
“Li Hua, Abaikan Sekte Pedang Bumi. Datang ke perbatasan dunia keempat, kacaukan Klan Cheng. Kekerasan, pembunuhan dan secala cara diizinkan. Jangan memberikan kemudahan sama sekali.”
“Kamu diizinkan mengendalikan dua Pasukan Zirah Baja Hitam.” Mao Yu berbicara dengan Li Hua lewat token komunikasinya.
“Hoaaahmmmm…” Wan Hanma menguap dia bangkit dan meregangkan tubuhnya.
“Kamu terlalu capek huh?” Mao Yu berkelakar.
“Sepertinya begitu, tiba-tiba aku merasakan kantuk yang tidak bisa aku tahan. Sudah senja, waktunya aku kembali ke pemondokan. Mao Yu, ikut denganku yuk. Akan kusiapkan makanan juga untukmu.” Dia merapikan pakaiannya.
“Benarkah?” Mao Yu berbinar-binar.
Wan Hanma pun tersenyum, makanan gratis memang dirindukan oleh murid area luar seperti dirinya. Apalagi yang berasal dari kalangan miskin, undangan seperti ini selalu menjadi berkah.
Begitulah langkah mereka tepat pada matahari terbenam memasuki sebuah pondok kecil yang di dalamnya sangat bersih dan rapi. Mengingatkan Mao Yu pada pondoknya saat dulu sebagai pencari jamur herbal.
Wan Hanma sibuk mengadon tepung untuk dibuat roti, serta dia juga mendidihkan air untuk merebus sayuran. Dia ingin membuat sop.
Mao Yu terpaku pada rak kecil yang berisi beberapa buku. Setelah diamati itu adalah buku tentang kultivasi dan teknik-teknik sederhana.
“Kamu berkultivasi dengan hukum jasa Pembakaran Langit?” Mao Yu berkomentar.
“Yap, tentu saja dan tanpa kemajuan sama sekali, saat ditest dulu aku paling dekat afinitas dengan api. Itupun minim sekali dalam persyaratan. Tapi ya sekarang gini gini aja. Hahaha…” Wan Hanma sibuk memotong sayur.
__ADS_1
“Kamu tidak capek dan menyerah saja? Kulihat tadi kamu terlalu memaksakan dirimu.” Mao Yu merasa prihatin.
“Menjadi pekerja kuda, kebersihan, atau juru cuci tak masalah selama aku masih di benteng. Namun, aku ingin melakukan hal yang lebih lagi untuk benteng dari sekedar pekerjaan itu.”
“Setidaknya aku harus lolos untuk bergabung dengan group pasukan. Tidak apa aku yang terlemah, selama aku berada di garis depan dan menghalangi tembakan panah untuk temanku. Setidaknya aku menjadi berguna.”
Tidak ada kalimat yang dibuat-buat. Tidak ada kalimat untuk pencitraan. Mao Yu melihat ketulusan dan tekad yang kuat.
“Mao Yu lantas bagaimana denganmu?” Wan Hanma ganti bertanya. Supnya telah mendidih saatnya memasukkan sayur mayur.
“Aku? Ah ya… Aku anggota squad rendahan. Mereka memberiku libur beberapa pekan sehabis misi. Bolehkah aku tinggal bersamamu selama liburan ini. Aku akan memasak untukmu. Aku ini jago lho, hahaha…” Mao Yu menyembunyikan identitasnya.
“Baiklah, kamu bisa menyelesaikan sup ini. Aku akan pergi mandi dulu dan mungkin sedikit lebih lama, aku harus mencuci bajuku juga. Jika kamu lapar makanlah duluan, jangan pedulikan aku.” Wan Hanma segera menyambar baju ganti dan melenggang keluar pondok.
Mao Yu melihat dua buah roti kering sangat kasar. Dia berfikir memang roti ini harus dimakan bersama hidangan yang berkuah untuk memudahkan jalannya serat roti di kerongkongan.
“Astaga, hidup anak ini… bukankah harusnya dia cukup makan dengan baik?” Mao Yu bertanya-tanya.
Mao Yu melihat catatan di meja sebuah kuitansi pengiriman koin perak oleh guild dagang yang dialamatkan pada sebuah desa terpencil di perbatasan utara.
“Dia rela hidup seperti ini untuk keluarganya di rumah.” Mao Yu bersimpati.
“Bibi Bu bawakan air suci, daging kelinci dan beberapa sayur dari area suci. Oya bawakan serta bumbu rempahnya.” Mao Yu berbicara pada udara kosong.
__ADS_1
“Mohohohohoho… “ Dengan plop seperti gelembung yang pecah Bibi Bu berpakaian kurir nongol di dekat Mao Yu dengan membawa semua pesanan tuannya.
Melihat kompor dan air yang menyala Bibi Bu sangat tertarik.
“Haruskah aku memasak untuk anda tuanku termanis?” Bibi Bu mengubah pakaiannya menjadi pakaian koki.
“Biarkan aku saja, aku sedang ingin menikmati kegiatan liburanku. Kamu bisa kembali, terima kasih.” Mao Yu segera menangani barang yang diantarkan Bibi Bu.
Mao Yu dengan cekatan membuang air kemudian melemparkan sepotong mentega ke atas panci hingga mencair. Berbagai herbal berbentuk bawang dia cincang dan dimasukkan ke dalam kuali.
Aroma wanginya sangat memikat.
Selepas itu potongan daging kelinci dia masukkan hingga cazzzz terdengar gemerisik minyak yang menggores permukaan daging. Mao Yu membolak balikkan daging dengan pelan hingga seluruh permukaannya berwarna keemasan.
Air suci pun dituangkan hingga setengah dari kuali. Menunggu mendidih, Mao Yu memasukkan rempah tambahan berupa helai daun kering, bunga kering, kulit pohon kering, akar kering dan kelopak bunga kering juga.
Semuanya adalah herbal pilihan kelas wahid dari area tengah. Hasil pertanian Bibi Bu.
Sembari menunggu kuali mendidih, Mao Yu memotong sayuran seperti wortel, kembang kol, kubis, kentang, berbagai jamur, daun bawang dan helai helai daun herbal tinggi yang bervariasi macamnya.
Mao Yu membuka pancinya, ah sempurna. Minyak dari potongan daging mengambang dengan warna keemasan di permukaannya. Mao Yu memasukkan bahan sayur yang keras terlebih dahulu.
Dia juga menambahkan garam kristal utama yang dimurnikan, kaldu rimpang jamur dan lada.
__ADS_1
Dirasa cukup waktunya, dia memasukkan bahan bahan daun dan kemudian mematikan kompor. Dia menutup kuali untuk mematangkan sayuran secara sempurna.
Perfect !!!