
Mao Yu meletakkan sumpitnya, mengakhiri santap malam dengan minum segelas air putih.
Sementara semua peserta makan malam sedang berkonsentrasi atas diri masing-masing untuk mengedarkan energi spiritual yang meluap.
Ting...
Mao Yu memukul gelas hingga menyebabkan timbul suara nyaring yang memecah keheningan.
Semua hadirin mengakhiri sesi kultivasi mereka, semua pandangan tertuju pada tuan muda.
“Aku akan memaparkan visi Benteng Tua Leluhur. Benteng Tua Leluhur akan membagi dua konsentrasi besar dalam pemerintahannya. Perdana menteri benteng aku menujuk paman Shen Mubai.”
“Shen Mubai akan mengatur segala hal tentang manajemen Benteng Tua Leluhur. Baik internal maupun eksternal.”
“Setelah perdana menteri, aku menunkuk Pak Tua Shi sebagai kepala akademi Benteng Tua Leluhur. Menjalankan tugas melatih murid benteng dalam rangka membangun kekuatan. Posisi perdana menteri akan dibantu oleh Mo Tian sebagai penatua pertama.”
Semua pihak mengangguk menyatakan persetujuan.
“Li Hua adalah tangan kananku. Di masa depan kalian akan banyak bertemu dan menemui dirinya saat aku dalam pengasingan tertutup.”
“Chen Dewei dan batalyon An Ming adalah pelindung terdalam Benteng Tua Leluhur. Mereka adalah satuan elit Benteng Tua Leluhur. Mereka akan berada dalam yurisdiksi pelataran inti yang di mana Li Hua menjadi kepala manajemen di sana.”
“Pak Tua Gemuk dan Pak Tua Kurus adalah penatua akademi. Untuk urutan silahkan kalian tentukan sendiri.”
“Shen Yangxuan, Lin Fan, Jing jun, dan Fang Yi adalah pendukungku, yang tentu juga kalian adalah penjaga Benteng Tua Leluhur. Kalian disebut sebagai ksatria bayangan.”
“Kurasa aku menyampaikan garis besarnya, detailnya silahkan kalian rundingkan sendiri.” Mao Yu menyelesaikan pembagian tugas.
Moral seluruh hadirin terangkat sekali lagi atas penunjukan posisi penting dalam Benteng Tua Leluhur. posisi yang bukan main-main. Posisi utama !!!
Mereka merasa bangga atas diri mereka sendiri. Itulah yang mereka rasakan.
__ADS_1
“Kita harus segera merekrut murid untuk membantu menjalankan semua tugas, sebagai kepala akademi aku harus segera membuka pendaftaran. Saya ingin meminta pandangan tuan muda tentang kriteria.” Pak Tua Shi mengajukan pertanyaan yang sangat penting.
“Khusus rekrutmen pertama. Silahkan kalian pak tua bertiga menyamar sebagai gembel. Rekrut di seluruh benua siapa pun yang ingin bergabung. Benteng Tua Leluhur belum dikenal sama sekali. Rekrutmen pertama ini bertema ketulusan dan kesungguhan murid.”
Jing jun merasa sangat terharu. Dia telah mengalami di saat dia mendaftar dalam bazaar. Ketulusan dan kesungguhannya terbukti membawa kemuliaan bagi dirinya.
“Tua, muda, laki maupun perempuan, normal maupun difabel kalian bawa. Satu minggu kumpulkan di pelataran luar.” Mao Yu berkata.
Tiga tua mengangguk paham.
“Tuan, bagaimana dengan Biksu Changyi ?” Fang Yi bertanya.
“Dia kurang menyukai urusan seperti ini, biar dia menjadi imam utama kuil.”
Semua hadirin memahami dengan menganggukkan kepala.
“Aku tidak akan menyia-nyiakan kalian. Ikuti aku, kutunjukkan sesuatu pada kalian semua.” Mao Yu beranjak dari kursinya.
Tak berapa lama mereka memasuki kuil, aroma dupa semerbak menenangkan semua orang. Mereka merasa seperti di sebuah dunia tanpa ada permasalahan. Hanya kebahagiaan yang mereka rasakan saat ini.
Benar benar inilah kekuatan spiritual sejati.
Biksu Changyi segera beranjak dari meditasinya, menyapa tuan muda dan kerumunan. Mereka segera membalasnya dengan sangat hormat.
Tontonan unjuk diri kekuatan Biksu Changyi sangat membekas dalam ingatan mereka. Menjadi momok yang sangat berbahaya yang terus menghantui pikiran mereka.
Sekaligus juga menjadi motivasi mereka, sebagai ahli Benteng Tua Leluhur mereka harus mampu setara bahkan melampaui kekuatan Biksu Changyi.
“Biksu Changyi mari ikut dengan kami semua...” Mao Yu mengajak untuk turut serta.
“Amithaba...”
__ADS_1
Rombongan berjalan menuju ruang bawah tanah kuil. Ruangan cukup luas dan kosong. Hadirin menggunakan kristal energi untuk menerangi.
“Amithaba...” Biksu Changyi terkejut dengan sebuah pintu yang saat ini muncul di salah satu sisi dinding. Sejauh dia menempati kuil. Tak ada satu pun pintu ada di sini.
Mao Yu membuka pintu, rombongan mengikutinya masuk ke dalam.
Mereka menuruni tangga yang seperti tak ada habisnya dalam waktu yang cukup lama.
Kami semua lantas menemui sebuah keanehan, Kami sedang menuruni tangga, namun bagaimana bisa sekarang kami menjadi menaiki tangga. Kapan tangga ini berubah. Oh, kami tak menyadarinya.
Terutama bagi para muda yang belum pernah memasuki sebuah situs makam atau peninggalan ahli. Mereka sangat terkejut sekaligus kagum dengan fenomena ini.
Jantung mereka berdebar kencang dengan antusias tinggi.
Namun setelah melihat Lin Fan mereka menyatukan alis. Anak ini terbuat dari apa, dia hanya tersenyum senyum saja. Kenapa anak ini tidak merasakan perasaan yang sama dengan kami.
Entahlah, masa bodoh. Mereka menggerutu.
Sementara Lin Fan hanya terkekeh kekeh mendapat serangan alis menyatu dari teman-temannya.
Di ujung tangga mereka tiba pada sebuah pintu yang sangat besar dan tinggi. Terbuat dari logam putih dengan berbagai rune aneh yang tercetak di permukaannya
Dengan sebuah jentikan jari Mao Yu pintu besar terbuka dengan seuara derit yang menggetarkan jiwa.
“INNNN.... INNNNIIIIIIII......”
Hadirin melihat sebuah balairung yang berukuran besar dengan langit-langit yang tinggi serta luasnya luar biasa. Mereka menaksir balairung ini dapat memuat ratusan ribu orang.
Di ujungnya tampak singgasana dengan bentuk yang menantang surga.
Ini sadalah sebuah istana. Pikiran ini secara otomatis muncul dalam kepala mereka.
__ADS_1