Legenda Raja Abadi

Legenda Raja Abadi
Tua Long


__ADS_3

Tetua Sekte Pedang Nirwana dengan gerakan secepat kilat menangkap dan membawa pemuda tampan menghilang.


Leluhur Sekte Pedang Bumi dari persembunyiannya hendak melesat pergi untuk menghalangi Tiga Gou. Namun sebuah gambar monyet yang sedang mengunyah buah-buahan memasuki kesadaran mereka dengan paksa.


Membuat mereka semua seketika lumpuh tersimpuh dengan keadaan lemas mandi keringat dingin di sekujur tubuh mereka.


“Ke… Keberadaan gila….” Mereka menggumam dengan terbata bata.


Jeritan dan teriakan ketakutan merajalela di alun-alun utama. Tiga Gou menginjak, menghempaskan, menggigit dan menghancurkan semuanya yang ada.


Beberapa pengamat muda yang tidak kuat harus dengan terpaksa muntah melihat pemandangan mengerikan di depan mereka.


Pembantaian dan penghancuran oleh satu pihak.


Pengamat tua yang sudah terbiasa dengan darah pun harus memejamkan mata melihat hal yang sangat mengerikan ini.


Bau darah menyebar, darah mulai menggenang dan mengalir seperti sungai.


Para murid yang berada di belakang patriark baru merasakan tulang lutut mereka copot. Mereka sangat bersyukur mengambil keputusan yang tepat. Mereka menangis tersedu-sedu, selamat dari malapetaka.


Tiga Gou terus mengamuk dan membabi buta, Tetua Sekte Pedang Bumi tak ada bedanya dengan para murid. Mereka dengan sangat mudah digerus oleh Tiga Gou.


Ini adalah masa penghabisan Sekte Pedang Bumi.


Sekte Pedang Bumi telah jatuh di bawah Benteng Tua Leluhur.


Para pengamat menggeleng gelengkan kepalanya.


*** - ***


Mao Yu tertawa terbahak-bahak melihat Wan Hanma sepenuhnya gosong dari ujung kepala hingga ujung kaki.


“Bagaimana bisa apimu membakar dirimu sendiri ?” Mao Yu meledek.


“Tuan Muda, SAYA…” Wan Hanma malu malu.


“Masa bodoh dengan keadaanmu, ayo ikut aku ke suatu tempat.” Mao Yu menyeret Wan Hanma dengan paksa.


“Tunggu, biarkan aku membersihkan diri dulu.” Wan Hanma panik namun Mao Yu menyeretnya dengan paksa.

__ADS_1


Di kedai tua di sebuah kota besar di dunia keempat.


Seorang pengunjung paruh baya duduk di sebuah kursi membelakangi pak tua renta pemilik kedai.


“Manuver Benteng Tua Leluhur membuat Sekte Pedang Bumi bertekuk lutut. Leluhur mereka tidak bergerak sama sekali.” Dia menenggak anggur dari gelas besar.


“Klan Cheng diabaikan sementara….” Dia melanjutkan.


Namun pak tua pemilik kedai mengabaikannya.


Klinting…


Pintu kedai terbuka, dua orang pemuda memasukinya. Seorang berkulit cokelat dengan pakaian hitam. Sedangkan satunya berpakaian merah terlihat dengan terpaksa mengikuti pemuda di depannya.


Mao Yu mengambil tempat duduk di dekat pemilik kedai.


Pemilik kedai masih terlihat abai, namun pria paruh baya satu satunya pengunjung kedai sebelumnya menatap kedua pemuda dengan mata tajam tanpa berkedip sama sekali.


“Kedai ini kudengar menyajikan kacang rempah dan anggur terlezat di kota tua ini” Mao Yu memesan.


“Sesuai dengan reputasinya…” Pak tua terkekeh dan masuk ke dalam dapur dan penyimpanan anggur untuk tamunya ini.


“Yoo Paman, Sebaiknya kamu berkedip atau matamu akan lepas.” Mao Yu melirik pria paruh baya.


