Legenda Raja Abadi

Legenda Raja Abadi
Mata


__ADS_3

Selain dibasmi oleh squad pemanah Fang Yi. Tiga Gou menerkam, menerjang, mencakar dan menelan siapa pun prajurit Sekte Api Phoenix yang berkeliaran di hutan-hutan.


Prajurit ini bertugas untuk memata-matai dan mengamati keadaan sekitar. Terlebih pergerakan Klan Wang.


Seseorang dari tribun pengamat berbicara melalui token giok komunikasi. Pandangannya serius, nadanya cepat. Penuh antisipasi yang tinggi.


“Jadi begitu...” Komandan utama Sekte Api Phoenix meletakkan gelas kristalnya di atas meja hingga menimbulkan suara yang cukup keras.


Sebagai strategist yang tidak bodoh, komandan utama banyak menmpatkan mata-mata pribadinya berbaur dengan pengamat sipil.


“Tetua ke-29 tewas bersama pasukan pribadinya... Puteri Sekte Api Phoenix, Gadis Api berpihak pada musuh baru ini...” dia menggumam.


“Gadis Api... Hmmm,” Dia pun tersenyum sinis.


Sementara tetua lainnya di camp Sekte Api Phoenix tak mau lagi berbicara dengan komandan utama. Percuma bicara dengan orang yang memiliki arogansi tinggi.


Mereka hanya berdiri di luar tenda utama. Menunggu perintah untuk bergerak.


Matahari mulai menunjukkan rasa hangatnya di pagi hari yang sangat cerah ini.


Awan tipis membentuk spiral di atas camp pasukan Sekte Api Phoenix menunjukkan bahwa udara telah bergerak berpusar di camp tersebut.


Burung-burung hitam dengan paruh panjang dengan dupa tebal di punggungnya sedikit mendekat menuju camp Sekte Api Phoenix.


Asap dupa seperti diarahkan pada tujuan tertentu. Ya benar, asap dibimbing oleh udara yang bergerak dengan sangat halus menuju Sekte Api Phoenix.


Asap yang tak berbentuk dan berwarna membaur bersama udara kemudian dengan perlahan berputar-putar di seluruh camp Sekte Api Phoenix. Dihirup oleh semua prajurit.


“Turunkan pandangan! Kalian sangat mencurigakan.” Salah satu komandan kecil Sekte Api Phoenix menghadang rombongan burung hitam.


Namun tak ada jawaban di balik kostum jubah burung. Mereka hanya bergoyang-goyang ke kiri dan ke kanan.


Bisa dibilang keadaan ini seperti meledek.

__ADS_1


“Bah, jangan salahkan kami kalau menghukum kalian dengan kematian.” Komandan kecil Sekte Api Phoenix meraung dengan kemarahan.


Di tangan kanannya telah terhunus pedang dengan bilah hitam yang mengkilat.


Bzzzzzztttt.....


Sebuah bola dilempar di dekat komandan kecil. Bola sebesar buah apel ini meledak tanpa suara menciptakan asap biru muda yang dengan cepat mengenai komandan kecil dan kompinya.


AAAAAGGGGHHHHHH............


Komandan utama dan kompinya mencakar-cakar wajah dan seluruh tubuh. Mereka merasakan sesuatu seperti ribuan serangga kecil masuk melalui pori-pori.


Kemudia mereka berteriak dengan lantang. Merasakan daging seperti digerus dari dalam hingga dilepaskan dari tulangnya. Mereka makin menjadi menggaruk garuk hingga kulit mereka tampak sangat memprihatinkan.


Plurukk...


Plurukk...


Plurukk...


IIIIIINNNNNN IIIIINNNNNNIIIIIIIIIIIIIIIIII...........


Pengamat menyaksikan sendiri pembasmian dengan metode yang sangat mudah.


Pertama, rombongan yang melakukan bunuh diri di depan pria paruh baya.


Kedua, rombongan yang menjadi jelly di hadapan manusia berjubah burung hitam.


Siapakah mereka?


Para pengamat lantas berspekulasi dengan segala macam pendapat diutarakan. Sebagian mengatakan mereka adalah pendukung Klan Wang. Sebagian lagi mengatakan mereka adalah pihak lama yang menjadi musuh Sekte Api Phoenix sebelumnya.


“Apakah Sekte Api Phoenix diuntungkan pada pertempuran ini?” Pengamat senior bertanya pada leluhur.

__ADS_1


“Kekalahan dua babak sebelum peperangan utama. Ini adalah pukulan bagi Sekte Api Phoenix.” Leluhur menjawab.


“Apakah ada pihak lain yang tersembunyi selain dua kelompok yang sudah terlihat?” Pengamat senior memandang sisi lain di sekitar camp Sekte Api Phoenix.


“Sangat mungkin. Ini adalah pertempuran, apa pun bisa terjadi dan apa pun mungkin terjadi.” Leluhur menegaskan.


“Tetua ke-30 yang menjadi primadona Sekte Api Phoenix belakangan ini adalah komandan utamanya. Aku pernah sekali bertarung dengannya, dia sangat berbakat. Aku harus mengakui bahwa sangat kewalahan aku menahan langkahnya.” Pengamat senior mereview ulang.


“Masih muda? Berbakat? Jika dia diberkati dengan kebijaksanaan pada usianya kini. Angin akan berpihak kepadanya.” Leluhur menghela nafas.


Pengamat senior memandang leluhurnya. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya.


“Sayangnya tidak, dia sangat arogan.” Pengamat senior menyayangkan.


Sembilan tetua dalam barisan prajurit Sekte Api Phoenix. Satu menjadi komandan utama, delapan komandan batalion dan satu komandan tewas di hadapan Li Hua.


Fang Yi menyiapkan depan anak panah yang serupa digunakannya untuk membunuh tetua ketiga Sekte Api Phoenix di sekte pemandangan.


“Sasaran kalian adalah komandan kecil, adapun prajurit lain yang kabur menuju hutan adalah tanggung jawab Tiga Gou. Ini adalah tugas terakhir kita.” Fang Yi berbicara dengan squadnya.


Anggota squadnya menjawab dalam keheningan. Mereka menjawab dengan melepaskan busur dari punggung untuk posisi siaga tembak.


“Akan dimulai...” Li Hua bergumam.


Camp Sekte Api Phoenix, tenda prajurit.


“Bro, kamu sakit mata? Kulihat memerah dan sedikit ruam pada kantung matamu...”


“Benarkah? Aku merasa baik baik saja.” Dia mengucek mata, memastikan memang baik-baik saja. Berfungsi dengan normal dengan penglihatan yang masih jelas seperti biasanya.


“Ah, aku pun melihat matamu sedikit memerah dan seperti ada memar sedikit di kelopak matamu...”


“Ah, benarkah?” dia mengedipkan matanya berulang kali.

__ADS_1


Baik-baik saja.


__ADS_2