Legenda Raja Abadi

Legenda Raja Abadi
Pedang Berat


__ADS_3

Ledakan bergemuruh dari arah mansion patriark sekte. Puing puing bangunan bertebaran ke mana mana.


Suara bangunan roboh beruntun terdengar diiringi kilatan kilatan cahaya pedang yang mewarnai langit gelap di malam hari.


Tetua tetua yang berada di barisan depan berhadapan dengan Tiga Gou hanyaa bisa saling pandang dan berdiskusi mentransmisikan suara. Beberapa dari mereka ingin terbang menuju sumber keributan. Namun sayangnya geraman Gou mengintimidasi mereka untuk tetap tinggal di tempat.


Ya benar, patriark sedang dikeroyok oleh Ni Guanlong, Ni Lokong dan Ni Feng.


Meskipun patriark terluka parah dengan satu lengannya terputus, dia masih bisa mengimbangi gerakan gerakan.


Tiga Ni melawan dengan sekuat tenaga mereka untuk terus memojokkan patriark.


Kondisi murid semakin down lagi saat beberapa diantara mereka membisikkan pemberontakan yang terjadi. Mereka ingin sekali melarikan diri dan menyelamatkan jiwa sendiri. Dalam kondisi seperti ini yang paling masuk akal adalah tetap hidup.


“Adakah kalian yang berani maju ?” Chen Dewei memecah kebekuan di lapangan utama.


Suara yang jelas namun tak sia pun ada yang menjawabnya dalam kurun waktu yang lama.


Suara dentuman pertempuran patriark masih terdengar sesekali. Mengisyaratkan ada bengunan besar yang roboh.


“Apakah gila kita melawan anjing monster ini ?” Salah satu tetua berbisik.


“Aku merasa sudah mati saat mulai berdiri di sini.” Lainnya membalas.


“Apakah leluhur kita sudah muncul ?” Dia kembali mengidentifikasi.


“Mengingat status yang demikian ini mestinya leluhur bersiap untuk membasmi monster anjing ini.” Meskipun tidak tenang tetua ini memiliki rasa percaya diri yang tinggi akan kemunculan leluhur.


Leluhur akan fokus pada serangan dari luar. Mereka mengintai di suatu tempat untuk membuat gerakan yang tepat ada waktunya.


Sedangkan untuk urusan pertikaian patriark dengan tetua pertama. Mereka tidak mengindahkan sama sekali. Bagaimana pun urusan internal tidak menjadi ranah campur tangan mereka.

__ADS_1


Dan juga sudah menjadi sejarah Sekte Pedang Bumi bahwa tampuk patriark diperoleh dengan darah. Maka perebutan kekuasaan demikian sudah bisa dibilang lazim.


Dua kubu masih berhadapan dalam keadaan stuck. Hingga debammm seorang pemuda dengan senjata besar di punggungnya muncul di antara dua pihak berhadapan.


Debu yang tebal akhirnya menunjukkan sosok pemuda tampan yang sebaya dengan Chen Dewei dan Jing Jun.


Pemuda tampan menghunuskan pedang besarnya ke arah Chen Dewei dan Jing Jun dengan sangat mudah seperti mengangkat kapas.


IIIIINNNN IIINNNNNIIIIIIIIIIIIIIIII…………..


IIIIINNNN IIINNNNNIIIIIIIIIIIIIIIII…………..


IIIIINNNN IIINNNNNIIIIIIIIIIIIIIIII…………..


Senjata dengan tubuh ramping pemuda itu terlihat sangat kontras, namun auranya menyatu dengan sempurna. Sebagian besar murid Sekte Pedang Bumi dan tetua mengambil langkah mundur untuk memberi ruang pada pemuda tampan.


Tiga Gou merespon ancaman pemuda tampan dengan menggeram dan menyalak dengan suara yang menyerupai ledakan besar. Membuat murid-murid berhamburan seperti debu ke udara.


Tak lama kemudian Tiga Gou kembali menjadi tenang setelah terdengar suara lonceng kecil terdengar dari atap menara tinggi. Hadirin menatap seorang pria tua sedang berdiri di atas pucuk menara.


“Tetua utama Sekte Pedang Nirwana.” Tetua Sekte Pedang Bumi bersorak dalam hati. Mentalitas dan rasa optimis kembali melambungkan dada mereka.


“Apa keberadaan yang mampu menahan tiga monster raksasa immortal ini?” Pengamat tertegun.


“Ada langit yang lebih tinggi, dan langit itu datang.” Pengamat Tua menimpali.


“Mereka adalah orang orang dari Sekte Pedang Nirwana, Dunia Keenam.” Pengamat tua membuka fakta.


IIIIINNNN IIINNNNNIIIIIIIIIIIIIIIII…………..


IIIIINNNN IIINNNNNIIIIIIIIIIIIIIIII…………..

__ADS_1


IIIIINNNN IIINNNNNIIIIIIIIIIIIIIIII…………..


“Bagaimana bisa?” Pengamat lainnya kaget dan shock berat. Mereka menyorot dengan tajam pada leluhur tua. Hingga dia akhirnya menghela nafas panjang.


“Baiklah, akan kuceritakan. Ini adalah kisah yang panjang yang terjadi di masa yang terlupakan… Itu adalah Sekte Pedang Bumi dan Sekte Pedang Nirwana.” Leluhur tua memulai bercerita.


Sementara masih dalam keadaan pedang terhunus, pemuda tampan membuat cibiran dan menantang langsung Chen Dewei dan Jing Jun.


“Orang Benteng Tua Leluhur huh? Apakah kalian mewakili kesombongannya ?” Pemuda tampan menyeringai.


Baik Chen Dewei maupun Jing Jun tidak membelas dengan ucapan. Mereka menghunuskan pula pedang ke arah pemuda tampan.


Chen Dewei melambaikan pedang bambu yang berwarna hitam legam. Melambangkan sifat dinamis dan flesibel.


Sedangkan Jing Jun menghunuskan pedang dengan bilah lurus dan panjang dengan kesan sederhana dan jujur apa adanya.


Sebuah sabetan dari pedang besar menyilaukan semua mata yang menyaksikan. Pemuda tampan melakukan salto di udara dan menghempaskan kekuatan ledakan besar yang menyebabkan Chen Dewei dan Jing Jun harus menghindar secara terpisah.


Debu yang beterbangan segera ditepis oleh kilatan cahaya hitam dari pedang bambu Chen Dewei.


Pemuda tampan tak kesulitan memainkan pedang yang beratnya berkali-kali lipat dari bobot tubuhnya. Dia memiringkan pedang besar sembari menyembunyikan diri di baliknya.


Clankkk…


Tebasan Chen Dewei membubarkan debu. Menampakkan sosok pemuda tampan yang menggunakan pedang besar sebagai perisainya.


Sebuah tusukan lurus yang sederhana memasuki ruang pemuda tampan. Serangan Jing Jun sesaat setelah tumbukan serangan Chen Dewei terjadi.


Pemuda dengan kaki memutar sekaligus memelintir pedang besarnya untuk menepis tusukan pedang Jing Jun. sekaligus melakukan sebuah gerakan salto memutar di udara dengan lepasan sabetan pedang berat ke arah Jing Jun dan Chen Dewei.


Jing Jun yang berada lebih dekat dari pemuda tampan merasakan serangan ini mampu memotong pinggangnya menjadi dua.

__ADS_1


Namun serangan pedang besar dengan momentumnya yang gila seperti ini bukanlah sesuatu yang secara bodoh harus ditangkis begitu saja.


__ADS_2