Legenda Raja Abadi

Legenda Raja Abadi
Hujan


__ADS_3

Cahaya putih menyeruak dari celah portal ruang membutakan semua orang.


Hal ini terjadi saat meteor peluru meriam memasuki portal dan mengenai sesuatu di dalamnya.


Bersamaan dengan datangnya sinar menyilaukan, muncullah energi hempasan kuat sebagai efek dari tumbukan peluru meriam.


WHUSSS....


Mansion Tua Leluhur sekali lagi mengaktifkan dinding perisai yang menyelimuti seluruh area.


Mansion tidak terpengaruh sedikit pun. Namun tidak dengan Ibukota Pusat. Sebagian besar bangunan tidak dapat selamat dari efek ledakan.


Meskipun lokasi ledakan berada di tempat yang cukup jauh. Dampaknya tak terbendung.


Hempasan kuat yang menuju para pengungsi tertahan oleh dinding perisai yang dibuat oleh nenek leluhur.


Nenek Leluhur terus memompa seluruh kekuatannya untuk perisai yang dibuatnya. Tenaganya terus menerus terkuras untuk mempertahankan keutuhan perisai.


Namun sebagian besar pengungsi masih merasakan efeknya. Mayoritas pengungsi masih merasakan hempasan yang membuat mereka jatuh tersungkur di atas tanah.


Para pengamat juga terlempar ke segala arah seperti lalat yang diusir dari meja makan. Mereka berhamburan dengan mengaktifkan pelindung terkuat yang mereka dapat lakukan secara maksimal. Untuk meminimalkan resiko terdampak.


Ketika mereka telah menemukan kestabilan diri, para pengamat mengambil sikap kembali dengan perenungan. Semuanya dalam kondisi diam. Tak satu pun memberi komentar atas kejadian yang baru saja terjadi.


Perlahan cahaya silau mulai redup. Dunia remang-remang mulai tampak dalam penglihatan semua orang.


Ketika semua orang mendapatkan penglihatannya kembali, mereka melihat ke arah langit utara dan menemukan portal ruang telah menghilang.


Awan yang semula berwarna hitam pekatĀ  kini berubah menjadi awan merah berwarna darah yang bergumpal-gumpal.


Semua orang lantas melihat kilat berwarna kuning dengan suara gemuruh guntur bersahut-sahutan di atas awan.


Di halaman kuil mansion.


"Pak Tua Shi, Apa yang barusan terjadi ?" Salah seorang watcher berkata.


"Ini jauh di luar kemampuan kalian. Sebaiknya kalian tidak mengambil langkah terlalu jauh untuk mengusik keberadaan mansion ini." Pak Tua Shi menjawab.


"Siapa tuan mansion ini ?" Watcher satunya bertanya.


"Dia adalah tuan dari Benteng Tua Leluhur di benua selatan." Pak Tua Shi menjawab singkat.


Kedua watcher saling pandang dengan bergidik ngeri. Meskipun mereka adalah pusat kekuatan utama di dunia pertama. Kejadian yang mereka lihat di depan mata ini bukanlah hal yang sederhana.

__ADS_1


Mereka berdua tenggelam dalam keadaan keragu-raguan saat berfikir mengukur dalamnya kekuatan Benteng Tua Leluhur.


"Aku tidak akan pernah melupakan kejadian ini seumur hidup." Seorang pengamat berkata.


Statemen ini segera dibenarkan oleh seluruh ahli yang turut menyaksikan pemusnahan Yue Chu beserta 800 pasukan elitnya. Sebuah pemusnahan instan yang terjadi hanya sekejap mata.


"Benar-benar pembantaian sepihak. Mansion memang benar-benar tidak dapat dianggap enteng." Seorang ahli senior menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Guru, Lihat ada seseorang jatuh dari langit." Seorang murid berseru lantang.


Segera semua kerumuman memfokuskan mereka pada titik hitam bergerak jatuh menerobos awan merah. Memang benar itu adalah seseorang, namun dia sudah menjadi mayat..


Saat semua pengamat masih dalam keadaan fokus memperhatikan. Seorang ahli berteriak.


"Aku melihat satu lagi jatuh...."


"Ah, Tidak lihat di sebelahnya. Aku melihat dua..."


"Aku melihat ada 4, tidak 12 sekarang...."


"Astaga, 21 orang....."


"INNNN IIIINNNNNNNIIIIIIIIIIIIIIIII......"


Dari awan merah yang sangat pekat. Dengan kilat kuning dan gemuruh guntur menggema bersahutan. Langit mengirimkan kepada bumi hujan, di mana semua makhluk yang melihat pada pagi ini tidak akan bisa melupakannya.


Satu persatu tubuh manusia mati menerobos awan merah dan kemudian jatuh ke bumi.


