Legenda Raja Abadi

Legenda Raja Abadi
Pemicu Dinyalakan


__ADS_3

UUUURRRRRRRRAAAAAAAAAAAA……………


UUUURRRRRRRRAAAAAAAAAAAA……………


UUUURRRRRRRRAAAAAAAAAAAA……………


Ratusan ribu murid Sekte Pedang Bumi bersorak nyaring dengan semangat membara. Menantikan perintah kepala sekte untuk menyerbu.


Beberapa murid berspekulasi mereka akan menyerang Klan Wang, beberapa menjurus ke Sekte Api Phoenix sisanya dengan tegas berkehendak ingin menusuk langsung sarang lebah di Danau Perak.


“Ini merupakan gerakan besar Sekte Pedang Bumi setelah sekian generasi.” Murid tertua berkata dengan antusias.


Murid di sekitarnya pun mengangguk.


Mungkin di antara banyak dari mereka, atau hampir bisa dikatakan mayoritas tidak mengalami di mana Sekte Pedang Bumi berkubang dalam peperangan skala besar. Mereka hanya mendengar cerita dari berbagai versi yang kemungkinan sangat menyimpang dari kisah sebenarnya.


Mereka tenggelam dalam euforia kisah heroik yang kaya akan micin.


Sangat mengagumkan! Dada mereka bergetarseolah mereka adalah veteran yang siap mambasuh nama mereka dalam kemuliaan peperangan.


Pengamat dan ahli beterbangan seperti burung kondor melihat bangkai kerbau tergeletak. Mereka datang dari segala penjuru untuk menyaksikan tontonan gratis.


Dalam dunia kultivasi hal-hal seperti ini amat jarang terjadi. Kemungkinan terjadi dalam beberapa generasi. Mengingat dunia keempat dihebohkan dengan gerakan gerakan besar yang cukup mengguncang.


Para pengamat ini tidak mau ketinggalan satu pun kisah marathon yang terus menerus mengubah peta kekuatan wilayah besar dunia keempat ini.


Mereka saling berdiskusi dengan spekulasi-spekulasi, baik pendapat masuk akal maupun pendapat liar. Mereka berdengung seperti suara serangga.


Seperti menyiram bara dengan air es, kemunculan Chen Dewei dan Jing Jun di hadapan ratusan ribu murid membuat para hooligan Sekte Pedang Bumi terdiam sesaat.


Mata mereka terkunci dengan hati yang menggeram.

__ADS_1


Mereka tak melupakan kedua orang ini beberapa bulan lalu menantang para murid elit Sekte Pedang Bumi, membuat mereka kalah telak hingga terpaksa harus berlutut.


Ingatan yang masih segar di kalangan murid Sekte Pedang Bumi. Kewaspadaan di tengah lautan keheningan.


Hanya jubah putih kedua murid muda Benteng Tua Leluhur yang berkibar dengan gagah menantang ratusan ribu murid Sekte Pedang Bumi. Inilah yang dilihat pengamat dari kejauhan.


“Amat gila !!!” Seorang pengamat mengumpat dengan keras.


“Tua Wu, Apakah setelan pita suaramu rusak. Aku hampir tuli mendengar umpatanmu!” Pengamat di sekitarnya mengutuk pria tambun dengan jenggot lebat di wajahnya.


“Bukankah kedua pemuda itu penantang murid Sekte Pedang Bumi beberapa bulan yang lalu? Kini mereka muncul untuk menghadapi seluruh murid.”


“Apakah ini gertakan? Atau mereka menyembunyikan ahli di belakang mereka?”


Murid Sekte Pedang Bumi sementara terhenyak sesaat namun rasa percaya diri kembali menguasai diri mereka.


Dari pihak lawan secara kasat mata jelas kalah jumlah dibandingkan dengan ratusan murid Sekte Pedang Bumi.


Mereka memelototi Chen Dewei dan Jing Jun dengan tatapan sengit permusuhan. Meskipun begitu banyaknya jumlah di sisi mereka tidak menumbuhkan sedikit keberanian untuk menyerbu.


“Chen Dewei, apakah kita hanya akan tampil begini saja. Terus terang aku merasa khawatir.” Jing Jun tambah gelisah.


“Mestinya kita aman. Mustahil Paman Li Hua memerintahkan kita berdua terjun ke lautan api sendirian.” Chen Dewei berusaha menengkan diri.


Meskipun mereka berdua memiliki kepercayaan diri. Sekali lagi jumlah musuh sedemikian banyak akan jelas memberikan kerepotan.


“Sampai kapan kita akan berdiri di sini? Apakah kamu ada teks untuk dibaca atau diserukan kepada mereka?” Chen Dewei melirik Jing Jun.


“Ada… Tapi…” Jing Jun menoleh ke arah Chen Dewei. Matanya merebak merah, dia dalam emosi yang tidak bisa dijelaskan.


“Kalau begitu teriakkan saja.” Chen Dewei menggertak Jing Jun.

__ADS_1


Setelah mengambil nafas dalam-dalam berkali kali akhirnya Jing Jun menemukan rasa kemantapan dalam hatinya.


Dia mengambil nafas di dada sebanyak-banyaknya untuk melantangkan suaranya.


“KALIAN SEMUA MENYERAH DAN TUNDUK KEPADA BENTENG, ATAU MATI !!!” Jing Jun kehabisan nafas di akhir kalimatnya.


Suara lantang menggema di seluruh alun-alun Sekte Pedang Bumi, suara terus memantul di antara bangunan-bangunan tinggi.


Bahkah para tikus yang bersembunyi di loteng terdalam ruang harta pun bisa mendengar.


IIIIINNNN IIINNNNNIIIIIIIIIIIIIIIII…………..


IIIIINNNN IIINNNNNIIIIIIIIIIIIIIIII…………..


IIIIINNNN IIINNNNNIIIIIIIIIIIIIIIII…………..


“Gaya khas Benteng Tua Leluhur. Mereka langsung menusuk pada intinya.” Pengamat tua berkata.


Sorak sorai kemarahan seluruh murid memancarkan aura kebengisan dan kebencian yang mendalam. Tekanan dari aura pembunuh seluruh murid dapat disandingkan setara dengan seorang immortal.


Beberapa pengamat yang lemah terpaksa harus menelan darah dari tenggorokan mereka, mengambil jalur mundur beberapa mil dan menelan obat pemulihan.


Beberapa pengamat muda yang beruntung mendapatkan perlindungan dari tetuanya.


“SERBUUU !!!!!”


“SERAAANG !!!”


Murid Sekte Pedang Bumi menghunus pedangnya dengan sorot mata kalap ke arah Jing Jun dan Chen Dewei.


Jing Jun “ … “

__ADS_1


Chen Dewei “ … “


Mereka saling memandang dan menelan ludah.


__ADS_2