
“Apa kamu sedang bermain-main?” Patriark Sekte Api Phoenix sedikit mengeluarkan ancaman.
Energi originnya sedikit merembes memberikan tekanan yang cukup mendesak bagi anggota squad Fang Yi. Mereka harus memasang pertahanan dan sedikit mengambil langkah mundur.
“Seorang pariark, tiga tetua dan sekelompok pasukan biasa. Sedang mengancamku. Apakah aku harus mundur dan menyerah?” Li Hua menyarungkan sabernya.
Patriark Sekte Api Phoenix mengamati seorang tetua dan sekompi pasukannya tak bernyawa di sekitar posisi Li Hua.
“Cukup alasan untuk memberitahu bahwa idemu bukan ide yang bagus.” Patriark Sekte Api Phoenix melanjutkan tekanannya.
“Kamu mungkin harus terluka dan meninggalkan pengikutmu ini menjadi mayat seperti mereka yang berserakan di sini.” Li Hua tak bergeming sama sekali.
Patriark Sekte Api Phoenix kembali terdiam. Tetua tak bernyawa, dua tetua yang kehilangan lengan dan prajurit elite di belakangnya.
Jika benar memukul utusan Benteng Tua Leluhur ini mengakibatkan kerugian sedemikian rupa, ini sangat kurang bisa ditoleransi.
Namun harga diri dan arogansi Sekte Api Phoenix tak mudah ditaklukkan hanya dengan kalimat ancaman daari orang acak seperti Li Hua ini.
Pertempuran di camp hampir mereda, hanya menyisakan orang-orang kuat yang saling berlomba adu kekuatan.
Sayangnya, keberadaan komandan utama lebih mempercepat jalannya eliminasi.
“Pemusnahan oleh murid sektemu hampir selesai, tinggal menyisakan selusin orang. Kamu terlalu banyak diam di sini demi meladeni pria tua ini.” Li Hua menunjuk.
“Hmmm...” Patriark Sekte Api Phoenix cemberut.
“Astaga, kenapa patriark tidak menghentikan kekacauan ini. Kenapa dia dan pasukannya berdiam diri di bukit utara?” Tetua pertama yang baru tiba di lokasi melihat keanehan yang terjadi.
Tetua pertama hendak terbang menghampiri patriark, namun seseorang melemparkan sesuatu yang dengan mudah dia tangkap.
Sesuatu terbakar dengan asap.
Ya, ini adalah dupa.
“Dupa ???”
INNNNN INNNNNNIIIIIIIIIIIII....................
“Aroma Smooth .... Lavender.... Yang dibakar patriark di ruang meditasinya.” Tetua pertama kaget dan langsung mengunci siapa yang melemparkan dupa ini.
“Hmm... Burung?” Dia menggumam.
__ADS_1
Lin Fan bergoyang goyang hingga surai di kepalanya turut menari-nari.
Tetua pertama membakar dupa di tangannya dengan origin hingga menguap menjadi asap di udara.
Dia meremat kuat buku buku tangannya.
“Kamu... “ Dia menggeram.
Namun sayang arogansinya tertahan dalam sekejap saat seekor anjing raksasa muncul di balik Lin Fan. Gou Satu menggeram dengan memamerkan gigi taring sebesar gading gajah kepadanya.
Bahkan anjing ini mempu meneror lebih dari yang dia lakukan. Kepercayaan dirinya turun drastis. Ototnya menjadi lemas seketika.
Demi apa aku, Tetua pertama Sekte Api Phoenix bahkan tak bisa melakukan apa-apa.
“Patriark, sadarlah. Cepat ambil tindakan. Datangkan leluhur emperor kita.” Tetua Pertama memandang arah patriark di atas bukit utara.
INNNNN INNNNNNIIIIIIIIIIIII....................
Pengamat turut tegang. Rombongan patriark tertahan di atas bukit pepohonan utara, sedangkan Tetua Pertama tertahan oleh manusia burung dan Iblis Anjing.
Keberadaan apa yang sanggup menahan mereka dalam keheningan?
Apakah Sekte Api Phoenix menemukan musuh terkuatnya?
Sekuat ini kah mereka?
“Guru, apakah mereka dari Benteng Tua Leluhur sekuat dari apa yang kulihat di lapangan ini?” Seorang murid bertanya.
“Iya, Bahkan gurumu yang leluhur sekte ini bukan lawan dari seekor Iblis Anjing yang bersama manusia burung itu.” Guru menghela nafas.
“Namun bagaimana dengan para murid Benteng Tua Leluhur itu. Apakah guru bisa menandinginya?” Murid masih haus akan informasi.
“Sekelas orang yang dapat menahan patriark Sekte Api Phoenix? Jelas aku adalah semut baginya. Untuk manusia burung, aku tak punya gambaran sama sekali. Keberaniannya cukup membawa dirinya untuk menghadang tetua pertama seorang diri.”
“Tanpa adanya kepercayaan diri dan kekuatan. Tentunya dia tak akan berani mengambil urusan dengannya.” Guru menjelaskan.
“Guru, di camp Sekte Api Phoenix kini tinggal komandan utamanya saja yang berdiri dalam termenung. Semuanya sudah menjadi mayat.” Murid merasa prihatin.
“Hmmpphh... Kerugian Sekte Api Phoenix sangat besar. Sangat naif.” Guru pun menggeleng-gelengkan kepalanya.
Hanya dalam hitungan jam Sekte Api Phoenix kehilangan sepertiga kekuatannya. Peluruhan yang sangat cepat dan signifikan. Keadaan seperti ini sangat tidak menguntungkan sama sekali.
__ADS_1
Sebut Sekte Pedang Bumi sebagai rival mereka. Dengan penurunan Sekte Api Phoenix sedemikan ini menjadikan tak sebanding lagi dengan Sekte Pedang Bumi.
Sekte Pedang Bumi akan menari nari di atas panggung Sekte Api Phoenix.
Tetua pertama bergidik saat dia menghindar beberapa meter ke arah kiri, atau sebagian tubuhnya berada di dalam mulut Gou Satu.
Gou Satu meloncat ke arahnya dengan gerakan mecaplok. Suara ceplakk rahangnya terdengar cukup renyah menggigit udara kosong.
“Sial...” Tetua pertama mengumpat.
Dia mengerahkan energi origin sesuai kultivasinya menembakkan bola bola api dari tangannya.
BAMM...
BAMM...
BAMM...
Gou Satu hanya menangkis dengan cakar kosongnya.
GOUGHHH... Gou Satu menggonggong dengan nyaring. Memberikan efek shock dan stun pada tetua pertama.
Tidak membutuhkan waktu lama. Hanya dalam sepersekian detik saja.
DEBAMMMM....
Tetua pertama dipukul dengan cakar Gou Satu hingga terbanting di tanah dengan membentuk kawah yang sangat besar.
INNNNN INNNNNNIIIIIIIIIIIII....................
Para pengamat berdiri dengan tegang melihat tetua pertama Sekte Api Phoenix dalam kondisi pesakitan di dalam kawah.
“Kekuatan Iblis Anjing sangat gila...”
“Lihat masih ada dua ekor lagi yang serupa sedang menghadang patriark Sekte Api Phoenix di bukit utara sana.”
Beberapa sendi meleset dari posisinya dengan darah sedikir mewarnai baju putihnya. Tetua pertama merasakan seluruh badannya remuk. Rasanya seperti digodam dengan palu baja raksasa.
Tetua pertama kesulitan bergerak, dia pun berkali kali meludahkan darah.
“Sial, Aku tak bisa berbuat apa pun...”
__ADS_1
Dia mengeluh.