Legenda Raja Abadi

Legenda Raja Abadi
Fajar


__ADS_3

Wei Lan berdiri dengan gagah menatap mahakarya seni pelemparan batunya.


“Sembilan... sepuluh... sebelas... dua belas Ah, tak sampai tiga belas. Akan indah jika sejumlah dunia kita.” Suara Mao Yu jelas terdengar oleh semuanya di tengah keheningan.


Seperti diingatkan oleh kenyataan Cheng An meraung dan meraih leher Mao Yu. Orang terdekat dengan dirinya.


Cheng An berniat menghabisi provokator ini terlebih dahulu.


“Kamu pantas mati urutan pertama.” Cheng An menggeram.


“Mppphh... Argg... Arg.... “ Mao Yu merasa sesak dan kesulitan bicara.


Bleeeerrrrrrggghhhhhh..........


Mao Yu memuntahkan jackpot dari dalam perutnya. Menyembur ke wajah Cheng An.


Cheng An seketika merasa jijik langsung melepaskan cengkeramannya. Disambut Wei Lan yang langsung memegang tengkuknya.


Dia dibawa seperti kucing membawa anaknya oleh Wei Lan ke Danau Perak. Wei Lan kemudian mencelupkan wajah dan kepala Cheng An ke dalam danau berkali kali.


“Arrrghhh...”


“Bleelppp...”


“Bleelppp...”


“Bleelppp...”


Cheng An meronta-ronta namun tak kuasa. Di bawah cengkeraman Wei Lan nampak dia bukan lawannya.


Harusnya paman yang berhadapan dengan Wei Lan. Namun sayang dia sedang safari di dasar danau tampaknya.


Setelah dirasa cukup bersih Cheng An dilempar ke daratan. Dia terkapar seperti Gadis Api. Nafasnya tersengal-sengal karena dia minum banyak air garam dari Danau perak.


Sekaligus membawa efek tajam melemahkan kekuatan sebagai efek negatif jika meminumnya.


Mao Yu menguap dan berjalan santai menghampiri Cheng An.

__ADS_1


“Murid pakar kembali sehat setelah muntah.” Pesakitan dengan tangan digendong perban berkata.


“Bodoh, itulah kecerdasan.” Lagi lagi yang tertua membantah.


“Bagaimana itu?” Yang lainnya bertanya-tanya.


“Murid pakar berakting lemah setelah berkelahi dengan dua jenius pesohor, dia memperlihatkan pada lawannya yang baru saja datang bahwa dia dalam keadaan tak berdaya. Membuat lawannya lengah dan tidak waspada.” Yang tertua berkata dengan sangat bijaksana.


“Oh, Jadi ini adalah didikan pakar?”


“Oh, Sangat Cerdas.”


“Benar-benar pakar sejati.”


“Pakar tiada tara.”


Sementara di ketinggian menara dunia kura kura tua. Dalam sebuah perjamuan mewah dengan aneka ria hidangan kelas wahid tersaji memenuhi meja giok bundar.


ACHOOOO.....


“Entahlah, padahal sudah lama sekali aku tidak merasakan sakit flu.” Lei Teng memegangi dahinya.


Kembali ke Danau perak.


Mao Yu berjongkok di samping Cheng An yang terengah-engah. Sorot mata Cheng An penuh kebencian dan dendam kepada Mao Yu.


Pamannya sebagai yang satu yang terkuat tenggelam di Danau Perak.


“Sepertinya kita tak perlu membuatkan kopi atau teh pada tamu ini. Lihat perutnya sudah buncit karena dia memilih minum air danau.” Mao Yu menggeleng-gelengkan kepalanya, dia sangat prihatin.


Goendolmu... Siapa yang mau minum air danau. Cheng An ingin berteriak tapi dadanya pun terasa sesak. Banyak air yang juga masuk ke saluran nafasnya. Masuk ke dalam paru-paru.


“Ah ya, Gadis Api aku hampir melupakannya. Kalian pengikut Lei... Ah Kalian pengikut guru. Lakukan apa yang kalian suka pada gadis ini. Tapi pastikan harus berakhir dalam kematian sebelum matahari terbit.” Mao Yu tersenyum pada para pesakitan.


Para pesakitan segera menyambut dengan sukacita. Mereka bisa membalas dendam secara pribadi sekaligus juga membalaskan dendam atas rekan mereka yang meninggal.


UURRRRAAAAAA......

__ADS_1


Mereka berbondong-bondong menyerbu ke arah Gadis Api. Mereka lantas membawanya pergi layaknya membawa binatang buruan.


Gadis Api tak bisa berkata apa-apa lagi.


Kesombongan dan kehormatannya runtuh dalam sekejap. Bahkan dia berakhir tanpa mengeluarkan perlawanan sama sekali.


Padahal banyak sekali senjata tinggi dan item ofensif yang dibawanya. Namun sia-sia, semua tak terpakai.


Mao Yu memandang Nian. Ah, biarkan Kepala Sekte Tang Shang dan Chen Li melakukannya sendiri saat mereka sudah sadar.


Mao Yu kembali pada Cheng An.


“Tamuku yang bijak, tenang. Aku tak akan bertanya macam macam tentang Klan mu, rumahmu dan kiprah klan kalian. Toh pasti kamu tidak akan mau menjawab walau dipaksa.”


“Tentu kamu akan memilih untuk bunuh diri kan? Daripada kamu ngomong tentang apa apa yang menjadi rahasia klanmu?”


Mao Yu menyentuh dahi Cheng An dengan kelingkingnya. Seuntai energi jiwa lembut menyusuri meridian hingga sampai pada dantiannya.


Di sana energi jiwa Mao Yu membentuk rune seperti rantai yang mengikat dantian Cheng An.


Kekuatan Cheng An disegel.


Ini memungkinkan Cheng An untuk melakukan aksi bunuh diri.


“Oke Cheng An... Selamat datang di Taman Wisata Danau Perak. Kamu bisa bebas menikmati semua wahana yang ada.” Mao Yu berdiri membelakangi Cheng An.


Kedua tangannya membuka lebar-lebar dengan wajah mendongak ke arah timur.


Seketika cahaya merah merekah datang dari ufuk timur.


Pasukan berjajar dalam barisan yang bergugus-gugus rapi berjajar dengan semua prajurit penuh kesiapan.


Pasukan Klan Wang telah tiba di Sekte Lembah mulai terlihat dalam remang-remang kegelapan.


Cahaya merah dari arah timur mulai menampakkan batalyon gagah yang siap menumpas lawan.


Ya, Cahaya sang fajar telah tiba di dunia.

__ADS_1


__ADS_2