“Bukankah ini kedai? Siapa pun boleh mampir. Apa kamu pemiliknya ?” Mao Yu mencibir.


“Anak kurang ajar….” Pria paruh baya meledak marah. Cangkir anggurnya hancur menjadi debu beterbangan.


Kreeeettttt….


Pria tua membuka pintu, berjalan dengan tertatih menuju meja Mao Yu dan menyajikan pesanan di atas meja. Bahkan sebelum pak tua beranjak Mao Yu menggenggam kacang di piring dan memasukkan ke mulutnya dalam jumlah besar.


Hingga kedua pipinya menggembung. Nom nom nom…


Karena serat di tenggorokan Mao Yu menenggak anggurnya untuk mendoron kacang ke dalam perutnya.


“Tidak buruk… “ Mao Yu memuji.


“Terima kasih…” Pak membalas.

__ADS_1


“Tua Long, bersabarlah… Mereka hanya anak-anak.” Pak tua berbicara.


“Benar paman, kami hanya anak anak. Kamu tidak akan menjadi juara dan terkenal setelah mengalahkan kami.” Mao Yu berbicara sambil mengunyah kacang. Bersuara yang kedengarannya sangat menyebalkan.


“KAMU…” Pria paruh baya berdiri. Namun dia segera duduk kembali saat pak tua menggeleng-gelengkan kepalanya.


Suasana sedikit tenang dalam kurun waktu yang lama.


“Kacang yang seharusnya enak. Namun kurang pupuk…” Mao Yu melanturkan kalimat acak.


Pria tua membuka matanya lebar-lebar. Namun hanya warna putih total yang terlihat, pupil matanya telah memudar setelah sekian era berlalu.


“Kamu harus rutin menyiramnnya dan memberi pupuk. Atau akan layu dan mati.” Mao Yu melanjutkan.


IIIIINNNN IIINNNNNIIIIIIIIIIIIIIIII…………..


IIIIINNNN IIINNNNNIIIIIIIIIIIIIIIII…………..


Pak Tua merasakan jantungnya bergetar hebat. Kalimat sederhana dari seorang bocah seperti langsung berbicara pada jiwanya.


“Ah hai Paman, bawa bocah ini bersamamu.” Mao Yu melemparkan Wan Hanma kepada Tua Long


“Ah, “ Wan Hanma didorong kuat hingga hampir tersungkur di depan Tua Long. Namun dia bisa dengan sigap mengendalikan diri dan menjaga keseimbangan.


“Aku bukan lembaga panti.” Tua Long benar benar naik pitam kali ini.


“Kamu akan bersyukur membawanya karena bocah ini adalah berkah.” Mao Yu memelototi Tua Long.


“Ah, Tuan perkenalkan saya Wan Hanma. Mohon bimbingannya.” Wan Hanma memperkenalkan diri dengan sopan.


“Bodoh, Justru Tua Long ini akan berguru dan menjadi muridmu.” Mao Yu menyalak hebat.


“KAMU NGELANTUR….” Tua Long muntap sampai ubun ubun. Wajahnya memerah padam tangannya mengepal dan auranya menindas menghancurkan meja kursi menjadi bubuk kayu beterbangan.


Dengan sebuah flip ringan Mao Yu melepas segel aura Wan Hanma. Seketika aura naga kolosal menyeruak memenuhi ruangan dan menekan Tua Long dan Pak Tua dalam sekejap.


Jika bangunan kedai ini bukan terbuat dari kayu harta maka tak akan sanggup menahan aura kemarahan Tua Long. Lebih lebih aura mendominasi Wan Hanma.


IIIIINNNN IIINNNNNIIIIIIIIIIIIIIIII…………..

__ADS_1


IIIIINNNN IIINNNNNIIIIIIIIIIIIIIIII…………..


IIIIINNNN IIINNNNNIIIIIIIIIIIIIIIII…………..


__ADS_2