
Angin yang sepoi, udara yang dingin berhembus mengubah situasi dalam kedai menuju sebuah tempat yang sangat sederhana. Beberapa bangunan pondok dan sebuah kuil.
Di tepi telaga yang luas dan sisi pepohonan yang rimbun.
Langit yang terbelah menunjukkan sosok pohon raksasa yang bergoyang. Daunnya bergemerisik dengan suara khas gesekan yang lembut.
Akar akar gantungnya melambai lambai menarik berbagai macam hukum dao dari alam semesta. Kehadirannya bagaikan sebuah lanscap keagungan sura itu sendiri.
Tidak memberikan tekanan namun memberikan kedamaian hingga lubuk jiwa yang terdalam. Mengisi kekosongan kekosongan dalam hati, menyejukkan pikiran dan membawa udara yang menyegarkan jasmani.
Pak Tua Mu Tou lemas kedua kakinya. Kedua matanya berurai air mata dengan sangat deras. Dia meraung dan menangis dengan sangat keras seperti anak kecil.
“Bapa... Bapa....” Dia berkali kali sujud hingga berdarah.
Dia khusyuk bersujud dalam waktu yng sangat lama hingga akal sehat dan ketenangan kembali menguasai dirinya. Mao Yu perlahan mendekati.
“Tinggal di sini bersama seluruh kaummu hingga pulih seluruh kekuatan dan vitalitas kalian. Kemudian aku akan memberimu lahan permukiman yang aman dan tenteram.”
“Di mana ini?” Pak Tua Mu Tou heran dan kebingungan.
“Bagian terdalam Benteng Tua Leluhur, rumahku.”
__ADS_1
INNNNNNNNIIIIIIIIIIIIIIIII.............
INNNNNNNNIIIIIIIIIIIIIIIII.............
INNNNNNNNIIIIIIIIIIIIIIIII.............
Pak Tua Mu Tou Pingsan.
Pohon willow raksasa milik Mao Yu telah mulai bertransformasi menjadi pohon dunia dengan akar rohani yang terus menerus menyebar ke ke seluruh belahan dunia di alam semesta.
Bagi ras trent, keberadaan pohon dunia adalah surga itu sendiri. Mereka tidak memerlukan apa pun. Hanya berada di sekitarnya mereka akan berkultivasi secara alami berdasarkan kuatnya afinitas dan ikatan bagi sesama elemen kayu.
Berkah yang tak ada nilai harganya bagi ras trent di dunia mana pun bisa bersanding secara langsung dengan Bapa Suci mereka. Ini akan memungkinkan kaum trent yang nelangsa di dunia kelima mendapatkan kembali kepada kejayaannya. Bahkan melampaui leluhur dari asal usul mereka berada.
Sebagai ras yang menjadi sekutu ras jiwa. Bangsa trent kala itu menjadi benteng hidup di bagian paling depan dalam pembelaanya terhadap ras jiwa.
Dia menyaksikan bagaimana darah darah berwarna hijau tua milik bangsanya menggenangi parit parit di medan peperangan. Suara suara teriakan perang yang heroik menggema hingga menggetarkan lagit surga tenggara.
Dia juga melihat bagaimana leluhur mereka jatuh berguguran satu per satu saat berhadapan dengan sekutu musuh.
Tak satu pun leluhurnya berbalik badan atau bahkan melangkah satu jejak ke belakang. Keberanian mereka mengantarkan langkah kaki hanya ke depan untuk menyambut dan mambasuh pusaka di tangan dengan darah musuh.
__ADS_1
Pohon dunia hanya ada satu di alam semesta yaitu berada di pemukiman terdalam ras jiwa kala itu. Pemusnahan pohon ini berlangsung beberapa milenium setelah jatuhnya ras jiwa. Demi Bapa dengan segala kesuciannya, pohon ini telah tumbuh kembali di dunia terpencil yang terisolasi.
Pak Tua Mu Tou sayup sayup kembali pada kesadarannya, dia membuka mata.
“Berkah seluruh masa, berkah seluruh alam semesta. Kami ras trent sangat dimuliakan dengan kemurahan hati anda tuanku.” Pak Tua Mu Tou bersujud pada Mao Yu.
Pantas saja selama pertemuan dengan Mao Yu dia tidak bisa mengukur kedalaman pemuda ini. Setiap kesadaran yang dilepaskan bagai jatuh ke dalam samudra tak memiliki dasar.
Bahkan saat pertarungan dengan Mao Yu. Rasa bahaya yang bersumber dari nalurinya tak henti hentinya terus menyala dengan warna yang sangat tajam bahkan tak ada redupnya sama sekali.
Dia melawan seseorang dari ras jiwa. Ras di mana leluhurnya dahulu hidup untuk mengabdi dengan seluruh jiwa dan raga.
“Hamba telah lancang, tolong hukum hamba.”
“Tidak ada hukuman, kalian adalah tangan kanan bangsaku. Aku sangat bersyukur dapat menemukan kalian. Sudah menjadi kewajibanku menguatkan kembali kaki kaki kalian.”
“TUANKU...” Pak Tua Mu Tou menangis tersedu sedu.
Pertemuan ini adalam momen sangat berharga bagi seorang trent ketika menghadap kembali tuannya. Dada Pak Tua Mu Tou dipenuhi sukacita dan kebanggan diri yang melambung. Identitas sebagai bangsa pohon kembali mendapatkan legitimasinya setelah bertemu dengan Mao Yu dan bersanding kembali dengan Bapa Suci.
“Aku akan mengatur pemindahan kalian. Prioritas utama adalah mengembalikan vitalitas kalian sebelum melangkah lebih jauh.” Mao Yu menyampaikan petunjuk yang disambut persetujuan langsung oleh Pak Tua Mu Tou.
__ADS_1
“Kalian sangat setia dan sangat loyal. Mulai saat ini hingga masa depan aku tidak akan menyia-nyiakan kalian.” Mao Yu bersumpah.
“TUAN...”