Semula mereka semua melihat hanya beberapa mayat saja. Namun beberapa lama kemudian hujan mayat dari gerimis menjadi hujan lebat. Kini puluhan hingga ratusan mayat jatuh dari langit. Terus menerus hingga ribuan.


Gemuruh guntur makin lantang bunyinya.


Mayat jatuh dalam keadaan memprihatinkan. Mereka mati karena luka bakar yang hebat atau karena efek ledakan yang kuat. Beberapa jasad masih utuh namun sebagian lagi menyaksikan banyak jasad yang tidak utuh.


Para pengungsi pun merasakan ngeri dengan pemandangan hujan mayat di langit utara. Para orang tua segera menutupi mata anak-anak mereka.


"INNNNN IIIIIINNNNNNNIIIIIIII........"


"Lihat ada bangunan runtuh dari awan merah !" Seorang pengamat berteriak.


Sebuah atap pagoda muncul dari awan merah, bergerak pelan menembus awan yang disertai kilat kuning. Pagoda terus muncul lebih jelas hingga semua orang dapat menyaksikan. Pagoda yang terpotong menjadi dua.


Pagoda akhirnya jatuh ke tanah disertai bunyi debam yang keras.

__ADS_1


"Astaga itu pagoda yang menjadi maskot Sekte Tiga Jubah Kebenaran di dunia kedua. Astaga !!! Mansion Tua Leluhur telah menjatuhkan mereka." Pengamat lain juga berteriak.


"APAAA...? Jadi kali ini mereka berhadapan dengan sekte itu ?" Seorang tetua terkejut.


Ini bukan main-main, Sekte Tiga Jubah Kebenaran adalah salah satu sekte terkuat di dunia kedua. Mereka mendominasi seperempat dari wilayah keseluruhan dunia kedua.


Di tengah rasa shock para pengamat. Bangunan demi bangunan mulai jatuh dari awan merah. Aula utama, bangsal-bangsal, pepohonan, binatang buas sekte, bongkahan tanah dan lain-lain.


Mansion telah membuka kembali perisainya, para pengamat kini bisa melihat dengan jelas meriam besar yang telah meluluhlantahkan sekte agung.


Fang Yi mengamati semuanya di atas moncong meriam besar. Bendera putih di sebelahnya masih mengibarkan gambar monyet berpantat dengan sangat arogan.


Duo Watcher menyaksikan dengan tanpa sadar membuka mulut mereka. Mereka juga sangat tertegun dengan kekuatan artileri besar di depan mereka saat ini.


"Pak Tua Shi, Apa maksud dari semua ini ?" Watcher yang memiliki pipi tirus tergagap.


"Ini adalah akibat dari sebuah kesombongan, sayangnya mereka salah memilih sasaran." Pak Tua Shi menghela nafas.


"Kalian semua sampai acara kami selesai, jangan pernah berani-berani meninggalkan mansion. Ketika kalian keluar area, aku tak akan bisa menjamin keselamatan kalian berdua." Pak Tua Shi menambahkan.


Kedua Watcher diam dengan kepala menunduk. Bahkan ahli sekelas mereka pun dilarang berbuat seenaknya saat berada dalam cakupan area mansion. Mereka harus patuh.


Seperti apa rupa tuan mansion ini, sejauh apa kekuatannya. Mereka berdua terus tenggelam dalam pikiran ini.


Di kerumunan pengungsi.


"Pak Tua Kipas, ucapanmu benar... Aku tidak menyangka kiamat besar terjadi pada pihak Yue Chu." Pria Tambun berkata.


"Benar, Aku telah melihat dengan mata kepalaku sendiri." Pak Tua Kipas menjawab.


Xin Long yang menyandarkan diri di bawah pohon mendongakkan kepalanya melihat langit utara.


Dengan tatapan kosong dia melihat puing-puing bangunan sektenya dan bongkahan tanah terus menerus jatuh dari awan merah. Mayat-mayat pun juga masih turut jatuh menyertainya.


Dia menggenggam batu komunikasi di tangannya. Batu masih berpendar-pendar dengan cahaya lemah menunjukkan Xin Long baru saja mengirim pesan pada seseorang di tempat yang jauh.


Sayangnya, beberapa saat kemudian sebuah gumpalan putih besar berjalan melenggak-lenggok menghampiri dirinya. Sebuah paruh yang sangat besar membuka lebar ke arahnya.


Dia tak bisa berbuat apa-apa lagi sekarang. Hanya bisa pasrah pada nasib.


Putra Patriark Klan Xin beserta Sekte Tiga Jubah Kebenaran telah mengalami pemusnahan.


Hari ini semua orang mencatat dengan baik di kepala mereka semua bahwa Mansion Tua Leluhur memberi sebuah konsekuensi nyata atas segala tindakan yang mencemarkan keagungannya.

__ADS_1


__ADS_2