Legenda Raja Abadi

Legenda Raja Abadi
Menyapu


__ADS_3

Ahli akhirnya menyatakan ingin menjadi tamu Mao Yu. Ahli berjalan mengikuti Mao Yu hingga menuju salah satu rumah mungil yang dia tempati sebagai murid di Sekte Singa Perak.


Ahli adalah seorang yang sangat tua renta. Jika kita menempatkan di panti jompo, dia sangat layak untuk diterima sebagai member tetap sebuah panti.


Badannya kurus terlihat sangat ringkih dengan rambut panjang terikat rapi.


Di sebuah kursi ahli memperkenalkan diri.


“Aku Lei Teng, seorang pengelana bebas. Tak terikat pihak mana pun.”


“Mao Yu, murid sekte ini.” Mao Yu mengambil tempat duduknya.


Lei Teng meskipun waspada dia masih merasa tenang. Sejauh jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Dia masih merasa yakin bahwa kultivasinya dapat mengatasi segala kemungkinan buruk yang menimpa dirinya.


Toh sekte ini turun hingga ke level terendah dengan potensi kekuatan sangat lemah. Bukan bermaksud meremehkan, dia hanya membaca situasi saja.


“Mulai besok tugasmu adalah menyapu halaman sekte, merawat taman dan bangunan. Pokoknya buat sekte menjadi tampak indah.” Mao Yu mengatakan dengan santai.


Lei Teng merasakan pembuluh darah di dahinya berkedut-kedut. Bagaimana bisa pakar sejati menerima nasib menjadi tukang kebun hanya karena bertamu pada rumah seseorang.


Dia ingin sekali meledakkan bocah kurang ajar di depannya dengan semburan nafasnya dari hidung.


“Tidak ada pilihan lain untukmu pak tua.” Mao Yu segera menimpali sebelum bahkan Lei Teng ingin muntab.


Bahkan Lei Teng hingga sekarang masih bingung dengan dirinya sendiri.


Setiap penistaan yang menimpa dirinya. Selalu ditumpas seketika, bahkan sebelum penista menyelesaikan kalimatnya.


Entah kenapa kali ini dia membiarkan perlakuan tak menyenangkan yang menimpa dirinya. Semacam intuisi dari dalam jiwanya seakan mentoleransi.

__ADS_1


Bahkan dia sejauh ini secara sukarela mengikuti kemauan pemuda yang duduk di seberang meja.


“Kenapa harus aku melakukannya, bukankah aku adalah tamu buatmu.” Lei Teng menemukan kalimat pembela. Dia sedikit tertarik melayani permainan Mao Yu.


Mao Yu tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepalanya.


“Pak Tua, Kamu sudah renta. Singgahlah di sini... Yah anggap saja ini percobaan masa pensiun. Apalagi yang dilakukan orang pensiun selain melakukan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga.”


“Aku belum berencana pensiun. Sayangnya, masih banyak kegiatan yang harus kulakukan.” Lei Teng menyela.


“Sapu, sabit dan semua peralatan perawatan taman ada di sudut sana.” Mao Yu menunjuk seperangkat peralatan dengan kode mata.


“Kamu mencari pengganti tugas harian sebagai murid, mengalihkan semua tugasmu padaku.” Mata Lei Teng bersinar.


“Okey selamat malam. Badanku pegal-pegal, aku mau tidur dulu. Kamu tidur atau tidak terserah... Temukan dipanmu untuk dirimu sendiri.”


Bulu lembut memang tak ada gantinya. Mao Yu memeluk Kong Kecil kemudian segera terlelap.


Lei Teng tidak beranjak dr tempat duduknya.


Dia melihat Mao Yu pemuda yang sangat biasa tidur dengan monyet kecil sebagai gulingnya. Matanya berusaha menembus kedalaman Mao Yu.


Dia tak mendeteksi apa-apa selain bahwa Mao Yu adalah pemuda fana biasa.


Dia mereview kembali. Bagaimana dia melakukan pembantaian sepihak pada murid Sekte Pedang Bumi. Dan bagaimana mendekati dirinya tanpa dia deteksi sedikit pun. Dan yang terakhir kenapa aku terus masuk ke dalam permainannya.


Apakah sihir? Sepertinya bukan. Bahkan untuk menyihir orang di level Lei Teng haruslah pembudidaya yang sangat elit. Sementara pemuda ini tak ada istimewanya.


Rasa penasaran akan misteri, yang menyebabkan Lei Teng mengikuti alur.

__ADS_1


Lei Teng memejamkan mata, dia menenggelamkan diri dalam dao agungnya.


+++


Sementara Zen Li malam ini dia tidak tidur.


Cahaya sedikit keperakan telah berhasil dia pendarkan dengan sangat lemah di telapak tangannya.


Dia telah berhasil mengembangkan metode utama sekte.


Dia sangat gembira, dia terus melanjutkan penanaman budidaya. Dia ingin segera kuat, sungguh aspirasinya menjadi pembudidaya yang kompeten sangat dikejar dan dan diupayakan sekuat tenaga.


Malam ini sangat sunyi dengan bulan penuh yang sangat purnama banget. Cahayanya kuat memantul ke permukaan danau. Memproyeksikan kemilau keperakan di seluruh danau yang luas.


Jika dinikmati, ini adalah pemandangan yang sangat indah.


Permukaan danau bak cermin kristal yang berkilau menawan hingga fajar yang disambut dengan terbitnya matahari.


“Pak Tua, bangunlah hari sudah pagi...”


Lei Teng terkesiap, dia terlalu jauh menenggelamkan diri dalam kultivasinya. Dalam kesekian waktu yang panjang dia sangat kesulitan memasuki mode yang seperti barusan.


Sayangnya suara Mao Yu merusak kondisinya. Jika ini adalah pengasingan tertutup, saat dia bangun sudah terjamin peningkatan nyata pada kemajuan kultivasinya.


Belum sempat merasa geram ingin muntab amarahnya. Mao Yu menyodorkan sapu pada Lei Teng. Kemudian dengan peregangan tubuh yang sangat klasik sebagaimana orang bangun tidur, Mao Yu berjalan keluar meninggalkan pondoknya


Lei Teng “ ... “


Dia linglung dengan sapu yang ada di genggamannya.

__ADS_1


__ADS_2