berlomba siapa desain paling indah di antara mereka. Mereka menunjukkan status dan harga diri yang tinggi.


"Tuan kita mendesain bagaimana? Kita ke sini tidak membawa satu pun crew untuk mendekorasi." Li Hua panik.


"Keluarkan sepasang meja dan kursi. Ambil kain dan tuliskan sesuatu." Mao Yu memberi perintah.


Meja dan kursi langsung muncul dari cincin penyimpanan Li Hua. Mao Yu mengambil tempat duduknya.


"Li Hua kamu mendaftar atas nama apa saat registrasi ?" Mao Yu bertanya.


Yah, memang kata itu yang keluar di pikirannya saat ditanyai petugas registrasi.


"Bagus, Tulislah Benteng Tua Leluhur di Kota kekaisaran membuka pendaftaran. Kami akan sangat menantikan anda untuk bergabung." Mao Yu memerintahkan pada Li Hua.


Sebuah x-banner berdiri di sisi meja Mao Yu yang sedang duduk menanti orang yang mendaftar. Sementara Li Hua memegang pena dan kertas berdiri di belakan tuannya.


Cemoohan dari tenda sebelah terdengar bertubi-tubi saat menertawakan stand Mao Yu. Ini seperti membuat tindakan memalukan di area utama.


Saat para bigshot berlomba dalam keindahan dekorasi. Stand Mao Yu ini hanya ruang kosong dengan minim perabotan. Hanya meja kursi serta tulisan banner jelek dan asal-asalan.


Di atas meja kosong tanpa kertas, tanpa alat pengukuran. Hanya ada satu vas bunga yang diisi satu bunga mawar putih sebagai dekorasi.


Tak lama kemudian pintu masuk bazar dibuka dan para peserta segera berhamburan membanjiri area bazar.


Semua stand di area utama dalam waktu singkat menjadi sangat padat hingga para crew yang bertugas kewalahan. Kristal kristal yang berfungsi sebagai alat pengukuran bersinar cemerlang berwarna-warni di seluruh stand utama.


Hanya suara jangkrik yang meramaikan stand Mao Yu saat ini. Stand mereka tidak laku sama sekali. Bahkan ditoleh satu orang pun tidak.


Ada pendaftar yang sempat menoleh namun segera mereka langsung membuang muka. Setelah tahu bahwa pemuda yang duduk ini adalah orang yang menganiaya putri Klan Xin.


Mereka menjadi ngeri dan segera berjalan menjauh. Takut terseret masalah jika dekat-dekat. Kami masih sayang dengan nyawa kami. Masa depan kami masih panjang.

__ADS_1


Melihat stand Mao Yu merupakan refreshing bagi para crew yang sibuk di stand sebelah. Mereka tak henti-hentinya tertawa dan mencemooh stand ndak laku ini.


Li Hua terdunduk kepalanya. Dia menahan penyesalan kenapa aku ikut tuan muda hari ini. Oh betapa sial dan memalukannya.


Beberapa remaja mampir di stand Mao Yu. Mao Yu menyambutnya dengan riang gembira. Li Hua merasa rasa malunya sedikit terobati. Akhirnya ada pendaftar yang datang.


"Kakak, aku berasal dari Kota Kekaisaran namun aku belum pernah mendengar tentang Benteng Tua Leluhur. Itu di mana ya lokasinya ?" Remaja cantik bertanya.


"Ehmmm, Itu belum dibangun. Kami akan membangunnya di sebelah utara kota." Mao Yu menjawab setelah baru saja berfikir menentukan lokasi.


BWAHAHAHAHAAA....


Seluruh crew stand dan pengunjung tertawa terbahak-bahak. Konyol apalagi ini, mereka merekrut murid bahkan saat ini belum mempunyai bangunannya sendiri.


Stand Mao Yu sepi kembali. Li Hua kini wajahnya sangat menghijau karena sudah tak kuat menahan rasa malu. Dia ingin sekali pergi melarikan diri saat ini.


Siang hari bunga di vas telah tertunduk layu. Suara jangkrik di stand Mao Yu akhirnya berhenti. Seorang pemuda lusuh yang tampaknya tak diterima di mana pun dengan pasrah berjalan gontai ke standnya.


"Aku ingin mendaftar sebagai murid di sini." Dia berkata dengan loyo.


"Kami tidak merekrut murid. Kami merekrut guru. Apakah kamu seorang guru ?" Mao Yu menerima dengan antusias.


BWAHAHAHAHAAA....


BWAHAHAHAHAAA....


BWAHAHAHAHAAA....


Kali ini ledak tawa seluruh crew stand dan pengunjung tak dapat dibendung lagi seperti tanggul air yang jebol. Mereka semua terpingkal-pingkal oleh stand lawak ini.


Mereka tak henti-hentinya tertawa hingga perut mereka semua kram.


Guyonan apalagi ini?


Stand ini benar-benar ampas sejati.


Stand ini isinya para pemain lawak.


Wajah Li Hua langsung berubah menjadi hitam, jika ada lubang dia akan memasukkan kepalanya ke dalam sana sekarang.


Suara jangkrik di stand Mao Yu kembali bersahut-sahutan bahkan lebih nyaring. Bunga mawar tertunduk  di meja Mao Yu kini merontokkan semua kelopaknya. Bercecer di meja menunjukkan efek puncak dari sebuah kata 'Layu'.


Demikian juga yang dirasakan oleh Li Hua. Semangatnya rontok, mentalnya ambruk.


Tatapannya saat ini kosong. Dia hanya melamun saja dari waktu ke waktu.


Hari ini benar-benar hari yang parah.

__ADS_1


__ADS_2